LIKU-LIKU MENGURUS RESIDEN VISA WAKTU ITU

Membuat Visit Visa

Putriku yang sedang kuliah di University of Washington Seattle, Amerika Serikat akan memasuki libur musim panas selama 3 bulan. Ini merupakan liburan pertamanya setelah hampir satu tahun kuliah di sana. Ia berencana akan singgah di Abu Dhabi sebelum ke Indonesia bersama Ibu dan Adiknya yang masih duduk di kelas 11.

Dua minggu sebelum liburnya dimulai pada awal pertengahan tahun 2011 ini, aku mulai mengurus surat-surat untuk mengajukan permohonan pembuatan visa kunjungan (visit visa) putriku ke Abu Dhabi. Aku mulai meminta surat pengantar dari perusahaan di mana aku bekerja yang berisi utamanya menerangkan tentang jumlah gaji  yang aku terima setiap bulannya yang dialamatkan kepada Kantor Imigrasi Abu Dhabi. Sebagai persyaratan lain untuk mengajukan permohonan ini aku meminta foto berwarna putriku yang terbaru dan berlatar belakang putih ukuran 4x6 centimeter. Aku persiapkan uang juga apabila diperlukan. Serta aku siapkan fotokopi paspor putri dan fotokopi pasporku sebagai sponsor untuk kedatangannya. Akte kelahirannya yang sudah aku terjemahkan kedalam Bahasa Arab dan Ingris sejak beberapa tahun lalu tepatnya 17 tahun lalu juga aku lampirkan. Seluruh dokumen yang telah aku persiapkan aku bawa ke Biro Pengetikan, dekat rumahku daerah Hamdan Street. Semua Biro Pengetikan di Abu Dhabi harus mempunyai ijin dari Kotapraja setempat..

Semua dari tiga pegawai dalam Kantor Biro Pengetikan yang aku masuki ini kelihatannya berasal dari Asia Selatan. Salah seorang dengan bahasa Ingris yang agak susah aku mengerti memandangi dan mempersilahkan aku duduk. Dua orang lainnya juga sibuk dengan pekerjaannya sendiri, yaitu satu orang pegawai sibuk menghadapi pekejaan dengan mesin fotokopi, dan yang satunya lagi sedang mengetik pada komputer membelakangi orang yang melayani aku. Aku serahkan dokumen yang telah aku persiapkan sambil aku katakan maksud kedatanganku. Sejenak dokumenku ia buka dan diperiksa lembar-demi-lembar, kemudian ia memulai melakukan sesuatu di komputernya. Lalu ia bertanya sebelum memulai mengetik, 'apakah orang yang akan diajukan visit visa-nya ini nantinya akan dibuatkan resident visa (ijin tinggal/iqomah) atau hanya berkunjung saja kemudian keluar dari Emirates lagi?', aku menjawabnya bahwa, 'Untuk resident visa'. Ia lalu memulai mengetik data yang diperlukan kedalam format applikasi sambil membaca data yang ada pada paspor putriku dan pasporku.

Sambil ia mengetik, ia terkadang mengajukan pertanyaan kepadaku, tentang siapa sponsor kedatangan putriku, siapa ayah dan ibu dari putriku, serta dataku yang dapat dihubungi nanti termasuk nomor telepon, alamat rumah dan alamat surat-menyurat atau nomor P.O Box-ku. Setelah data yang diperlukan selesai ia ketik dalam komputernya, ia lalu memastikan bahwa data yang diketiknya benar dengan membacakan hasilnya kepadaku lalu ia mencetak ke printer yang ada disebelahnya. Lalu aku disuruh memeriksa hasil cetakan dengan seksama kemudian file di dalam komputernya ia simpan dan dikirim ke imigrasi Abu Dhabi melalui internet.

Aku menanyakan tentang apa perbedaan antara visa kunjungan saja dan visa kunjungan untuk visa tinggal. Pada dasarnya sama saja, hanya terletak kepada jumlah biaya yang harus dibayar. Pada visa kunjungan akan dibagi menjadi beberapa kategori yang tergantung kepada durasi kunjungannya, mulai dari satu bulan, dua bulan dan tiga bulan, sedangkan visa tinggal tidak, dihitung pertahun biayanya. Kemudian ketika diajukan untuk pembuatan resident visa harus dilampiri hasil tes kesehatan dan kartu asuransi kesehatan yang masih berlaku di Abu Dhabi. Tetapi perlu dicatat bahwa, walaupun akan mengurus visa tinggal, pada awalnya harus mengurus duli visit visa kecuali untuk memperpanjang visa tinggalnya. Putriku dulu pernah mempunyai visa tinggal namun sudah dinyatakan kadaluarsa apabila selama 6 bulan berturut-turut berada di luar negara ini walaupun tanggalnya masih berlaku. 

Setelah aku bayar biayanya kemudian aku diberi hasil cetak (print out) dari data yang sudah dimasukkan ke dalam formulir dari komputernya. Hasil cetak itu di bagian atas halamannya berlogo burung elang dan ada bar code untuk dibaca secara electronik. Dilampirkan pula dua pass foto putriku, surat keterangan dari perusahaanku, dan fotokopy paspor putriku serta pasporku. Sebelum aku pergi aku bertanya tentang biaya yang harus aku bayar di kantor imigerasi nanti ketika aku mengajukan permohonan ini, ia bilang tidak ada biaya apa-apa lagi, seluruh biaya yang sudah aku bayar sebesar 375 Dirham tadi adalah sebagai biaya pengetikan 60 Dirham, biaya imigrasi 300 Dirham, dan biaya pengiriman melalui pos sebesar 15 Dirham yang sudah dibayar secara online melaui internet. 

Ternyata Biro Pengetikan ini mempunyai password dari kantor Imigerasi Abu Dhabi untuk mengakses di dalam melakukan transaksi pelayanan membuat visa. 

Aku datang pagi sekali ke Kantor Imigrasi Abu Dhabi yang terletak di Jalan nomor 19, maksudku agar aku dapat antri lebih awal, sehingga mendapatkan pelayanan lebih awal pula. 

Kantor Imigrasi akan mulai dibuka tepat pada pukul 7:00 pagi. Aku lihat beberapa orang sedang berdiri di luar pintu utama, sedangkan sebagian pendatang langsung masuk ke dalam kantor saja. Aku langsung saja nyelonong masuk melalui pintu utama seperti sebagian orang yang aku lihat, tiba-tiba seorang penjaga pintu mencegatku dan mengatakan bahwa pengunjung boleh masuk setelah pukul 7:00 nanti. Aku langsung mengatakan maaf, lalu aku perhatikan orang-orang yang sedang memasuki pintu gerbang depanku, ternyata mereka sambil tersenyum kepada petugas jaga dan ada pula sambil menunjukkan kartu tanda pegawai yang dikalungkan melilit lehernya. 

Ketika masuk ke dalam Kantor Imigrasi aku langsung membaca petunjuk-petunjuk yang ada, untuk mengurus visit visa harus masuk ke dalam Kantor sebelah kanan setelah memasuki pintu gerbang. Dibelakang pintu masuk halaman kantor untuk mengurus visit visa duduk seorang penjaga, ia memeriksa dokumen setiap orang yang menghampirinya. Aku bertanya kemana akan aku masukkan permohonan visit visa untuk putri saya ini, iapun memeriksa dokumen yang aku persiapkan untuk dimasukkan ke Kantor Imigrasi kemudian aku diberi nomer antri yang ia ambil dari alat elektronik yang berdiri di sampingnya, lalu ia berkatan dalam bahasa Ingris, "Silahkan duduk di kursi, nanti pergi ke loket di mana nomor antrimu ini dipanggil", "terimakasih" jawabku. 

Aku mencoba melihat sekeliling kantor, aku perhatikan ada tigabelas loket, loket nomor 1 sampai degan loket nomor 10 untuk mengurus visit visa, dan loket nomor 11 dan 12 untuk urusan visit visa permintaan kilat (express), sedangkan loket nomor 13 untuk pembatalan resident visa yang belum dibatalkan ketika meninggalkan negara ini lebih dari 6 bulan kemudian akan berkunjung lagi setelahnya. Karena tanpa membatalkan resident visa yang lama setelah batas waktu pemohon tidak dapat membuat visa kunjungan baru. Itu yang terjadi pada salah seorang temanku, ketika itu ia pulang cuti, kemudian karena suatu hal ia tidak bisa kembali lalu terus menetap di Indonesia tanpa membetalkan resident visa-nya. Suatu hari ia diterima bekerja lagi oleh perusahaan lain dan perusahaan baru yang menerimanya akan mengurus visit visa untuknya. Pihak imigrasi menolaknya dikarenakan status dari temanku di dalam sistem di imigrasi dinyatakan melarikan diri. Dibelakangku masih ada satu loket lagi yang dikunjungi oleh orang perempuan pribumi saja. 

Ketika aku menunggu panggilan aku isi alamat kirimku pada kartu berlambang Kantor Pos yang aku dapatkan dalam keadaan kosong dari Biro Pengetikan tadi. Nomorku dipanggil setelah kira-kira tigapuluhan menit menunggu. Aku memberi salam sebelum aku duduk berhadapan dengan orang perempuan berpakaian serba hitam mulai dari kerudung dan abayaknya yang akan melayani aku dari balik kaca tebal. Aku serahkan bundel dokumen yang sudah begitu sejak dari Biro Pengetikan, kecuali aku buka ketika aku membuat duplikat dengan mesin fotokopy di kantorku. Perempuan di depanku memeriksa secara seksama dokumen yang aku berikan, setelah dianggap lengkap kemudian dia mengambil scanner kecil lalu disapukan pada bar code dokumenku. Setelah dukomen paling atas ia tandatangani dan mencatat nomor yang disalin dari komputernya, lalu ia menyerahkan kepadaku paruh bawah dari kartu kantor pos yang berisi bar code sedangkan paruh atasnya yang berisi alamat kirimku ia tempelkan di atas dokumenku. Lalu ia bilang selesai dan tunggu saja telepon sesuai yang ditulis pada kartu dari Kantor Pos ini kira-kira dalam waktu 3 hari. Aku mengucapkan terimakasih sebelum aku pergi meninggalkan orang perempuan imigrasi ini dan langsung pergi ke kantor untuk melakukan pekerjaan di kantorku hari ini.

Membuat Visa Tinggal (Resident Visa).

Telepon di Blackbarryku berdering, lawan bicaraku suara seorang lelaki berbicara dalam bahasa Ingris yang artinya kira-kira begini, "Selamat sorre pak, apakah aku sedang berbicara dengan Tuan Nasuki?", aku jawab, "Betul", kemudian ia melanjutkan, "Kami dari Kantor Pos, ini ada kiriman untuk anda dan besok pagi dari sekitar pukul 9 sampai dengan siang pukul 14 akan diantar ke alamat Havana Cafe Building Flat No. 1304, jam berapa anda bisa menerimanya?", lalu aku jawab, "Pukul 9 saja, dan yang akan menerima istriku di rumah". Percakapan ditutup setelah ia berkata, "Ok, Sir', "You well come", jawabku.

Barang kiriman dari imigerasi diterima istriku di rumah yang diantar oleh tukang pos. Barang berupa Surat untuk Visit Visa putriku. Aku scan surat itu melalui bantuan sekertaris Manajerku di kantor karena scanner-ku sedang tidak bekerja karena sedang ngadat. Lalu aku kirim melalui email ke putriku agar dicetak dan dibawa ketika berkunjung ke Abu Dhabi nanti.

Putriku akan datang pada tanggal 11 Juli ini. Aku bersama istri dan putraku ke Abu Dhabi
International Air Port untuk menjemput putriku dari Seattle, Amerika. putriku memegang kopian hasil cetak dari surat visit visa-nya. Surat yang asli aku serahkan di loket Bandara Udara Abu Dhabi dekat pintu keluar bandara untuk penumpang yang baru datang. Putriku keluar dengan membawa surat visit visa asli yang sudah distempel oleh pihak pengawas paspor (pasport control) bertuliskan tentang tanggal kedatangan.

Setelah 2 hari tinggal di Abu Dhabi istriku membawa putriku untuk melakukan test kesehatan
di Medical Center Air Port Road dekat dengan Rumah Sakit Sheikh Khalifa. Termasuk yang diperiksa adalah rongsen paru-paru dan pemeriksaan darah, hal yang paling utama diperiksa adalah tentang adanya penyakit menular seperti Tuberculosis (TBC), Hepatitis dan penyakit Aid. Biaya pemeriksaannya adalah 350 Dirham.

Keesokan harinya hasil pemeriksaan sudah siap dan diambil menyatakan bahwa putriku sehat. "Alhamdulillah", pujiku kepada Allah setelah mendengar bahwa putriku dinyatakan sehat.

Hari keempat putriku berada di Abu Dhabi aku mulai mengajukan permohonan untuk resident visa-nya. Aku membawa dokumen seperti apa yang Biro Pengetikan katakan dulu, yaitu paspor asli dan fotocopy halaman muka dan halaman yang ada stempel tanggal masuk melalui Bandara Udara Internasional Abu Dhabi. Juga pasfoto ukuran 4x6 centimeter persegi, fotocopy pasporku, surat dari laboratorium kesehatan Pemerintah Abu Dhabi, dan kartu asuransi kesehatan yang masih berlaku. Kartu asuransi kesehatan putriku asli dan fotocopynya yang masih berlaku sampai dengan bulan Oktober tahun 2011 ini, kartu asuransi putriku ini merupakan jatah dari fasilitas dari kantorku. Kalau aku harus membayar sendiri biaya asuransi kesehatan di Abu Dhabi ini sampai 3000 Dirham.

Aku sampai di kantor imigrasi pada pukul 12:15 siang.. Aku langsung menuju meja pemberi nomor antri. Aku melirik ke dalam ruangan berloket penuh dengan orang yang masih banyak dan belum dipanggil. Semetara aku tidak melihat orang yang menjaga meja nomor antri. Aku bertanya kepada orang yang berada disekitar meja nomor antri dan mereka menjawab tidak tahu, ada yang bilang bahwa penjaganya sedang pergi ke dalam kantor. Aku tetap menunggu sampai aku menatap pada orang yang pernah memberiku nomor antri ketika aku mengajukan permohonan surat visit visa putriku dulu. Aku langsung berkata dalam bahasa Arab bahwa aku membutuhkan nomor antri, ia menjawabku dengan bahasa Ingris, "Besok mulai pukul 7 pagi", lalu aku melanjutkan pertanyaanku karena penasaran dengan bahasa Ingris, "Apakah hari ini nomor antrinya sudah tutup", "Ya", jawabnya singkat sambil berlalu dengan cepat sekali. 

Aku lihat banyak nomor berserakan di atas lantai. Aku lirik semua nomor yang tertera pada kotak nomor di atas loket, lalu aku mencoba mencari nomor yang lebih tinggi nilainya dari yang tertera pada nomor kotak di atas loket. Aku pungut ketika aku menemukannya. Ketika ada panggilan nomor berikutnya seseorang datang menuju loket yang memanggil dengan membawa nomor sesuai yang dipanggil. Nomor itu diminta lalu petugas yang memangil dari dalam loket memeriksa nomor yang diserahkan sebelum meminta dokumen yang dibawa. Aku terkejut begitu petugas itu menolak orang itu karena nomor antri yang diserahkan merupakan nomor untuk pagi hari, setelah dimarahi lalu diperingatkan kalau melakukannya lagi seperti ini, maka suratnya tidak akan diproses. Perasaanku langsung menjadi ciut, nomor antri yang aku pungut dari lantai tadi aku remas-remas lalu aku buang lagi ke lantai. Lalu aku kembali ke kantor untuk melanjutkan kerja. 

Aku datang kembali ke Kantor Imigrasi lebih pagi dari kemarin, khawatir loket antri nomor sudah tutup lagi. Ku dapati pengunjung sudah memenuhi ruangan. Satu petugas loket menunjukkan keramahan dengan menerangkan alasan dokumen orang yang sedang dihadapi ditolak, si pemilik dokumen tetap saja tidak terima sampai ia dihampiri seseorang yang keluar dari ruangan tertutup pintu kaca belakang loket, setelah sedikit berargumentasi akhirnya dokunen diambil dan dibawa keluar ruangan oleh pemiliknya. 

Nomorku muncul pada kotak penunjuk nomer di atas perempuan yang sedang duduk di loket pojok kanan. Aku hampiri loketnya lalu aku duduk setelah aku ucapkan selamat pagi. Aku terangkan tentang maksud kedatanganku bahwa aku ingin membuat resident visa untuk putriku. Ia lalu mengambil dokumenku, setelah ia bolak.balik lalu ia bertanya tentang nomor file. Aku jawab tidak tahu apa itu nomor file. Setelah ia menerangkan lalu ia mengetik data dari dokumenku lalu menulis pada secarik kertas, kemudian seluruh dokumen ia kembalikan kepadaku termasuk secarik kertas yang telah ia tulis. Ia berkata agar aku mengambil nomor file dibagian belakang komplek gedung imigrasi ini dengan menunjukkan catatan pada kertas kecil yang ia tulis ini. 

Aku pergi ke tempat yang diminta oleh perempuan dalam konter tadi. Ketika aku tunjukkan kepada orang yang sedang duduk di belakang meja depan ruangan file, ia lalu menyuruh aku duduk antri
menunggu giliran dari salah satu loket kosong dari 5 loket yang ada. Aku dapat loket dengan meja terima di dekat pintu masuk ruangan file. Aku langsung menunjukkan catatan dalam kertas kecil yang aku bawa dari loket depan, penjaga loket mengambil dokumenku lalu ia meminta aku untuk membayar biaya proses pada loket kasa di dalam sana. Aku kembali ke loket di mana dokumenku disimpan dengan membawa surat bukti pembayaran yang telah aku bayar. Ketika aku berikan lalu penjaga loket mengusapkan scanner kecil yamg dipegangnya pada bar code halaman muka dokumenku. Ia tampak mengetik sesuatu, lalu ia mencetak hasilnya. Setelah aku tunggu sebentar lalu seluruh dokumen ia kembalikan termasuk hasil cetakan yang ia buat, lalu ia berkata agar aku kembali ke loket sebelum aku masuk ruangan ini. 

Waktu sudah melebihi pukul 13, pikiran dan hatiku merasa ragu tentang waktu karena kantor tempat membuat visa tutup pada pukul 14;00. Ku percepat langkahku, lalu langsung aku masuk menuju loket pojok kiri yang sudah ditinggal penjaganya. Aku bertanya pada lelaki berpakaian nasional kondora tentang orang pada loket didepanku ini, ia bilang mungkin sudah pergi, dan sebaiknya aku datang besok pagi saja. Aku kembali ke kantor lagi membawa sedikit kekecewaan karena tidak bisa menyelesaikan urusan visa hari ini.

Aku datang sepagi kemarin aku datang ke Kantor Imigrasi. Aku berharap agar aku mendapatkan loket yang sama dengan loket kemarin karena penjaga yang meminta aku nomor file tetap duduk di dalam loket yang sama. Aku lihat nomor antriku muncul di atas loket yang berbeda dengan kemarin. Lelaki yang duduk di dalamnya sedang sibuk memberesi dokumen di atas sisi meja kerjanya. Aku ucapkan selamat pagi padanya, dengan jawaban senyum darinya lalu aku duduk. Aku mengatakan maksud kedatanganku dan apa yang diminta kemarin oleh penjaga loket lain aku tunjukkan. Ia lalu membolak-balik dokumenku, saat itu perasaanku bilang, "Ayo!, ayo!, itu sudah diperiksa kemarin, itu sudah lengkap", ia lalu membuka komputer di depannya, ia mengetik sesuatu sesaat kadang menengok isi dokumenku. Lalu ia sobek kartu berlogo pos Abu Dhabi dan ia berikan kepadaku paruh bawah sobekannya. Ia lalu memintaku menunggu telepon setelah tiga hari lagi. Aku beranjak dari kursi loket, keluar dan pergi ke kantorku kembali meneruskan pekerjaanku. 

Dan akhirnya aku peroleh resident visa melalui petugas dari kantor pos Abu Dhabi empat hari kemudian.

End

Comments

Popular posts from this blog

SETIAP ORANG AKAN MELALUI MASA KANAK-KANAK

KE EMIRATES DAPAT KERJA BARU

AKU INGIN...