KE EMIRATES DAPAT KERJA BARU
Tidak Ingin Pindah Dari Surabaya
Ketika sedang mengobrol santai menghabiskan sisa waktu istirahat makan siang bersama rekan kerja di Direktorat Teknologi, PT. Pal Indonesia, seorang teman kantor dari sejak aku kuliah mengabarkan bahwa ada lowongan kerja di United Arab Emirates untuk tenaga ahli perkapalan, dan ujian seleksinya akan diadakan dalam waktu dekat ini di Hotel Sahid Surabaya (SS). Ada seseorang yang kemudian berkelakar; 'Wah...nanti ketika merawat kapalnya Sheikh akan dapat melihat isterinya, dan bisa-bisa lupa akan kapal yang akan dirawatnya', seluruh teman termasuk aku yang mendengarkan kelakar itu yang sama-sama sedang mngobrol tentang peluang ini langsung tertawa dan ada pula yang tersenyum.
Saat itu aku tidak tahu apa arti seorang Sheikh di Emirates ini. Setelah mengenal, mereka merupakan sosok yang sangat dihormati oleh penduduknya, mereka merupakan keturunan keluarga Raja-raja di Emirates dan yang mengelola hampir seluruh kegiatan Negara. Setelah aku hidup di Emirates dalam beberapa waktu rasanya aku ingin memeinta maaf kepada para Sheikh yang pernah aku dengar dan tertawa karena dikelakarkan dulu disebabkan tak seorangpun mengetahuinya.
Banyak dari teman kantorku yang mempersiapkan lamaran untuk menggapai kesempatan lowongan kerja di Emirates ini, secara pasti aku tidak mengetahuinya, yang jelas termasuk Sony dan M. Oelfi teman kerja satu Bagian di Litbang, Penelitian Dan Pengembangan, Pramudiya dari Bagian Mold Loft, Suyono dari Bagian Dokumentasi, Gonot dari Bagian Konstruksi Design, dan Pratomo dan Sucipto dari Bagian Outfiting Design. Semuanya bernaung dalam satu direktorat, yaitu Direktorat Teknologi (Dirtek). Sedangkan aku sendiri tidak tertarik pada tawaran itu karena akibatnya aku harus meninggalkan Kotaku, Surabaya.
Di Surabaya aku sudah mempunyai kehidupan yang mapan. Rumah sendiri sudah aku beli melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari Bank Tabungan Negara, pekerjaan aku sampai merangkap, siang bekerja sebagai karyawan PT. Pal Indonesia dan sore sampai malam selama 3 kali dalam seminggu mengajar di Universitas Hang Tuah, Surabaya, bahkan ada kegiatan berdagang yang sedang aku rintis menjadi pedagang barang-barang bekas termasuk bangunan yang akan dibongkar. Jadi, dari segi keuangan untuk hidup di Surabaya tidak mempunyai masalah. Selain itu aku sudah mempunyai anak satu yang masih berumur satu tahun yang sedang lucu-lucunya pasti akan rindu sekali kalau ditinggal bekerja ke Luar Negeri. Juga kondisi diriku sebagai seorang anak tunggal yang masih tetap tinggal serumah dengan kedua orang tuaku walaupun aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak, aku merasa tidak tega harus meninggalkan kedua orang tuaku di rumah apalagi kuliah isteriku belum selesai. Untuk itulah ketika aku diterima oleh Pertamina pada tahun 1991 aku tidak mengambilnya karena orang tuaku harus aku tinggalkan, walaupun waktu itu aku belum menikah.
Coba-coba Melamar
Desakan, nasehat dan tawaran teman-teman membuat aku luluh juga, dan aku memutuskan membuat Surat Lamaran untuk lowongan bekerja ke Emirates. Seorang teman mengatakan, 'Buatlah lamaran sebagai latihan saja, tentang akan diambil atau tidak kalau nanti diterima, itu terserah nanti saja, yang penting buat surat lamaran kerja dan ikuti ujian seleksi masuknya'.
Alasan lain yang aku pertimbangkan adalah pendapat salah seorang dari teman satu bagian kantorku, Sony, ia mengatakan bahwa; 'Iklim politik di Indonesia mendatang tidak menentu terutama bagi mereka yang bekerja di bawah Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS), dibawah Pak Habibie (B.J Habibie, Mentri Riset dan Technology Republik Indonesia dan Ketua BUMNIS saat itu), karena pemilihan Presiden mendatang Pak Harto (Suharto, Presiden Republik Indonesia ketika itu Tahun 1994) sudah tua, sekarang Pak Habibie merupakan anak emas dari Pak Harto, kalau Pak Harto tidak mau dicalonkan lagi menjadi presiden RI mendatang dan penggantinya adalah seseorang yang tidak menganak-emaskan Pak Habibie, bagaimnan?, kita yang bekerja di bawah BUMNIS ini akan tidak menentu juga nasibnya', 'pokoknya aku harus keluar mencari pekerjaan lain yang lebih menentu' sambungnya lagi 'mencari kerja lain yang di luar naungan Pak Habibie', ia mengahiri nasehatnya kepadaku. Setelah aku pikir dan renungkan merupakan suatu alasan yang masuk akal juga.
Tanpa beban aku membuat Surat Lamaran Kerja. Setelah berdiskusi dengan beberapa teman di kantor akhirnya aku sekaligus menyusun strategi agar lolos ujian masuk. Ujian masuk khabarnya hanya berupa tes kesehatan dan wawancara dengan menggunakan Bahasa Ingris. Aku sadar tentang kelemahanku pada Bahasa Ingris ini. Meskipun aku sering berhadapan dengan Technical Assistance (TA) dari Jerman untuk proyek yang aku pegang di kantorku, tetapi tetap saja Bahasa Ingrisku masih 'plegak-plegok'.
Aku mulai berpikir bagaimana caranya menghidar atau jangan telalu banyak berkomunikasi menggunakan Bahasa Ingris dalam wawancara nanti. Aku lalu mengira-ngira tentang skenario jalannya wawancaranya, dan akhirnya aku menemukan jawabannya, lalu aku putuskan, bahwa setiap wawancara pasti akan berisi tanya jawab, dan aku memastikan bahwa aku akan ditanya tentang pekerjaan yang sedang aku lakukan di kantorku sekarang. Pertanyaannya kira-kira; 'Apa pekerjanmu sekarang?' merupakan suatu keharusan dalam wawancara nanti, begitu kesimpulanku. Lalu aku berpikir untuk membuat sketsa kira-kira jawaban yang pas, dan ini harus aku persiapkannya dengan ketikan dalam komputer di kantorku untuk kemudian dicetak dan dibawa ketika melakukan ujian wawancara. Tes kesehatan sudah aku lakukan di salah satu laboratorium pemeriksaan yang sudah ditunjuk oleh pihak Emirates. Hasil tes darah dan air seniku tidak ada masalah.
Aku lihat semua temanku sudah menuju ke Hotel Sahid Surabaya. Ada yang memakai pakaian lengkap dengan memakai dasi, ada yang berpakaian tanpa dasi sambil menenteng tas kulit berrias nampak seperti orang penting atau berkedudukan, bahkan kebanyakan dari mereka berpenampilan apa adanya, yang terahir inilah yang aku lakukan. Dan dengan membawa strategi bagaimana menghindar berkomunikasi dengan Bahasa Ingris ketika wawancara sudah membuatku untuk cukup percaya diri.
Aku baru kali ini masuk ke dalam Sahid Surabaya Hotel, orang Surabaya mengenalnya dengan sebutan Hotel Sahid. Merupakan sebuah hotel yang sudah lama berdiri di situ dan hampir setiap hari aku melihatnya ketika aku masih kuliah dulu, Hotel yang berdiri berdampingan dengan Stasiun Kereta Api Gubeng. Dulu daerah itu hanya ada rumah-rumah hunian saja, Hotel Sahid awalnya sekecil itu, lalu kemudian dibangun bertingkat dan termasuk salah satu gedung bertingkat tinngi pertama di Surabaya.
Seorang pegawai hotel mengantarku ke kamar tempat ujian wawancara ini akan dilakukan. Penunjuk jalan masuk ke dalam lift bersama dengan aku dan rekan-rekanku yang lain, aku tidak memperhatikan tombol yang mana yaang ia tekan, yang pasti, ketika aku keluar lift aku lihat ada lima orang Arab dan dua orang Indonesia sedang sibuk satu sama lainnya. Orang-orang itu setelah aku di Emirates baru aku kenal, yaitu bernama Captain Abdullah, Major Humaid Asshamsi dari Department Teknik dan Captain Saleem dari Keamanan, Kaptain Jamal dari bagian pesawat udara dan seorang dokter yang aku tidak tahu namanya, semuanya dari kesatuan Angkatan Laut Persatuan Emirat Arab. Sedangkan yang dari Indonesia adalah semuanya memanggilnya Pak Modi dari Kantor Kedutaan Persatuan Emirat Arab Jakarta. Ketika mereka dalam waktu menunggu para calon pelamar yang sudah siap dengan surat lamaran, sertipikat dan surat hasil tes kesehatannya, semua dipersilahkan untuk duduk pada kursi yang sudah disediakan di ruang besar yang terbagi dengan sekat tengah menjadi dua bilik, sedangkan sebagian yang lain tetap berdiri karena jumlah kursi yang tidak mencukupi.
Seorang pelayan Hotel membawa pesanan teh-teh orang-orang dari Emirates di depanku. Ketika teh diminum oleh salah seorang diantaranya langsung si pelayan dipanggil kembali karena masih beberapa langkah menjauh dari mereka. Orang itu meminta teh panas, bukan teh hangat. Ia memprotes bahwa ia memesan teh panas, lalu ia celupkan telunjuk dan tengah jarinya sambil berkata, 'What is this?, I need hot tea, hot, hot very hot', yang aku kira dia memprotes tentang teh yang ada di depannya. Semua pelamar yang duduk dan berdiri sedang menunggu wawancara tertawa atau tersenyum. Aku sendiri merasa aneh terhadap keterusterangan orang Arab ini. Nampaknya ia marah tetapi setelahnya biasa lagi mengobrol dengan kami semua.
Aku terhentak ketika orang yang protes dengan suguhan teh hotel berkelekar, ia mengatakan bahwa, 'All girls are fresh', ketika itu aku langsung menimpali dengan jawaban, 'Like from the forest'. Lagi-lagi semua dari temanku cekikikan mendengar kelekar dua orang berbeda bangsa ini.
Dua temanku sudah melakukan ujian wawancara, aku mencoba bertanya pada salah seorang tentang mengapa ia lama sekali dalam wawancaranya. Ia mengatakan bahwa ia sedang berdiskusi tentang rencana kawinnya dalam waktu dekat dan nanti dan harus pulang ketika bekerja di Emirates, begitu ceritanya. Sedangkan yang lain bercerita tentang tawaran gaji yang diajukan oleh pihak penguji.
Sekarang tibalah pada giliranku. Aku langsung menuju ke meja Dokter seperti apa yang kandidat lain lakukan. Hasil tes kesehatan dari salah satu laboratorium kesehatan di Surabaya aku serahkan. Lalu aku diminta untuk membuka mulutku untuk diperiksa,lalu telingaku ia intip. Aku ditanya tentang kondisi pendengaranku yang tercatat tidak terlalu bagus, mereka menerimanya setelah aku jelaskan bahwa mungkin pekerjaanku nanti tentu bukan di laboratorium, tentang pendengaran bukanlah suatu masalah. Lalu aku pindah ke meja wawancara. Aku mencoba setenang mungkin, aku lemparkan senyum sambil menganggukkan kepala kepada orang yang aku hadapi. Aku julurkan tanganku memberi salam dan ia pun membalasnya. Setelah aku duduk aku berikan surat-suratku yang sudah diperiksa awalnya oleh Pak Modi, staf Kedutaan Emirates Jakarta itu, kepada orang Arab di depanku. Aku merasa orang yang ada di depanku nampak baik, sehingga aku tidak mengalami suatu kepanikan. Aku tetap menyimpan ketikan rekaan jawaban yang telah aku persiapkan dari kantor tadi di tempat yang paling mudah diambil dari dalam amplop plastikku. Setelah selesai membolak-balik memeriksa surat-suratku lalu ia mengatakan dengan kata tanya, 'What is your job now?'. Perasaanku bagai disambar petir dan aku berkata dalam hati, 'Mati kau, ternyata perkiraanku benar". Perlahan aku keluarkan kertas jawabanku dari dalam map yang aku pegang menempel di atas kedua pahaku, aku berikan kepada orang yang berada di depanku, lalu ia mengambil dan membacanya. Tanpa mengatakan apa-apa lalu ia menawari aku jumlah gaji dan fasilitas yang akan aku dapatkan jikalau aku mau menerima tawaran pekerjaan ini. Aku menanyakan kepadanya tentang bagaimana tawaran gaji ini kepada kandidat-kandidat yang lain, ia bilang, 'Sama', maka aku menyetujuinya. Lalu aku melihat orang itu langsung memberi tanda tiga bintang di atas surat lamaranku.
Sejenak kemudian aku disodori semacam surat kontrak kerja sementara sebagai formalitas bahwa aku menerima tawaran pekerjaan yang mereka tawarkan termasuk fasilitas yang akan diberikan. Surat kontrak sementara ada dua salinan, satu salinan mereka berikan kepadaku dan yang lain mereka simpan bersma surat-surat berkasku untuk mereka.
Kemudian, setelah selesai ujian wawancara banyak orang termasuk teman-temanku tidak juga beranjak dari sekitar ruang ujian. Orang-orang dari Emirates kelihatannya baik-baik. Mereka berkata apa adanya, tidak ada rasa membatasi diri dan mereka juga terbuka. Aku tidak merasa ketakutan sedikitpun, aku merasa percaya diri terhadap meraka.
Sesampainya kembali di kantor, semua pada saling bercerita tentang apa yang dialami pada wawancara terutama tentang masalah yang ditanyakan tadi, bercerita tentang
kemungkinan apabila diterima nanti. Aku juga tidak ketinggalan, aku katakan bahwa aku menjawabnya dengan jawaban yang sudah aku persiapkan. Hari demi hari berlalu, minggupun juga berganti. Seorang teman sebagai penghubung mendapatkan khabar bahwa ada 5 orang Sarjana dan seorang Sarjana Muda sebagai kandidat yang akan diterima, salah satunya termasuk diriku. Sambil menunggu panggilan mereka meminta surat-surat berkas-berkas lainnya untuk kebutuhan evaluasi dan pengurusan keberangkatan.
Aku merasa sedikit senang, ternyata aku bisa bersaing dengan yang lain. Aku pikir, ternyata strategiku dapat berjalan dengan baik. Aku seharusnya langsung memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa karena ramalanku benar, akan tetapi hal itu tidak aku lakukan, aku yakin, karena semua ini adalah merupakan karunia-Nya semata.
Setelah itu aku dihantui perasaan keragu-raguan tentang kesungguhanku untuk merantau ke Emirates ini. Namun aku tetap mengurus surat-surat lain yang dibutuhkan sebagai persyaratan memenuhi permintaan dari Kedutaan Persatuan Emirates Arab Jakarta. Setelah semua perssyaratan dikirim, kini giliran menunggu khabar selanjutnya. Di dalam penantian ada banyak cerita di antara aku dan teman-temanku, termasuk salah seorang teman sudah melangkah lebih jauh dengan mengontrakkan rumah tingalnya kepada orang lain, dia begitu yakin bahwa pekerjaan yang ditawarkan ini sudah ada dalam genggamannya. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang berisiko karena semuanya masih belum pasti, aku teringat nasehat seorang teman kantorku, 'sesuatu yang masih tergantung dari keputusan pihak lain, harus dianggap masih belum pasti', maka menunggu kepstian sampai dengan benar-benar berangkat adalah yang paling aman.
Setelah selama sekitar tiga bulan menanti. Aku mendapatkan panggilan dan diminta untuk bersiap-siap berangkat ke Abu Dhabi, jadwal keberangkatan sekitar akhir Agustus nanti. Semakin dekat pada hari keberangkatan ke Emirates aku merasa semakin gundah rasa hati ini, anak dan istri serta kedua orang tua menjadi beban pikiranku tersendiri. Aku merasa menjadi setengah-setengah. Walau[un begitu, semua surat-surat yang diminta sebagai persyaratan oleh pihak Emirates melalui Kedutaan Persatuan Emirat Arab Jakarta tetap aku penuhi, bahkan sampai membuat surat baru dari kantor Polisi sekalipun aku penuhi juga.
Seperti yang telah aku tulis di atas, semakin dekat pada hari keberangkatan ke Emirates semakin gundah rasa hati ini, anak dan istri serta kedua orang tua menjadi beban sendiri untuk aku tinggal di belakang. Aku tahu bahwa aku tidak boleh kehilangan kesempatan lagi seperti ketika aku diterima di Pertamina sekitar tiga tahun lalu dan kemudian tidak aku ambil. Tetapi aku hampir saja kehilangan akal, aku semacam dihinggapi suatu dilema; apabila aku sedang berada di kantor dan kemudian melihat suasana kantor aku merasa lebih yakin tentang keinginan keluar dari kantorku kini, PT. Pal dan nekad merantau ke Emirates, akan tetapi, ketika aku pulang ke rumah terutama ketika melihat anakku, aku merasa lemah lagi untuk merantau dan tidak jadi nekad.
Begitu perasaan yang menghantuiku secara terus-menerus, dan keragu-raguan selalu menghinggapi dalam hatiku. Ada pemberitahuan lagi menyusul, bahwa keberangkatan akan ditunda sekitar duapuluh hari dari jadwal sebelumnya, tetapi kini sudah menyebutkan tanggal keberangkatan, yaitu rombongan akan diberangkatkan pada tanggal 20 September 1994 dari Jakarta.
Sampai saat ini sudah ada tiga orang yang sudah mendapatkan kepastian diterima oleh pihak Emirates, tetapi masih belum tahu tentang arah pekerjaan kecuali merawat kapal milik Pemerintah di sana. Aku, Sucipto kawan kantor dan Demon seorang kakak kelas dari Fakultas Teknik Perkapalan ITS, semua dari ketiga kandidat yang sudah diterima merupakan alumni dari ITS. Batas hari kehadiran di Kedutaan Emirates Arab Jakarta sudah ditentukan. Karena keraguanku banyak dari teman kantorku sering menyindirku dengan kata sebagai seorang penakut, atau sebagai anak mama atau yang lainnya. Bagi aku, sindiran mereka akan selalu aku sambut dengan senyum dan kelakar. Toh, arti sindiran atau pujian dari seorang teman bukanlah bertujuan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun. Dan aku melihat itu karena aku banyak bergaul.
Besok merupakan hari yang sudah ditentukan untuk berkumpul di Kantor Kedutaan Emirates Arab Jakarta. Sucipto sedang sibuk mengurus surat pengunduran dirinya, ia sudah mengajukan mulai dari beberapa waktu yang lalu. Aku masih saja mengantor seperti biasanya. Sucipto sudah punya tiket kereta api tujuan Jakarta berangkat sore ini. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa gundahku. Sucipto menenangkanku dan menyarankan agar aku keluar saja dari PT. Pal dan berangkat mengadu nasib ke Emirates dan selanjutnya berserah diri kepada Tuhan. Aku tersenyum saja sambil menahan rasa gejolak atas
dukungannya meninggalkan Surabaya. Aku lihat dia masih cukup sibuk dengan urusannya, karena ia sedang tidak membawa kendaraan, maka aku menawarkan diri yang akan mengantarkannya keluar kantor nanti kalau semua urusannya sudah selesai.
Pukul 14:00 Sucipto sudah menungguku di bagian depan kantor Direktorat Teknologi. Aku antar dia sampai ke halte/tempat kendaraan umum berhenti untuk menuju rumahnya. Setelah itu, aku langsung mampir ke rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantorku. Aku memberitahu istriku kalau aku baru saja mengantar teman yang akan bekerja ke Emirates nanti. Setelah aku peluk-cium putriku dan aku merasa tentram untuk tetap berada di Surabaya, lalu aku kembali ke kantor lagi. Lagi-lagi perasaan gundah datang kembali, suasana kantor membuat perasaanku ingin keluar saja. Sunnguh, lain halnya ketika aku tadi memeluk dan mencium putriku, aku ingin tetap di Surabaya saja, rasanya diterima bekerja di Emirates tidak ada apa-apanya.
Pukul 16:30 merupakan jam pulang kantorku, bergegas aku juga pulang, semua orang pulang dengan perasaan gembira, mungkin karena akan bertemu dengan keluarga mereka dan atau karena ingin istirahat setelah bekerja sejak pagi jam 8 tadi, sedangkan aku? semakin dihantui perasaan hati yang tidak menentu dan aku bawa pulang bersama sambil menaiki di atas sadel hitam sepeda motorku. Sesampai di rumah aku teringat pesan ayahku ketika aku diterima di Pertamina dulu, 'Untuk bisa masuk Pertamina tidaklah mudah, walaupun orangnya pintar kalau tdak tahu di mana lubangnya, tidak akan dapat masuk'. Sungguh nasehat yang baik, dan sangat menyentuh setelah aku merenungkannya, terutama rangkai kata terahir dari nasehatnya.
Aku kini jadi menjadi merasa berubah, nasehat ayah yang pernah ia katakan dulu itu begitu mengiang kembali di dalam pikiranku bagaikan sebuah bom yang jatuh dan meluluh lantakkan perasaan gundah dan keraguanku berubah menjadi suatu kesadaran yang lebih besar. Aku semacam menemukan diriku kembali. Aku sudah membulatkan diri bertekad berangkat ke Emirates.
Istri dan ibuku terkejut dengan keputusanku yang mendadak ini, karena mereka melihatku tidak mempersiapkan apa-apa untuk ini. Aku meminjam uang kepada ibuku. Aku ambil tas jinjing hitam ukuran sedang dan aku kemas lalu aku masukkan pakaian seadanya serta dokumen, surat dan ijasahku. Paspor aku simpan di dalam saku depan celana jeans yang sedang aku pakai. Aku memang tidak mempersiapkan kebarangkatanku ini, tiket kendaraan menuju Jakarta pun belum aku punyai. Tetangga menganjurkan aku mencari kendaraan transportasi tidak langsung ke Jakarta, transpotasi terputus-putus. Mereka menyuruhku mencegat bis di daerah Jalan Demak, dari sana menuju Kota Semarang, kemudian dilanjutkan dengan bis lain ke Kudus, dari Kudus ganti lagi untuk menuju Jakarta.
Aku langsung saja menuju Jalan Demak, beruntung aku masih mendapatkan kendaraan bis menuju Semarang, padahal hari sudah cukup petang. Di atas bis aku tidak mendapatkan kursi duduk, dan aku tidak perduli yang penting aku dapat kendaraan. Aku duduk di atas undukan untuk tutup mesin belakang kanan supir. 'Biarlah', pikirku, dapat bis saja sudah beruntung'. Aku duduk disitu sampai Gersik saja, setelahnya aku bisa tidur di atas kursi penumpang, itu menurut supir bus.
Sudah melebihi tengah malam bis sudah sampai Semarang. Aku mencari bis lain dari Semarang menuju Jakarta. Tidak ada masalah yang berarti karena banyak bis yang menuju ke sana. Bis berhenti cukup lama di terminal Kudus. Semalaman aku hanya tertidur sebentar, pikiranku terkadang masih teringat pada apa yang sedang aku tinggalkan, istriku, putriku dan kedua orang tuaku.
Pukul 10an pagi aku turun dari bis di terminal Pulau Gadung, Jakarta. Aku langsung mencari makan pagi, lalu aku menelpon teman kantor, Mustain (kini Almarhum dan semoga ia mendapatkan tempat yang baik di Akhirat), mengabarkan bahwa aku jadi berangkat ke Emirates, dan meminta bantuannya agar dia sebagai wakilku didalam mengurus surat permohonan keluar perusahaan dan mengurus urusan uang persangonku. Aku tadinya sudah mempersiapkan sebelumnya sebuah surat kuasa yang sudah aku tanda-tangani dan aku simpan di atas meja kerjaku. Setelah itu aku langsung saja ke Kantor Departemen Tenaga Kerja sesuai permintaan pihak Kedutaan Emirates dengan taksi. Sucipto dan Demon merasa terkejut ketika melihat aku datang, mereka sepertinya kegirangan. Aku lihat bukan hanya aku bertiga saja yang telah berkumpul, tetapi lebih dari sepuluh orang yang akan berangkat dengan tujuan yang sama. Setelah urusan di Kantor Departemen Tenaga Kerja selesai, aku mendapatkan kartu asuransi tenaga kerja, lalu aku simpan kartu itu sebagaimana yang diamanatkan pihak pemberi untuk selalu aku bawa.
Pak Modi dari Kedutaan Emirates Arab Jakarta mengingatkan lagi bahwa keberangkatan ke Emirates adalah besok malam, dan semua pengikut harus datang ke Kantor Kedutaan tepat waktu. Semua akan berangkat dari Kantor Kedutaan. Pasport dan tiket pesawat ia bawa, dan semua calon pekerja disuruh pulang atau mencari penginapan masing-masing. Aku diajak Demon menginap di rumah familiinya, rumah adik iparnya di suatu komplek Angkatan Darat.
Bangun pagi sekali. Demon mengajak aku sarapan di ruang makan, roti tawar dan selai berwarna merah tua sudah siap. Aku baru kali ini makan pagi dengan roti dan selai, biasanya aku makan makanan kesukaanku, nasi pecel, yang selalu aku beli di warung yang ada di depan Sekolah Teknik Negri 2 sebelah belakang rumahku, atau dekat kantorku apabila aku tidak sempat makan pagi dekat rumah sebelum aku masuk kantor. Aku pikir makan roti tidak akan kenyang, makan roti seperti makan jajan saja, tetapi, ini di rumah orang, maka aku harus tetap berterimakasih.
Kedutaan Emirates terletak di Jalan Sisinga Mangaraja. Aku lewati Jalan Kasablangka, aku lihat pertokoannya dari dalam mobil saja. Setelah semua orang sudah berkumpul, semuanya berjumlah 19 orang termasuk aku, mereka semua kemudian aku kenal dengan nama Demon, Sucipto, Hery, Samsu Rizal, Joko, Saiful, Bagus, Edi, Jumali, Junaidi, Hendro, Sigit, Untung, Nursyamsi, Eko, Sarno, Sony, dan Gempur.
Tiba di Bandara Cengkareng (sekarang bernama Sukarno-Hatta), langsung dipandu untuk check in. Semua dari kami bermuka cerah-ceriah ketika duduk dalam ruangan menunggu waktu boarding. masuk Pesawat Singapore Air Line yang sudah dihubungkan dengan belalai penghubung ke ruang boarding dan siap untuk mengangkut para penumpang yang sudah menunggu.
Petugas mulai memanggil penumpang untuk memulai masuk pesawat, dan anggota rombongan kami semua masuk lancar-lancar saja, walaupun ada beberapa barang dari kawan kami yang harus dikeluarkan dan ditinggal karena termasuk barang terlarang masuk pesawat, yaitu sebotol minyak untuk korek api yang dikenal umum dengan sebutan bensol.
Aku memikirkan keluarga dan teman-temanku yang aku tinggal dibelakang ketika termenung di dalam pesawat, wajah-wajah mereka seakan bergantian muncul dalam pikiranku. Aku berpikir kembali tentang kenekadanku ini, aku sudah hidup layak di Surabaya. Aku coba menenangkan kembali diriku yang seolah masih akan menjadi goyah lagi ini. Aku akhirnya mengingat kembali tentang perhitunganku dari segi keuangan agar aku menjadi tegar kembali, bahwa paling tidak kalau aku tidak lolos dalam masa percobaan selama tiga bulan nanti aku akan kembali dengan sejumlah uang yang nilainya sama dengan jumlah seluruh gajiku saat ini selama dua tahun bekerja di PT. Pal, tetapi kalau aku dapat berhasil lolos dan dapat bekerja sampai dua tahun sampai akhir kontrak kerja dengan Pemerintah Emirates, itu berarti aku akan membawa uang setara dengan jumlah gaji kalau aku bekerja selama duapuluh tahun dengan gajiku saat ini. Aku sungguh telah merasa menemukan diriku kembali ketika pramugari menawari aku makanan dan minuman kecil.
Sesampainya di Singapora aku harus menunggu transit selama hampir 5 jam. Bandara Internasional Changi sunnguh megah dan besar, lingkungannya sungguh bersih dan asri. Taman-taman yang ada di dalam Bandara semacam taman dari pohon plastik karena mengkilap, karena aku tidak percaya aku coba menyentuh untuk berusaha memetik salah satu daunnya, aku terkejut karena yang ditanam adalah pohon asli. Semua orang berjalan cepat sekali. Aku dan teman-temanku berkeliling keluar-masuk toko, pelayan toko ramah-ramah, setelah menyapa setiap pengunjung yang datang, lalu dibiarkan sampai pengunjung meminta bantuan. Aku dan teman-teman terus keluar-masuk toko-toko sampai menemukan tempat check in.
Menuju Abu Dhabi berangkat dini hari. Hati semakin pasrah menuju tujuan. Menu dalam pesawat aku nikmati, lalu aku tidur karena letih. Aku sepertinya tidak merasa canggung dalam pesawat, karena sudah beberapa kali naik pesawat ketika ke Jerman lalu ke Finlandia, dan ke Singapura. Semuanya karena tugas dari bekas kantorku, PT. Pal Indonesia. Aku terbangun dari tidur di dalam pesawat karena pramugari menawari makanan atau teman sebelahku yang memberitahukannya kalau makanan akan tiba. Selesai makan kemudian aku langsung tidur lagi.
Sampai di Abu Dhabi suasana masih gelap, matahari belum menampakkan hidungnya. Aku disapa oleh seorang berseragam tentara, ia berkata, bahwa ia datang untuk menjemput kami. Ia langsung menyebut namaku, setelah aku angkat tanganku lalu ia menyebut namanya, Ibrahim, lengkapnya Ibrahim Bahraini. Ia kemudian memberitahu bahwa aku sebagai ketua tim ini. Ini disebabkan karena nomor identitas dalam suratnya adalah yang paling kecil dan berarti paling senior.
Aku dan semua rekanku digiring masuk bis berwarna coklat doreng, warna corak khas kendaraan pasukan atau tentara daerah padang pasir. Jalan-jalan kelihatan terang sekali karena lampu-lampu jalan sangat kuat cahayanya. Sepanjang jalan banyak tanaman dan rerumputan, pandangan ke padang pasir terhalau oleh gelapnya pagi. Aku tahu bahwa hari ini tanggal 20 September, 1994, pagi ini suhu udara terasa sejuk, sesejuk udara di Surabaya, tidak seperti yang pernah temanku katakan sebelumnya tentang negara bertanah padang pasir ini. Aku menantang dalam hati, 'mana panas yang temanku katakan itu, kalau suhunya seperti ini, aku akan betah disini'.
Setelah bis berjalan sekitar tigaperempat jam lalu behenti di depan sebuah pintu gerbang yang terbuat dari pelat besi. Aku lihat dua tentara dengan senjata semacam AKA digendong di belakang mereka berdiri di depan pintu gerbang terbuat dari besi itu lalu mendekati bis yang aku dan rekan-rekanku tumpangi. Ibrahim Bahraini keluar menemui keduanya.
Sisi kanan dan kiri pintu besi itu adalah pagar alas terbuat dari tembok beton warna coklat muda. Di balik pintu gerbang berderet bangunan serupa seperti komplek pemukiman ala barak-barak dan kantor. Di kejauhan lebih dalam terlihat menara masjid berlampu neon warna hijau. Selesai pemeriksaan surat salah seorang penjaga pintu menengok ke dalam bis, setelah itu bis diijinkan untuk masuk ke dalam komplek.
Semua orang diturunkan dekat gedung besar berwarna putih. Lalu kemudian dibawa kedalam bangunan semacam barak tentara. Satu bangunan berukuran sekitar 6x20 meterpersegi. Di dalamnya ada hall dengan delapan tempat tidur, dan di salah satu ujungnya ada ruangan terpisah dengan dua tempat tidur dan dua lemari pakaian, sedangkan ujung lainnya beberapa lemari pakaian. Rekan-rekanku diberi dua bangunan. Lalu aku dan Demon dimintanya menunggu karena akan ditempatkan di tempat lain.
Ibrahim berkata bahwa tingkatanku dan Demon jauh di atas rekanku yang lain. Aku dan Demon diberi akomodasi dalam bangunan permanen baru dalam komplek ini sekitar seratus meteran jauhnya dari tempat tinggal rekan-rekan yang lain ini. Aku dan Demon diberi satu kamar lengkap dengan perabot meja kursi dan lemari pakaian. Kamarku terletak di sudut kanan dekat pintu masuk. Aku lihat ada delapan kamar dalam satu bangunan akomudasiku. Tidak jauh dari luar pintu kamarku ada satu kamar basah dan di dalamnya ada empat kamar mandi shower dan empat toilet terpisah, sedangkan satu dapur dipisah dari kamar mandi dan toilet oleh lorong keluar melalui pintu belakang.
Hari pertama aku lalui dengan baik. Sore hari berikutnya aku bertemu dengan Major Al-Shamsi. Ia yang mengetuai tim ketika mewawancarai aku dulu. Aku ia ajak ke mess perwira, dengan naik mobil mercedes putihnya, dan di dalam mobil mewah itu aku merasa canggung. Demon duduk di kursi depan berdampingan dengan supir yang juga seorang Mayor, dan aku di kursi belakang. Ini untuk pertama kali aku naik mobil Mercedes, suatu mobil mewah buatan Jerman. Suara mesinnya dapat aku katakan tidak terdengar, mobil bergerak seperti tanpa suara mesin, itu karena kekedapan suaranya sangat bagus, atau karena suara mesinnya yang tidak nyaring.
Mess Perwira lantainya dilapisi karpet warna hijau, setelah pintu masuk ke arah kiri langsung ruang untuk bermain snooker dengan tiga meja snooker dan satu tennis meja, berikutnya tempat cuci tangan dan kamar kecil, lalu ada dapur dan ruang makan besar dengan meja prasmanan yang ditata berada di tengahnya. Semua meja makan berbentuk bundar, masing-masing meja dikelilingi oleh enam kursi, taplaknya berwarna motip kembang berwarna coklat muda, di atas taplak diberi lembaran plastik warna bening. Mayor Al-Shamsi memintaku untuk makan di Mess Perwira ini sampai mendapatkan akomodasi di luar komplek. Aku baru tahu bahwa aku sedang berada di dalam komplek Angkatan Laut Emirates.
Hari pertama kegiatanku adalah menyelesaikan surat-surat yang diperlukan untuk persyaratan pembuatan kontrak kerja dan pembuatan visa atau surat ijin tinggal (resident visa). Aku harus menjalani tes kesehatan lagi. Aku diperiksa lebih seksama lagi. Aku diminta berpuasa setelah pemeriksaan detak jantung dengan alat monitor jantung melalui komputer, pemeriksaan paru-paru dengan di rongsen, dan telinga, hidung, teggorokan dan mata tidak luput dari pemeriksaan juga. Aku lalu diminta berpuasa mulai malam ini untuk pemeriksaan besok pagi, pemeriksaan air kencing dan darah.
Sehari kemudian hasil pemeriksaan sudah dapat diketahui. Aku dipanggil oleh Dokter ahli Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Ia menanyakan tentang specialisasi pekerjaan yang akan aku lakukan. Dokter belum dapat meloloskan aku karena kondisi pendengaranku. Setelah aku jelaskan tentang lapangan pekerjaan yang akan aku hadapi kemudian Dokter bertanya kalau aku Muslim atau bukan. Setelah aku katakan bahwa aku Muslim lalu ia memintaku untuk membacakan ayat dari Alqur'an. Kemudian ia menyatakan bahwa aku fit dan ia tandatangani hasil tes kesehatanku dengan catatan pendengaranku setelah aku membaca ayat dari Alqur'an. Dokter yang seperti keturunan Arab itu memberi laporan hasil tesku sambil tersenyum.
Ada dua temanku yang mempunyai masalah dengan tes kesehatan mereka, satu orang mempunyai masalah dengan paru-parunya, dan yang lain dengan hatinya. Rumah Sakit tempat tes kesehatan kemudian merawat mereka sampai mereka benar-benar dinyatakan fit. Sungguh luar biasa, calon tenaga kerja yang mempunyai masalah dengan kesehatannya masih diusahakan untuk disembuhkan.
Sebagai calon tenaga kerja di Departemen Pertahanan Emirates akan diwajibkan lolos tes skreening pihak keamanan. Aku mempunyai masalah dengan namaku. Mereka tidak melayakkan seseorang yang mempunyai nama dengan hanya terdiri dari satu suku kata saja. Aku dan Sucipto mempunyai masalah yang sama, nama yang tertulis di dalam pasport hanya satu nama. Setelah aku jelaskan bahwa nama presiden Indonesia saat ini dan yang lalu mempunyai satu nama, mereka akhirnya menerimanya dengan catatan di dalam sistem komputer mereka akan ditambah nama kedua yang diambil dari nama ayahku, maka namaku sekarang menjadi Nasuki Marsali, dan Sucipto menjadi Sucipto Munawir.
Memulai untuk bekerja hanya diijinkan setelah seseorang sudah menerima visa tinggal tetap. Aku dan rekan-rekanku harus menunggu selama sekitar tiga bulan sampai mendapatkan visa tinggal. Kegiatanku setiap hari hanya makan tidur, jalan-jalan dan mencari hiburan di dalam komplek saja.
Di dalam Mess Perwira aku bertemu orang lokal berpangkat Letnan satu. Ia kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama Walid Al-Tamimi. Ia berkata kalau dia akan menjadi bosku dan Demon nantinya. Aku dan Demon mengobrol sebentar, Demon lebih mendominasi obrolan pertama dengan Calon Bosku dan Demon ini, Demon mempunyai kemampuan berbahasa Ingris jauh lebih baik daripada diriku.
Begitulah keadaanku sampai aku mendapatkan visa tinggal dan memulai melakukan pekerjaan sehari-hariku sebagai seorang tenaga ahli atau Service Engineer di Angkatan Laut Persatuan Emirates Arab.
Ketika sedang mengobrol santai menghabiskan sisa waktu istirahat makan siang bersama rekan kerja di Direktorat Teknologi, PT. Pal Indonesia, seorang teman kantor dari sejak aku kuliah mengabarkan bahwa ada lowongan kerja di United Arab Emirates untuk tenaga ahli perkapalan, dan ujian seleksinya akan diadakan dalam waktu dekat ini di Hotel Sahid Surabaya (SS). Ada seseorang yang kemudian berkelakar; 'Wah...nanti ketika merawat kapalnya Sheikh akan dapat melihat isterinya, dan bisa-bisa lupa akan kapal yang akan dirawatnya', seluruh teman termasuk aku yang mendengarkan kelakar itu yang sama-sama sedang mngobrol tentang peluang ini langsung tertawa dan ada pula yang tersenyum.
Saat itu aku tidak tahu apa arti seorang Sheikh di Emirates ini. Setelah mengenal, mereka merupakan sosok yang sangat dihormati oleh penduduknya, mereka merupakan keturunan keluarga Raja-raja di Emirates dan yang mengelola hampir seluruh kegiatan Negara. Setelah aku hidup di Emirates dalam beberapa waktu rasanya aku ingin memeinta maaf kepada para Sheikh yang pernah aku dengar dan tertawa karena dikelakarkan dulu disebabkan tak seorangpun mengetahuinya.
Banyak dari teman kantorku yang mempersiapkan lamaran untuk menggapai kesempatan lowongan kerja di Emirates ini, secara pasti aku tidak mengetahuinya, yang jelas termasuk Sony dan M. Oelfi teman kerja satu Bagian di Litbang, Penelitian Dan Pengembangan, Pramudiya dari Bagian Mold Loft, Suyono dari Bagian Dokumentasi, Gonot dari Bagian Konstruksi Design, dan Pratomo dan Sucipto dari Bagian Outfiting Design. Semuanya bernaung dalam satu direktorat, yaitu Direktorat Teknologi (Dirtek). Sedangkan aku sendiri tidak tertarik pada tawaran itu karena akibatnya aku harus meninggalkan Kotaku, Surabaya.
Di Surabaya aku sudah mempunyai kehidupan yang mapan. Rumah sendiri sudah aku beli melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari Bank Tabungan Negara, pekerjaan aku sampai merangkap, siang bekerja sebagai karyawan PT. Pal Indonesia dan sore sampai malam selama 3 kali dalam seminggu mengajar di Universitas Hang Tuah, Surabaya, bahkan ada kegiatan berdagang yang sedang aku rintis menjadi pedagang barang-barang bekas termasuk bangunan yang akan dibongkar. Jadi, dari segi keuangan untuk hidup di Surabaya tidak mempunyai masalah. Selain itu aku sudah mempunyai anak satu yang masih berumur satu tahun yang sedang lucu-lucunya pasti akan rindu sekali kalau ditinggal bekerja ke Luar Negeri. Juga kondisi diriku sebagai seorang anak tunggal yang masih tetap tinggal serumah dengan kedua orang tuaku walaupun aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak, aku merasa tidak tega harus meninggalkan kedua orang tuaku di rumah apalagi kuliah isteriku belum selesai. Untuk itulah ketika aku diterima oleh Pertamina pada tahun 1991 aku tidak mengambilnya karena orang tuaku harus aku tinggalkan, walaupun waktu itu aku belum menikah.
Coba-coba Melamar
Desakan, nasehat dan tawaran teman-teman membuat aku luluh juga, dan aku memutuskan membuat Surat Lamaran untuk lowongan bekerja ke Emirates. Seorang teman mengatakan, 'Buatlah lamaran sebagai latihan saja, tentang akan diambil atau tidak kalau nanti diterima, itu terserah nanti saja, yang penting buat surat lamaran kerja dan ikuti ujian seleksi masuknya'.
Alasan lain yang aku pertimbangkan adalah pendapat salah seorang dari teman satu bagian kantorku, Sony, ia mengatakan bahwa; 'Iklim politik di Indonesia mendatang tidak menentu terutama bagi mereka yang bekerja di bawah Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS), dibawah Pak Habibie (B.J Habibie, Mentri Riset dan Technology Republik Indonesia dan Ketua BUMNIS saat itu), karena pemilihan Presiden mendatang Pak Harto (Suharto, Presiden Republik Indonesia ketika itu Tahun 1994) sudah tua, sekarang Pak Habibie merupakan anak emas dari Pak Harto, kalau Pak Harto tidak mau dicalonkan lagi menjadi presiden RI mendatang dan penggantinya adalah seseorang yang tidak menganak-emaskan Pak Habibie, bagaimnan?, kita yang bekerja di bawah BUMNIS ini akan tidak menentu juga nasibnya', 'pokoknya aku harus keluar mencari pekerjaan lain yang lebih menentu' sambungnya lagi 'mencari kerja lain yang di luar naungan Pak Habibie', ia mengahiri nasehatnya kepadaku. Setelah aku pikir dan renungkan merupakan suatu alasan yang masuk akal juga.
Tanpa beban aku membuat Surat Lamaran Kerja. Setelah berdiskusi dengan beberapa teman di kantor akhirnya aku sekaligus menyusun strategi agar lolos ujian masuk. Ujian masuk khabarnya hanya berupa tes kesehatan dan wawancara dengan menggunakan Bahasa Ingris. Aku sadar tentang kelemahanku pada Bahasa Ingris ini. Meskipun aku sering berhadapan dengan Technical Assistance (TA) dari Jerman untuk proyek yang aku pegang di kantorku, tetapi tetap saja Bahasa Ingrisku masih 'plegak-plegok'.
Aku mulai berpikir bagaimana caranya menghidar atau jangan telalu banyak berkomunikasi menggunakan Bahasa Ingris dalam wawancara nanti. Aku lalu mengira-ngira tentang skenario jalannya wawancaranya, dan akhirnya aku menemukan jawabannya, lalu aku putuskan, bahwa setiap wawancara pasti akan berisi tanya jawab, dan aku memastikan bahwa aku akan ditanya tentang pekerjaan yang sedang aku lakukan di kantorku sekarang. Pertanyaannya kira-kira; 'Apa pekerjanmu sekarang?' merupakan suatu keharusan dalam wawancara nanti, begitu kesimpulanku. Lalu aku berpikir untuk membuat sketsa kira-kira jawaban yang pas, dan ini harus aku persiapkannya dengan ketikan dalam komputer di kantorku untuk kemudian dicetak dan dibawa ketika melakukan ujian wawancara. Tes kesehatan sudah aku lakukan di salah satu laboratorium pemeriksaan yang sudah ditunjuk oleh pihak Emirates. Hasil tes darah dan air seniku tidak ada masalah.
Aku lihat semua temanku sudah menuju ke Hotel Sahid Surabaya. Ada yang memakai pakaian lengkap dengan memakai dasi, ada yang berpakaian tanpa dasi sambil menenteng tas kulit berrias nampak seperti orang penting atau berkedudukan, bahkan kebanyakan dari mereka berpenampilan apa adanya, yang terahir inilah yang aku lakukan. Dan dengan membawa strategi bagaimana menghindar berkomunikasi dengan Bahasa Ingris ketika wawancara sudah membuatku untuk cukup percaya diri.
Aku baru kali ini masuk ke dalam Sahid Surabaya Hotel, orang Surabaya mengenalnya dengan sebutan Hotel Sahid. Merupakan sebuah hotel yang sudah lama berdiri di situ dan hampir setiap hari aku melihatnya ketika aku masih kuliah dulu, Hotel yang berdiri berdampingan dengan Stasiun Kereta Api Gubeng. Dulu daerah itu hanya ada rumah-rumah hunian saja, Hotel Sahid awalnya sekecil itu, lalu kemudian dibangun bertingkat dan termasuk salah satu gedung bertingkat tinngi pertama di Surabaya.
Seorang pegawai hotel mengantarku ke kamar tempat ujian wawancara ini akan dilakukan. Penunjuk jalan masuk ke dalam lift bersama dengan aku dan rekan-rekanku yang lain, aku tidak memperhatikan tombol yang mana yaang ia tekan, yang pasti, ketika aku keluar lift aku lihat ada lima orang Arab dan dua orang Indonesia sedang sibuk satu sama lainnya. Orang-orang itu setelah aku di Emirates baru aku kenal, yaitu bernama Captain Abdullah, Major Humaid Asshamsi dari Department Teknik dan Captain Saleem dari Keamanan, Kaptain Jamal dari bagian pesawat udara dan seorang dokter yang aku tidak tahu namanya, semuanya dari kesatuan Angkatan Laut Persatuan Emirat Arab. Sedangkan yang dari Indonesia adalah semuanya memanggilnya Pak Modi dari Kantor Kedutaan Persatuan Emirat Arab Jakarta. Ketika mereka dalam waktu menunggu para calon pelamar yang sudah siap dengan surat lamaran, sertipikat dan surat hasil tes kesehatannya, semua dipersilahkan untuk duduk pada kursi yang sudah disediakan di ruang besar yang terbagi dengan sekat tengah menjadi dua bilik, sedangkan sebagian yang lain tetap berdiri karena jumlah kursi yang tidak mencukupi.
Seorang pelayan Hotel membawa pesanan teh-teh orang-orang dari Emirates di depanku. Ketika teh diminum oleh salah seorang diantaranya langsung si pelayan dipanggil kembali karena masih beberapa langkah menjauh dari mereka. Orang itu meminta teh panas, bukan teh hangat. Ia memprotes bahwa ia memesan teh panas, lalu ia celupkan telunjuk dan tengah jarinya sambil berkata, 'What is this?, I need hot tea, hot, hot very hot', yang aku kira dia memprotes tentang teh yang ada di depannya. Semua pelamar yang duduk dan berdiri sedang menunggu wawancara tertawa atau tersenyum. Aku sendiri merasa aneh terhadap keterusterangan orang Arab ini. Nampaknya ia marah tetapi setelahnya biasa lagi mengobrol dengan kami semua.
Aku terhentak ketika orang yang protes dengan suguhan teh hotel berkelekar, ia mengatakan bahwa, 'All girls are fresh', ketika itu aku langsung menimpali dengan jawaban, 'Like from the forest'. Lagi-lagi semua dari temanku cekikikan mendengar kelekar dua orang berbeda bangsa ini.
Dua temanku sudah melakukan ujian wawancara, aku mencoba bertanya pada salah seorang tentang mengapa ia lama sekali dalam wawancaranya. Ia mengatakan bahwa ia sedang berdiskusi tentang rencana kawinnya dalam waktu dekat dan nanti dan harus pulang ketika bekerja di Emirates, begitu ceritanya. Sedangkan yang lain bercerita tentang tawaran gaji yang diajukan oleh pihak penguji.
Sekarang tibalah pada giliranku. Aku langsung menuju ke meja Dokter seperti apa yang kandidat lain lakukan. Hasil tes kesehatan dari salah satu laboratorium kesehatan di Surabaya aku serahkan. Lalu aku diminta untuk membuka mulutku untuk diperiksa,lalu telingaku ia intip. Aku ditanya tentang kondisi pendengaranku yang tercatat tidak terlalu bagus, mereka menerimanya setelah aku jelaskan bahwa mungkin pekerjaanku nanti tentu bukan di laboratorium, tentang pendengaran bukanlah suatu masalah. Lalu aku pindah ke meja wawancara. Aku mencoba setenang mungkin, aku lemparkan senyum sambil menganggukkan kepala kepada orang yang aku hadapi. Aku julurkan tanganku memberi salam dan ia pun membalasnya. Setelah aku duduk aku berikan surat-suratku yang sudah diperiksa awalnya oleh Pak Modi, staf Kedutaan Emirates Jakarta itu, kepada orang Arab di depanku. Aku merasa orang yang ada di depanku nampak baik, sehingga aku tidak mengalami suatu kepanikan. Aku tetap menyimpan ketikan rekaan jawaban yang telah aku persiapkan dari kantor tadi di tempat yang paling mudah diambil dari dalam amplop plastikku. Setelah selesai membolak-balik memeriksa surat-suratku lalu ia mengatakan dengan kata tanya, 'What is your job now?'. Perasaanku bagai disambar petir dan aku berkata dalam hati, 'Mati kau, ternyata perkiraanku benar". Perlahan aku keluarkan kertas jawabanku dari dalam map yang aku pegang menempel di atas kedua pahaku, aku berikan kepada orang yang berada di depanku, lalu ia mengambil dan membacanya. Tanpa mengatakan apa-apa lalu ia menawari aku jumlah gaji dan fasilitas yang akan aku dapatkan jikalau aku mau menerima tawaran pekerjaan ini. Aku menanyakan kepadanya tentang bagaimana tawaran gaji ini kepada kandidat-kandidat yang lain, ia bilang, 'Sama', maka aku menyetujuinya. Lalu aku melihat orang itu langsung memberi tanda tiga bintang di atas surat lamaranku.
Sejenak kemudian aku disodori semacam surat kontrak kerja sementara sebagai formalitas bahwa aku menerima tawaran pekerjaan yang mereka tawarkan termasuk fasilitas yang akan diberikan. Surat kontrak sementara ada dua salinan, satu salinan mereka berikan kepadaku dan yang lain mereka simpan bersma surat-surat berkasku untuk mereka.
Kemudian, setelah selesai ujian wawancara banyak orang termasuk teman-temanku tidak juga beranjak dari sekitar ruang ujian. Orang-orang dari Emirates kelihatannya baik-baik. Mereka berkata apa adanya, tidak ada rasa membatasi diri dan mereka juga terbuka. Aku tidak merasa ketakutan sedikitpun, aku merasa percaya diri terhadap meraka.
Sesampainya kembali di kantor, semua pada saling bercerita tentang apa yang dialami pada wawancara terutama tentang masalah yang ditanyakan tadi, bercerita tentang
kemungkinan apabila diterima nanti. Aku juga tidak ketinggalan, aku katakan bahwa aku menjawabnya dengan jawaban yang sudah aku persiapkan. Hari demi hari berlalu, minggupun juga berganti. Seorang teman sebagai penghubung mendapatkan khabar bahwa ada 5 orang Sarjana dan seorang Sarjana Muda sebagai kandidat yang akan diterima, salah satunya termasuk diriku. Sambil menunggu panggilan mereka meminta surat-surat berkas-berkas lainnya untuk kebutuhan evaluasi dan pengurusan keberangkatan.
Aku merasa sedikit senang, ternyata aku bisa bersaing dengan yang lain. Aku pikir, ternyata strategiku dapat berjalan dengan baik. Aku seharusnya langsung memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa karena ramalanku benar, akan tetapi hal itu tidak aku lakukan, aku yakin, karena semua ini adalah merupakan karunia-Nya semata.
Setelah itu aku dihantui perasaan keragu-raguan tentang kesungguhanku untuk merantau ke Emirates ini. Namun aku tetap mengurus surat-surat lain yang dibutuhkan sebagai persyaratan memenuhi permintaan dari Kedutaan Persatuan Emirates Arab Jakarta. Setelah semua perssyaratan dikirim, kini giliran menunggu khabar selanjutnya. Di dalam penantian ada banyak cerita di antara aku dan teman-temanku, termasuk salah seorang teman sudah melangkah lebih jauh dengan mengontrakkan rumah tingalnya kepada orang lain, dia begitu yakin bahwa pekerjaan yang ditawarkan ini sudah ada dalam genggamannya. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang berisiko karena semuanya masih belum pasti, aku teringat nasehat seorang teman kantorku, 'sesuatu yang masih tergantung dari keputusan pihak lain, harus dianggap masih belum pasti', maka menunggu kepstian sampai dengan benar-benar berangkat adalah yang paling aman.
Setelah selama sekitar tiga bulan menanti. Aku mendapatkan panggilan dan diminta untuk bersiap-siap berangkat ke Abu Dhabi, jadwal keberangkatan sekitar akhir Agustus nanti. Semakin dekat pada hari keberangkatan ke Emirates aku merasa semakin gundah rasa hati ini, anak dan istri serta kedua orang tua menjadi beban pikiranku tersendiri. Aku merasa menjadi setengah-setengah. Walau[un begitu, semua surat-surat yang diminta sebagai persyaratan oleh pihak Emirates melalui Kedutaan Persatuan Emirat Arab Jakarta tetap aku penuhi, bahkan sampai membuat surat baru dari kantor Polisi sekalipun aku penuhi juga.
Seperti yang telah aku tulis di atas, semakin dekat pada hari keberangkatan ke Emirates semakin gundah rasa hati ini, anak dan istri serta kedua orang tua menjadi beban sendiri untuk aku tinggal di belakang. Aku tahu bahwa aku tidak boleh kehilangan kesempatan lagi seperti ketika aku diterima di Pertamina sekitar tiga tahun lalu dan kemudian tidak aku ambil. Tetapi aku hampir saja kehilangan akal, aku semacam dihinggapi suatu dilema; apabila aku sedang berada di kantor dan kemudian melihat suasana kantor aku merasa lebih yakin tentang keinginan keluar dari kantorku kini, PT. Pal dan nekad merantau ke Emirates, akan tetapi, ketika aku pulang ke rumah terutama ketika melihat anakku, aku merasa lemah lagi untuk merantau dan tidak jadi nekad.
Begitu perasaan yang menghantuiku secara terus-menerus, dan keragu-raguan selalu menghinggapi dalam hatiku. Ada pemberitahuan lagi menyusul, bahwa keberangkatan akan ditunda sekitar duapuluh hari dari jadwal sebelumnya, tetapi kini sudah menyebutkan tanggal keberangkatan, yaitu rombongan akan diberangkatkan pada tanggal 20 September 1994 dari Jakarta.
Sampai saat ini sudah ada tiga orang yang sudah mendapatkan kepastian diterima oleh pihak Emirates, tetapi masih belum tahu tentang arah pekerjaan kecuali merawat kapal milik Pemerintah di sana. Aku, Sucipto kawan kantor dan Demon seorang kakak kelas dari Fakultas Teknik Perkapalan ITS, semua dari ketiga kandidat yang sudah diterima merupakan alumni dari ITS. Batas hari kehadiran di Kedutaan Emirates Arab Jakarta sudah ditentukan. Karena keraguanku banyak dari teman kantorku sering menyindirku dengan kata sebagai seorang penakut, atau sebagai anak mama atau yang lainnya. Bagi aku, sindiran mereka akan selalu aku sambut dengan senyum dan kelakar. Toh, arti sindiran atau pujian dari seorang teman bukanlah bertujuan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun. Dan aku melihat itu karena aku banyak bergaul.
Besok merupakan hari yang sudah ditentukan untuk berkumpul di Kantor Kedutaan Emirates Arab Jakarta. Sucipto sedang sibuk mengurus surat pengunduran dirinya, ia sudah mengajukan mulai dari beberapa waktu yang lalu. Aku masih saja mengantor seperti biasanya. Sucipto sudah punya tiket kereta api tujuan Jakarta berangkat sore ini. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa gundahku. Sucipto menenangkanku dan menyarankan agar aku keluar saja dari PT. Pal dan berangkat mengadu nasib ke Emirates dan selanjutnya berserah diri kepada Tuhan. Aku tersenyum saja sambil menahan rasa gejolak atas
dukungannya meninggalkan Surabaya. Aku lihat dia masih cukup sibuk dengan urusannya, karena ia sedang tidak membawa kendaraan, maka aku menawarkan diri yang akan mengantarkannya keluar kantor nanti kalau semua urusannya sudah selesai.
Pukul 14:00 Sucipto sudah menungguku di bagian depan kantor Direktorat Teknologi. Aku antar dia sampai ke halte/tempat kendaraan umum berhenti untuk menuju rumahnya. Setelah itu, aku langsung mampir ke rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantorku. Aku memberitahu istriku kalau aku baru saja mengantar teman yang akan bekerja ke Emirates nanti. Setelah aku peluk-cium putriku dan aku merasa tentram untuk tetap berada di Surabaya, lalu aku kembali ke kantor lagi. Lagi-lagi perasaan gundah datang kembali, suasana kantor membuat perasaanku ingin keluar saja. Sunnguh, lain halnya ketika aku tadi memeluk dan mencium putriku, aku ingin tetap di Surabaya saja, rasanya diterima bekerja di Emirates tidak ada apa-apanya.
Pukul 16:30 merupakan jam pulang kantorku, bergegas aku juga pulang, semua orang pulang dengan perasaan gembira, mungkin karena akan bertemu dengan keluarga mereka dan atau karena ingin istirahat setelah bekerja sejak pagi jam 8 tadi, sedangkan aku? semakin dihantui perasaan hati yang tidak menentu dan aku bawa pulang bersama sambil menaiki di atas sadel hitam sepeda motorku. Sesampai di rumah aku teringat pesan ayahku ketika aku diterima di Pertamina dulu, 'Untuk bisa masuk Pertamina tidaklah mudah, walaupun orangnya pintar kalau tdak tahu di mana lubangnya, tidak akan dapat masuk'. Sungguh nasehat yang baik, dan sangat menyentuh setelah aku merenungkannya, terutama rangkai kata terahir dari nasehatnya.
Aku kini jadi menjadi merasa berubah, nasehat ayah yang pernah ia katakan dulu itu begitu mengiang kembali di dalam pikiranku bagaikan sebuah bom yang jatuh dan meluluh lantakkan perasaan gundah dan keraguanku berubah menjadi suatu kesadaran yang lebih besar. Aku semacam menemukan diriku kembali. Aku sudah membulatkan diri bertekad berangkat ke Emirates.
Istri dan ibuku terkejut dengan keputusanku yang mendadak ini, karena mereka melihatku tidak mempersiapkan apa-apa untuk ini. Aku meminjam uang kepada ibuku. Aku ambil tas jinjing hitam ukuran sedang dan aku kemas lalu aku masukkan pakaian seadanya serta dokumen, surat dan ijasahku. Paspor aku simpan di dalam saku depan celana jeans yang sedang aku pakai. Aku memang tidak mempersiapkan kebarangkatanku ini, tiket kendaraan menuju Jakarta pun belum aku punyai. Tetangga menganjurkan aku mencari kendaraan transportasi tidak langsung ke Jakarta, transpotasi terputus-putus. Mereka menyuruhku mencegat bis di daerah Jalan Demak, dari sana menuju Kota Semarang, kemudian dilanjutkan dengan bis lain ke Kudus, dari Kudus ganti lagi untuk menuju Jakarta.
Aku langsung saja menuju Jalan Demak, beruntung aku masih mendapatkan kendaraan bis menuju Semarang, padahal hari sudah cukup petang. Di atas bis aku tidak mendapatkan kursi duduk, dan aku tidak perduli yang penting aku dapat kendaraan. Aku duduk di atas undukan untuk tutup mesin belakang kanan supir. 'Biarlah', pikirku, dapat bis saja sudah beruntung'. Aku duduk disitu sampai Gersik saja, setelahnya aku bisa tidur di atas kursi penumpang, itu menurut supir bus.
Sudah melebihi tengah malam bis sudah sampai Semarang. Aku mencari bis lain dari Semarang menuju Jakarta. Tidak ada masalah yang berarti karena banyak bis yang menuju ke sana. Bis berhenti cukup lama di terminal Kudus. Semalaman aku hanya tertidur sebentar, pikiranku terkadang masih teringat pada apa yang sedang aku tinggalkan, istriku, putriku dan kedua orang tuaku.
Pukul 10an pagi aku turun dari bis di terminal Pulau Gadung, Jakarta. Aku langsung mencari makan pagi, lalu aku menelpon teman kantor, Mustain (kini Almarhum dan semoga ia mendapatkan tempat yang baik di Akhirat), mengabarkan bahwa aku jadi berangkat ke Emirates, dan meminta bantuannya agar dia sebagai wakilku didalam mengurus surat permohonan keluar perusahaan dan mengurus urusan uang persangonku. Aku tadinya sudah mempersiapkan sebelumnya sebuah surat kuasa yang sudah aku tanda-tangani dan aku simpan di atas meja kerjaku. Setelah itu aku langsung saja ke Kantor Departemen Tenaga Kerja sesuai permintaan pihak Kedutaan Emirates dengan taksi. Sucipto dan Demon merasa terkejut ketika melihat aku datang, mereka sepertinya kegirangan. Aku lihat bukan hanya aku bertiga saja yang telah berkumpul, tetapi lebih dari sepuluh orang yang akan berangkat dengan tujuan yang sama. Setelah urusan di Kantor Departemen Tenaga Kerja selesai, aku mendapatkan kartu asuransi tenaga kerja, lalu aku simpan kartu itu sebagaimana yang diamanatkan pihak pemberi untuk selalu aku bawa.
Pak Modi dari Kedutaan Emirates Arab Jakarta mengingatkan lagi bahwa keberangkatan ke Emirates adalah besok malam, dan semua pengikut harus datang ke Kantor Kedutaan tepat waktu. Semua akan berangkat dari Kantor Kedutaan. Pasport dan tiket pesawat ia bawa, dan semua calon pekerja disuruh pulang atau mencari penginapan masing-masing. Aku diajak Demon menginap di rumah familiinya, rumah adik iparnya di suatu komplek Angkatan Darat.
Bangun pagi sekali. Demon mengajak aku sarapan di ruang makan, roti tawar dan selai berwarna merah tua sudah siap. Aku baru kali ini makan pagi dengan roti dan selai, biasanya aku makan makanan kesukaanku, nasi pecel, yang selalu aku beli di warung yang ada di depan Sekolah Teknik Negri 2 sebelah belakang rumahku, atau dekat kantorku apabila aku tidak sempat makan pagi dekat rumah sebelum aku masuk kantor. Aku pikir makan roti tidak akan kenyang, makan roti seperti makan jajan saja, tetapi, ini di rumah orang, maka aku harus tetap berterimakasih.
Kedutaan Emirates terletak di Jalan Sisinga Mangaraja. Aku lewati Jalan Kasablangka, aku lihat pertokoannya dari dalam mobil saja. Setelah semua orang sudah berkumpul, semuanya berjumlah 19 orang termasuk aku, mereka semua kemudian aku kenal dengan nama Demon, Sucipto, Hery, Samsu Rizal, Joko, Saiful, Bagus, Edi, Jumali, Junaidi, Hendro, Sigit, Untung, Nursyamsi, Eko, Sarno, Sony, dan Gempur.
Tiba di Bandara Cengkareng (sekarang bernama Sukarno-Hatta), langsung dipandu untuk check in. Semua dari kami bermuka cerah-ceriah ketika duduk dalam ruangan menunggu waktu boarding. masuk Pesawat Singapore Air Line yang sudah dihubungkan dengan belalai penghubung ke ruang boarding dan siap untuk mengangkut para penumpang yang sudah menunggu.
Petugas mulai memanggil penumpang untuk memulai masuk pesawat, dan anggota rombongan kami semua masuk lancar-lancar saja, walaupun ada beberapa barang dari kawan kami yang harus dikeluarkan dan ditinggal karena termasuk barang terlarang masuk pesawat, yaitu sebotol minyak untuk korek api yang dikenal umum dengan sebutan bensol.
Aku memikirkan keluarga dan teman-temanku yang aku tinggal dibelakang ketika termenung di dalam pesawat, wajah-wajah mereka seakan bergantian muncul dalam pikiranku. Aku berpikir kembali tentang kenekadanku ini, aku sudah hidup layak di Surabaya. Aku coba menenangkan kembali diriku yang seolah masih akan menjadi goyah lagi ini. Aku akhirnya mengingat kembali tentang perhitunganku dari segi keuangan agar aku menjadi tegar kembali, bahwa paling tidak kalau aku tidak lolos dalam masa percobaan selama tiga bulan nanti aku akan kembali dengan sejumlah uang yang nilainya sama dengan jumlah seluruh gajiku saat ini selama dua tahun bekerja di PT. Pal, tetapi kalau aku dapat berhasil lolos dan dapat bekerja sampai dua tahun sampai akhir kontrak kerja dengan Pemerintah Emirates, itu berarti aku akan membawa uang setara dengan jumlah gaji kalau aku bekerja selama duapuluh tahun dengan gajiku saat ini. Aku sungguh telah merasa menemukan diriku kembali ketika pramugari menawari aku makanan dan minuman kecil.
Sesampainya di Singapora aku harus menunggu transit selama hampir 5 jam. Bandara Internasional Changi sunnguh megah dan besar, lingkungannya sungguh bersih dan asri. Taman-taman yang ada di dalam Bandara semacam taman dari pohon plastik karena mengkilap, karena aku tidak percaya aku coba menyentuh untuk berusaha memetik salah satu daunnya, aku terkejut karena yang ditanam adalah pohon asli. Semua orang berjalan cepat sekali. Aku dan teman-temanku berkeliling keluar-masuk toko, pelayan toko ramah-ramah, setelah menyapa setiap pengunjung yang datang, lalu dibiarkan sampai pengunjung meminta bantuan. Aku dan teman-teman terus keluar-masuk toko-toko sampai menemukan tempat check in.
Menuju Abu Dhabi berangkat dini hari. Hati semakin pasrah menuju tujuan. Menu dalam pesawat aku nikmati, lalu aku tidur karena letih. Aku sepertinya tidak merasa canggung dalam pesawat, karena sudah beberapa kali naik pesawat ketika ke Jerman lalu ke Finlandia, dan ke Singapura. Semuanya karena tugas dari bekas kantorku, PT. Pal Indonesia. Aku terbangun dari tidur di dalam pesawat karena pramugari menawari makanan atau teman sebelahku yang memberitahukannya kalau makanan akan tiba. Selesai makan kemudian aku langsung tidur lagi.
Sampai di Abu Dhabi suasana masih gelap, matahari belum menampakkan hidungnya. Aku disapa oleh seorang berseragam tentara, ia berkata, bahwa ia datang untuk menjemput kami. Ia langsung menyebut namaku, setelah aku angkat tanganku lalu ia menyebut namanya, Ibrahim, lengkapnya Ibrahim Bahraini. Ia kemudian memberitahu bahwa aku sebagai ketua tim ini. Ini disebabkan karena nomor identitas dalam suratnya adalah yang paling kecil dan berarti paling senior.
Aku dan semua rekanku digiring masuk bis berwarna coklat doreng, warna corak khas kendaraan pasukan atau tentara daerah padang pasir. Jalan-jalan kelihatan terang sekali karena lampu-lampu jalan sangat kuat cahayanya. Sepanjang jalan banyak tanaman dan rerumputan, pandangan ke padang pasir terhalau oleh gelapnya pagi. Aku tahu bahwa hari ini tanggal 20 September, 1994, pagi ini suhu udara terasa sejuk, sesejuk udara di Surabaya, tidak seperti yang pernah temanku katakan sebelumnya tentang negara bertanah padang pasir ini. Aku menantang dalam hati, 'mana panas yang temanku katakan itu, kalau suhunya seperti ini, aku akan betah disini'.
Setelah bis berjalan sekitar tigaperempat jam lalu behenti di depan sebuah pintu gerbang yang terbuat dari pelat besi. Aku lihat dua tentara dengan senjata semacam AKA digendong di belakang mereka berdiri di depan pintu gerbang terbuat dari besi itu lalu mendekati bis yang aku dan rekan-rekanku tumpangi. Ibrahim Bahraini keluar menemui keduanya.
Sisi kanan dan kiri pintu besi itu adalah pagar alas terbuat dari tembok beton warna coklat muda. Di balik pintu gerbang berderet bangunan serupa seperti komplek pemukiman ala barak-barak dan kantor. Di kejauhan lebih dalam terlihat menara masjid berlampu neon warna hijau. Selesai pemeriksaan surat salah seorang penjaga pintu menengok ke dalam bis, setelah itu bis diijinkan untuk masuk ke dalam komplek.
Semua orang diturunkan dekat gedung besar berwarna putih. Lalu kemudian dibawa kedalam bangunan semacam barak tentara. Satu bangunan berukuran sekitar 6x20 meterpersegi. Di dalamnya ada hall dengan delapan tempat tidur, dan di salah satu ujungnya ada ruangan terpisah dengan dua tempat tidur dan dua lemari pakaian, sedangkan ujung lainnya beberapa lemari pakaian. Rekan-rekanku diberi dua bangunan. Lalu aku dan Demon dimintanya menunggu karena akan ditempatkan di tempat lain.
Ibrahim berkata bahwa tingkatanku dan Demon jauh di atas rekanku yang lain. Aku dan Demon diberi akomodasi dalam bangunan permanen baru dalam komplek ini sekitar seratus meteran jauhnya dari tempat tinggal rekan-rekan yang lain ini. Aku dan Demon diberi satu kamar lengkap dengan perabot meja kursi dan lemari pakaian. Kamarku terletak di sudut kanan dekat pintu masuk. Aku lihat ada delapan kamar dalam satu bangunan akomudasiku. Tidak jauh dari luar pintu kamarku ada satu kamar basah dan di dalamnya ada empat kamar mandi shower dan empat toilet terpisah, sedangkan satu dapur dipisah dari kamar mandi dan toilet oleh lorong keluar melalui pintu belakang.
Hari pertama aku lalui dengan baik. Sore hari berikutnya aku bertemu dengan Major Al-Shamsi. Ia yang mengetuai tim ketika mewawancarai aku dulu. Aku ia ajak ke mess perwira, dengan naik mobil mercedes putihnya, dan di dalam mobil mewah itu aku merasa canggung. Demon duduk di kursi depan berdampingan dengan supir yang juga seorang Mayor, dan aku di kursi belakang. Ini untuk pertama kali aku naik mobil Mercedes, suatu mobil mewah buatan Jerman. Suara mesinnya dapat aku katakan tidak terdengar, mobil bergerak seperti tanpa suara mesin, itu karena kekedapan suaranya sangat bagus, atau karena suara mesinnya yang tidak nyaring.
Mess Perwira lantainya dilapisi karpet warna hijau, setelah pintu masuk ke arah kiri langsung ruang untuk bermain snooker dengan tiga meja snooker dan satu tennis meja, berikutnya tempat cuci tangan dan kamar kecil, lalu ada dapur dan ruang makan besar dengan meja prasmanan yang ditata berada di tengahnya. Semua meja makan berbentuk bundar, masing-masing meja dikelilingi oleh enam kursi, taplaknya berwarna motip kembang berwarna coklat muda, di atas taplak diberi lembaran plastik warna bening. Mayor Al-Shamsi memintaku untuk makan di Mess Perwira ini sampai mendapatkan akomodasi di luar komplek. Aku baru tahu bahwa aku sedang berada di dalam komplek Angkatan Laut Emirates.
Hari pertama kegiatanku adalah menyelesaikan surat-surat yang diperlukan untuk persyaratan pembuatan kontrak kerja dan pembuatan visa atau surat ijin tinggal (resident visa). Aku harus menjalani tes kesehatan lagi. Aku diperiksa lebih seksama lagi. Aku diminta berpuasa setelah pemeriksaan detak jantung dengan alat monitor jantung melalui komputer, pemeriksaan paru-paru dengan di rongsen, dan telinga, hidung, teggorokan dan mata tidak luput dari pemeriksaan juga. Aku lalu diminta berpuasa mulai malam ini untuk pemeriksaan besok pagi, pemeriksaan air kencing dan darah.
Sehari kemudian hasil pemeriksaan sudah dapat diketahui. Aku dipanggil oleh Dokter ahli Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Ia menanyakan tentang specialisasi pekerjaan yang akan aku lakukan. Dokter belum dapat meloloskan aku karena kondisi pendengaranku. Setelah aku jelaskan tentang lapangan pekerjaan yang akan aku hadapi kemudian Dokter bertanya kalau aku Muslim atau bukan. Setelah aku katakan bahwa aku Muslim lalu ia memintaku untuk membacakan ayat dari Alqur'an. Kemudian ia menyatakan bahwa aku fit dan ia tandatangani hasil tes kesehatanku dengan catatan pendengaranku setelah aku membaca ayat dari Alqur'an. Dokter yang seperti keturunan Arab itu memberi laporan hasil tesku sambil tersenyum.
Ada dua temanku yang mempunyai masalah dengan tes kesehatan mereka, satu orang mempunyai masalah dengan paru-parunya, dan yang lain dengan hatinya. Rumah Sakit tempat tes kesehatan kemudian merawat mereka sampai mereka benar-benar dinyatakan fit. Sungguh luar biasa, calon tenaga kerja yang mempunyai masalah dengan kesehatannya masih diusahakan untuk disembuhkan.
Sebagai calon tenaga kerja di Departemen Pertahanan Emirates akan diwajibkan lolos tes skreening pihak keamanan. Aku mempunyai masalah dengan namaku. Mereka tidak melayakkan seseorang yang mempunyai nama dengan hanya terdiri dari satu suku kata saja. Aku dan Sucipto mempunyai masalah yang sama, nama yang tertulis di dalam pasport hanya satu nama. Setelah aku jelaskan bahwa nama presiden Indonesia saat ini dan yang lalu mempunyai satu nama, mereka akhirnya menerimanya dengan catatan di dalam sistem komputer mereka akan ditambah nama kedua yang diambil dari nama ayahku, maka namaku sekarang menjadi Nasuki Marsali, dan Sucipto menjadi Sucipto Munawir.
Memulai untuk bekerja hanya diijinkan setelah seseorang sudah menerima visa tinggal tetap. Aku dan rekan-rekanku harus menunggu selama sekitar tiga bulan sampai mendapatkan visa tinggal. Kegiatanku setiap hari hanya makan tidur, jalan-jalan dan mencari hiburan di dalam komplek saja.
Di dalam Mess Perwira aku bertemu orang lokal berpangkat Letnan satu. Ia kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama Walid Al-Tamimi. Ia berkata kalau dia akan menjadi bosku dan Demon nantinya. Aku dan Demon mengobrol sebentar, Demon lebih mendominasi obrolan pertama dengan Calon Bosku dan Demon ini, Demon mempunyai kemampuan berbahasa Ingris jauh lebih baik daripada diriku.
Begitulah keadaanku sampai aku mendapatkan visa tinggal dan memulai melakukan pekerjaan sehari-hariku sebagai seorang tenaga ahli atau Service Engineer di Angkatan Laut Persatuan Emirates Arab.
Comments
Post a Comment