SETIAP ORANG AKAN MELALUI MASA KANAK-KANAK

ARTI SEBUAH NAMA

'Sesungguhnya seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menjadikan ia Muslim, Majusi atau yang lainnya'.

Walaupun sebelumnya wanita muda ini pernah melahirkan tiga kali, akan tetapi semua dari tiga bayi laki-laki yang pernah ia lahirkan, semuanya dapat dikatakan meninggal sejak sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Si bayi orok yang diberi nama Ahmad anak yang pertama lahir dengan ukuran yang kecil ubnormal. Dari nama anak ini kedua pasangan muda yang sedang dirundung nestapa ini setelahnya oleh orang di sekelilingnya dipanggil Pak Emmat dan Bok Emmat, Bok adalah panggilan bag orang perempuan yang sudah dituakan yang berarti Bu, kependekan dari ibu. Emmat kependekan dari Ahmad.

Demikian juga orok berikutnya Abdullah, serta demikian pula untuk orok lainnya Muhammad, semuanya sama saja. Apalagi tenggang waktu kehamilan yang cukup lama antara kehamilan calon bayi satu dan lainnya. Hal ini merupakan permasalahan tekanan batin tersendiri, tenggang waktu kehamilan itu bisa sampai menunggu sekitar tiga sampai dengan enam tahunan lamanya. Dan wanita muda itu bersama suaminya harus melaluinya dengan sabar dan dengan sambil tetap berusaha.

Usaha itu nampaknya tidak menghasilkan sesuatu yang sia-sia ketika kehamilan yang ke empat sudah mulai dirasa oleh wanita tak berpendidikan formal itu. Kesempatan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu tidak disia-siakan lagi, dengan tanpa membuang waktu dibawalah wanita yang katanya merasa hamil itu oleh Pak Emmat, suaminya ke dokter kandungan. Dan benar saja, dokter kandungan di Rumah Sakit Karang Menjangan yang kini dikenal dengan nama Rumah sakit dr. Soetomo, ia dinyatakan hamil. Untuk menjaga kehamilan yang ke empat ini, seterusnya selama masa kehamilan, mereka rajin secara rutin memeriksakan kandungannya ke Rumah Sakit itu dan mereka membiarkan kandungan Bok Emmat ini tetap dalam pengawasan dokter kandungan.

Anjuran serta nasehat dokter selalu dilaksanakan untuk menjaga agar calon anak yang sedang dikandung oleh wanita usia tigapuluhan dapat selamat sampai dilahirkan. Sebelas bulan lamanya calon bayi itu harus berada di dalam kandungan seorang calon ibu yang polos itu, tidak seperti kebanyakan usia kandungan sampai melahirkan yang memakan waktu selama sembilan bulan. Walaupun ada beberapa bayi yang terlahir pada usia kandungan ganjil  lainnya, yaitu tujuh bulan.

Bayi yang telah lama mereka rindukan itu kemudian dapat terlahir dengan selamat di rumah sakit umum terbesar di Surabaya. Bayi laki-laki yang terlahir normal itu akhirnya oleh ayah baru yang enerjik itu diberi nama, Nasuki. Itulah aku...!.

Tentu nama itu bukanlah asal ambil saja, melainkan suatu nama pemberian dari orang yang dianggap pintar oleh ayahku, yaitu seseorang yang memang layak untuk dimintai bantuan didalam memberikan sebuah nama. Nama merupakan sesuatu sebutan yang akan melekat kepada diri seseorang setelah dinisbatkan kepada seorang bayi yang baru lahir, untuk itu pemberian nama sebenarnya bukanlah perkara sederhana. Ia merupakan suatu yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. demikian menurut keyakinan banyak orang.

Mungkin memang benar bahwa nama seseorang itu sudah ditentukan sejak sebelum terlahir ke alam dunia. Konon di alam tak  tampak sana, entah di mana, ada sebuah pohon. ya itu pohon Annas, yang berarti "Manusia". Pohon itu demikian rindangnya. Usia pohon itu yang mengetahui hayalah Sang Pencipta pohon itu sendiri. Di setiap daun dari pohon itu bertuliskan nama-nama dari manusia yang akan terlahir ke dunia. Kalau begitu namaku sedang sudah ada di daun pohon Mnusia itu. Juga bagi mereka yang belum terahirkan ke alam dunia apabila ada nama tertulis pada daun pohon Maanusia itu, nantinya akan terlahir. Untuk itu, nama-nama apasaja yang telah diberikan oleh siapa saja di dunia ini ada hubungannya dengan nama-nama yang sudah ditulis pada sitiap daun pohon Manusia di alam tak tampak sana. Daun-daun itu akan tetap segar pada pohon itu seiring segarnya kehidupan manusia dengan nama yang tertulis pada daun-daun itu. Juga suatu daun akan berubah menjadi layu manakala si manusia yang menyandang nama pada daun itu menjadi sakit. Dan daun akan gugur apabila si yang punya nama meninggal dunia. Untuk itu, aku tidak akan pernah menyesali tentang apapun sebutan dari namaku, ia sudah tertulis di daun pohon Manusia di sana sejak entah kapan pastinya. Orang tuaku atau siapapun yang memberiku nama Nasuki, dia atau mereka hanyalah sebuah perantara atau jalur agar nama itu menjadi panggilanku. Percayakah pembaca..?

Tentang namaku, sebenarnya diambil dari sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu Nusuk yang berarti ibadah, sehingga Nasuki (Nusuki) berarti ibadahku, paling tidak itulah menurut pengertianku. Tetapi lain halnya apabila salah satu tetangga rumah mengartikannya, mereka menggunakan bahasa suku Madura dalam mengartikan istilah namaku, Nasuki mereka anggap suatu singkatan atau, merupakan suatu kependekan  dari 'Lakoh lok ghenah, bisa soghi' arinya, 'Bekerja tidak selayaknya, tetapi bisa menjadi kaya', pada hal aku masih baru duduk di bangku SMP, belum bekerja..!.

Seperti penuturan kedua orang tuaku dan orang dekat disekeliling rumahku, sejak kecil aku selalu diterpa sakit-sakitan. Dalam menghadapi seorang anak semata wayang yang sering dilanda sakit-sakitan itu, orang tuaku tidak tinggal diam. Ketika hamil saja mereka membela dengan memberikan biaya perwatan melalui dokter spesialis walaupun keuangan yang dapat dikatakan pas-pasan. Tentu sekarang setelah bayi itu terlahir ke dunia dan memiliki masalah sakit-sakitan, mereka selalu berusaha untuk mengobatinya, baik itu dengan cara membawaku ke dokter dan/atau juga ke 'Orang Pintar'. Orang Pintar adalah seseorang yang tidak menempuh pendidikan formal sebagai dasar penunjang didalam melaksanakan tugas pengobatannya, ia biasanya hanya mengandalkan kekuatan doa atau mantra atau tulisan huruf Arab pada suatu tempat wadah air (gelas minum, mangkok atau piring) atau kertas tulis lalu diisi/dicampur dengan air putih untuk diminum oleh si pasien.

Karena seringnya sakit dan (mungkin) karena jengkelnya, salah satu dari Orang Pintar langganan orang tuaku akhirnya menyimpulkan bahwa, namaku itu harus dirubah. Hal  ini tentu bukan tanpa alasan walaupun aku sendiri tidak mengetahui dengan pasti alasannya. Ah itu tidak menarik untuk aku ketahui walaupun apabila aku mengetahuinya aku juga akan senang. Pendek kata akhirnya Orang Pintar itu merubah namaku dengan nama baru, mungkin dia memilih sesuai dengan apa yang dia kehendaki, atau bahkan dia memiliki suatu perasaan tersendiri. Yang inipun aku juga tidak mengetahuinya, dan diapun memilih nama baruku dengan nama; 'Abdul Rofiq'. tentu hal ini memiliki tujuan agar aku dapat segera sembuh dar sakitku, agar aku tidak selalu sakit-sakitan lagi, karena nama Nasuki yang aku sandang sejak bayi dianggapnya tidak sesuai, nama itu sebagai biang penyebab sakit-sakitan si anak kecil kurus kering yang tetap bersemangat hidup itu. Sejak saat itu namaku berubah, dan akupun mulai dipanggil Abdul Rofiq oleh keluargaku. Orang tuaku selalu memperkenalkan aku sebagai Abdul Rofiq.  Dan sejak saat itu aku selalu dipanggil dengan nama baruku pemberian Orang Pintar kenalan orang tuaku itu. Dan orang disekitarku biasa memanggilku dengan sebutan nama pendekku, yaitu 'Dul', kependekan dari Abdul, atau terkadang aku dipanggil dengan nama 'Durrofit', sama juga ini berasal dari kependekan Abdurrofiq dan kependekan lagi dari Abdul Rofiq.

Abdul Rafiq adalah nama dari dua kata Bahasa Arab. Abdul berarti abdi, adalah orang yang mengabdi, dan Rofiq adalah salah satu nama julukan Tuhan (Allah) yang berarti, Yang Maha Peninggi atau ada yang mengartikannya, Yang Maha Meninggikan Derajat. Itulah nama yang melekat pada diriku di rumah, suatu kampung kumuh di Surabaya tempat aku tinggal bersama orang tuaku, dan mereka tetap menggunakannya dalam memanggilku di kampung sampai aku sekolah SMA.

Walaupun nama itu dipakai sebagai nama panggilanku setiap hari, akan tetapi nama yang tertulis didalam Surat Lahir dari Rumah Sakit tetap tidak dirubah, sehingga untuk urusan formalitas nama yang diajukan selalu nama formal seperti yang tertulis pada Surat Lahir dari Rumah Sakit itu. Untuk itulah waktu ada temanku sekolah SMA tersesat ketika mencari rumahku kemudian bertanya kepada tetangga dengan menanyakan, "Dimana rumah Nasuki?", maka para tetangga tidak ada yang mengetahuinya, bahkan mereka tidak mengenal siapa itu Nasuki. Ada Nasuki lain di dalam kampungku tetapi ia bukanlah seorang murid SMA, melainkan orang dewasa yang sudah bekerja. Kemudian para tetangga terkejut ketika orang yang bertanya tadi kemudian aku temui, lalu aku ajak masuk ke dalam rumahku, dan kemudian ketika dia pulang aku temani dia untuk diantar sampai ke luar depan mulut kampungku. Orang yang keheranan tadi kemudian bertanya padaku ketika aku kembali ke rumah; "Temanmu tadi bertanya tentang rumah Nasuki tetapi saya tidak tau", lalu aku jelaskankan bahwa nama ku di sekolah adalah Nasuki. Orang itu lalu berkata dengan logat Madura yang kental; ' Dho a dho, namamu Nasuki yah, Dul..!', yang berarti; Oh.. alah, namamu Nasuki toh, Dul..!.

Puncak dari sakitku selama itu mengingatkan ku ketika berada di sebuah ruang Rumah Sakit Karang Menjangan (sekarang disebut RSUD Dr. Sutomo) tempat aku dulu dilahirkan dan aku kini kembali lagi ketika aku sudah berusia 2 tahun. Kali ini aku datang untuk melakukan pengobatan atas deritaku karena mengidap Kencing Batu.  Dan aku kini sedang berada di atas tempat tidur berjeruji (orang Surabaya menyebut tempat tidur demikian dengan sebutan 'ranjang') menunggu operasi karena kencing batu yang aku derita.

Berikut sedikit penjelasan tentang kencing batu menurut website:   http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/02/kencing-batu-kencing-menetes-mata-menangis/;
Kebanyakan orang sering meremehkan kebiasaan ‘anyang-anyangan’ (bahasa Jawa: kencing sedikit-sedikit tapi sering). Namun, ketika hal ini berlangsung terus-menerus hingga muncul keluhan lain seperti nyeri yang cukup hebat di bagian pinggang, kita baru menyadari kalau ini tak sekadar gangguan buang air kecil semata.


‘Anyang-anyangan’ ternyata dapat menjadi sinyal kuning adanya batu ginjal yang berakibat munculnya kencing batu. Penyakit kencing batu adalah keluarnya batu-batu yang sangat kecil saat buang air kecil hingga terkadang mirip pasir. Gejala kencing batu sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala sampai nyeri pinggang. Selain itu, kencing bisa berdarah , bisa juga tidak.


Umumnya, gejala penyakit kencing batu/batu ginjal yang banyak dikenal orang adalah munculnya nyeri/pegal pada pinggang belakang bagian atas atau tepatnya di bawah iga terakhir (baca: kolik ginjal). Pada taraf tertentu sakit yang ditimbulkan berupa nyeri menusuk-nusuk, menjalar ke arah samping mengikuti alur saluran kemih. Kadang gejala tersebut diikuti buang air kecil tidak lancar dan nyeri, air seni berwarna kemerahan seperti air daging, dan dapat disertai mual dan demam.


Penyebab kencing batu bermacam-macam, antara lain aspek genetic (faktor keturunan), bentuk anatomis saluran kemih yang tidak normal sehingga menyebabkan aliran air seni yang mengandung kalsium terhenti dan lama-kelamaan terakumulasi menjadi batu, peningkatan kalsium dalam air seni karena mobilisasi kalsium tulang akibat seseorang tidak bisa bergerak lagi, misalnya karena lumpuh, air kemih yang terlalu pekat, yang terjadi akibat kebiasaan kurang minum sehingga air seni sedikit dan pekat. Selain itu, makanan dan minuman yang kurang higienis, berkadar kalsium oksalat tinggi, misalnya makanan dari olahan susu, softdrink, makanan berkadar garam tinggi, makanan manis, vitamin C dosis tinggi, kopi, teh kental memacu terbentuknya air seni pekat sehingga memudahkan terjadinya endapan pada ginjal.


Konsumsi vitamin C dan D dosis tinggi atau sekitar 100-300 mg pada seseorang yang secara genetik berbakat, akan memudahkan terbentuknya batu sebab dalam vitamin C kandungan kalsium oksalatnya tinggi, sedangkan vitamin D dosis tinggi meningkatkan absorbsi kalsium ke dalam usus. Di samping itu, obat-obatan untuk kanker (obat sitostatik) mempermudah terbentuknya batu karena meningkatkan asam urat.


Batu (calculi) berasal dari hasil penyaringan zat-zat buangan dari dalam tubuh oleh ginjal yang tidak dapat dikeluarkan bersama air seni sehingga mengendap di kandung kemih, piala ginjal atau piramid ginjal dan mengakibatkan terbentuknya batu ginjal jika di dalam ginjal dan batu saluran kemih jika di dalam saluran kemih. Adanya batu pada kandung kemih atas menjadi penyebab utama gagal ginjal. Pembentukan batu yang terjadi perlahan itu dipengaruhi oleh tingginya kadar asam urat, kalsium oksalat, dan zat-zat lain pemicu terbentuknya batu seperti mukoprotein, berkurangnya kadar zat inhibitor (pencegah terbentuknya batu), misalnya sitrat, adanya infeksi.


Jenis batu bermacam-macam tergantung bahan pembentuknya dan tempat terbentuknya, misalnya kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, batu sistin yang terjadi akibat faktor genetik, batu magnesium amonium fosfat (struvit), batu matrix, santin. Begitu pula bentuk dan warna batu, ada yang hitam, coklat, putih, halus, kasar/ tajam sehingga dapat melukai saluran kencing


Pengobatan penyakit ini ditentukan oleh jenis batunya, misalnya batu kalsium dapat dicegah dengan mengurangi konsumsi makanan berkalsium seperti makanan olahan dari susu, kedelai. Untuk batu asam urat biasanya diberikan obat alupurinol atau dengan mengubah suasana asam dengan garam natrium bikarbonat di samping obat alupurinol tadi. Sedangkan batu yang tidak disertai adanya ekskresi kalsium atau asam urat tinggi, dicoba dengan minum banyak dulu, belum perlu obat. Jika menghendaki cara yang lebih canggih, dapat digunakan sinar laser, tindakan bedah seperti menembak batu (ESWL), ureteroskopi (alat teropong sekaligus dapat menghancurkan batu), atau PCN (percutaneous nephrolythotomy) alat masuk dari dinding belakang ke dalam ginjal dan batu diambil atau dihancurkan. Tindakan lain adalah operasi. Untuk mencegahnya, terapkan pola makan yang sehat dan seimbang dan jangan makan garam dan protein yang berlebih. Untuk batu asam urat, hindari konsumsi berlebihan jeroan, alkohol, kaldu, dan sea food.

Aku sangat sedih ketika kedua orang tua harus pulang meninggalkan aku sendirian di atas ranjang Rumah Sakit itu, dan di sekeliligku hanya terlihat pasien anak-anak kecil berada di dalam ranjang mereka masing-masing yang seemuanya dibatasi tembok putih seperti Hall. Aku tidak merasa aman dan selalu dihantui oleh rasa takut manakala semua orang dekat yang aku kenal mulai meninggalkan ruang di mana aku dirawat. Para tamu yang menjenguk dan kedua orang tuaku selalu memberitahu aku sebelum mereka pulang meninggalkan aku sendirian guna untuk membesarkan hatiku mereka selalu berkata, bahwa mereka akan tetap tinggal dan tidur di luar ruang tempat aku tidur. Agar aku tidak terlalu resah dan khawatir, terutama ibu dan ayah tetap berada di Rumah Sakit juga. Aku percaya bahwa ayah dan ibu memang tetap berada di luar. Mereka selalu menunjukkan wajah mereka melalui lubang angin-angin bagian bawah dinding kamar dekat pintu keluar sambil memandangiku yang tetap menangis. Mereka tetap menampakkan wajah mereka dari lubang angin-angin itu sampai tangisan ku benar-benar berhenti.

Ketika malam tiba, dan di tengah malam aku terjaga dari tidurku lalu kemudian aku berhasrat untuk buang air kecil, maka ibu yang selalu aku panggil, namun yang datang perawat sambil berkata; bahwa, kasihan ibu sedang kelelahan dan ia sedang tidur di luar.

Suatu waktu ayahku menuturkan; bahwa dia dan ibuku sudah hampir frustasi dengan kencing batu yang sedang saya derita. Mereka sudah berusaha mencari pengobatan kepada 'orang pintar' hampir di seluruh pelosok Jawa Timur sampai akhirnya merekapun dihantui rasa kepasrahan. Seperti orang-orang yang beragama apabila diliputi oleh permasalahan dan sudah melakukan usaha untuk keluar dari masalah yang sedang dihadapi, pada titik tertentu akan mengalami kepasrahan. Itulah yang terjadi kepada kedua orang tuaku sampai ibuku bermimpi di dalam tidurnya, bahwa aku dalam mimpinya sedang memakai baju putih kemudian dibawa ke dalam mobil ambulan. Lalu mimpi itu diceritakan kepada ayah, dan ibu menyimpulkan; bahwa untuk menyembuhkan kencing batu yang sedang aku derita, maka aku harus dibawa ke Rumah Sakit, itu harus, titik!. Kata ayahku.

Bagi ibu dan ayah, menyerahkan satu-satunya anak untuk ditinggal, diobati dan dioperasi di Rumah Sakit merupakan perjuangan mental yang sangat berat dan menyeramkan, karena jika seandainya memungkinkan dengan pengobatan tanpa operasi, apapun yang harus dikorbankan atau berapapun biaya yang diminta, pasti akan mereka lakukan dan diusahakan untuk dipenuhi. Tetapi semua jalan nampaknya sudah ditempuh, semua usaha sudah dijalani, semua tempat sudah dikunjungi dan sampai akhirnya datanglah suatu 'ilham' melalui mimpi kepada ibu yang aku cintai. Merekapun menyerah pasrah sambil tidak mempercayainya seolah aku bukanlah akan dioperasi, demikian tutur mereka.

Aku teringat terakhir sebelum dioperasi, petugas kesehatan yang mendampingiku memintaku untuk menghitung jumlah gelas yang ada diatas meja operasi, kemudian entah sampai hitungan keberapa akhirnya aku tertidur karena pengaruh anastesi yang telah aku terima. Tau-taunya ketika aku sadar di sisiku kedua orang tuaku sedang menungguiku. Yang aku ingat adalah rasa haus yang demikian dalam ketika aku terbangun. Dan aku rasa hanya setetes air saja yang aku minum dari dalam gelas yang aku teguk dari tangan ayahku.

Setelah operasi usai, batu yang telah dikeluarkan dari kandung kemihku ditunjukkan kepada ibu dan ayah. Menurut penuturan mereka ukurannya sangat besar, sebesar biji duren dan bergerigi, layaknya batu karang.

Sungguh, bisa dibayangkan bagaimana penderitaan seorang anak sebelum usia 2 tahun di dalam kandung kemihnya sudah tersarang batu sebesar biji duren!!. Ketika berhasrat membuang air kecil saja sulitnya bukan kepalang, menimbulkan rasa perih, bukan lagi rasa anyang-anyangan saja yang aku rasakan, karena begitu sulitnya tidak jarang air besarpun keluar mendahului sebelun air kecil yang dihasratkan, memang rasa perih saluran air kencing bukan kepalang aku rasakan akibat kencing batu ini. Derita itu aku alami setiap aku berhasrat untuk membuang air kecil ataupun air besar.

Operasi itu telah meniadakan derita yang aku alami selama itu. Sungguh, tekad kedua orang tuaku untuk membulatkan hati mereka menyerahkan anak semata wayang mereka ke Rumah Sakit untuk dioperasi merupakan sebuah langkah yang sangat aku junjung tinggi. Dalam benakku berkata; bahwa mimpi 'ilham' pada ibu merupakan petunjuk Tuhan di dalam menjawab ujian-Nya pada kehidupan kami sekeluarga agar kami lebih bertawakkal dan bersukur.

Walaunpun membesarkan anak merupakan tanggung-jawab dan kewajiban orang tua, tetapi aku merasa sangat berhutang kepada kedua orang tuaku. Aku dapat merasakannya tentang bagaimana nilai seorang anak bagi orang tua setelah aku sendiri memiliki anak, apalagi aku merupakan satu-satunya anak yang masih hidup dari empat bersaudara yang mereka miliki. Kalau aku teringat tentang hal itu, terkadang aliran air mata keluar tidak dapat aku bendung karena rasa pilu, pilu terhadap jasa kedua orang tua yang belum cukup aku balas sampai mereka meninggalkan dunia ini.

Aku mulai hidup normal tanpa terbebani sakit karena kencing batu yang sungguh-sungguh sangat menyiksa. Pada masa awal setelah hampir pulih dari operasi aku dititipkan kepada nenekku ikut ke Desa di Bangkalan, Madura. Lukaku yang belum tertutup betul masih terbuka sebesar buji kacanh hijau, namun nenekku harus pulang ke Madura karena dia kepikiran tentang perawatan sapi-sapinya di sana.  Seperti kehidupan di desa nenekku kebanyakan, keseterilan bukanlah sesuatu yang diutamakan. Maka lukaku menjadi semakin besar, dan cukup  mengkhawatirkan. Lalu ketika ayah menengok keadaanku seminggu kemudian, ia dapati lukaku menganga seolah bagian dalam perutku akan keluar saja, dan mulai saat itu aku dibawa ke Surabaya lagi dan berobat lagi sampai aku benar-benar sembuh.

Masa awal kesembuhanku bukan berarti semua rasa sakit menjadi hilang, walaupun rasanya jauh lebih baik dari sebelunya, akan tetapi ketika ku ingin kencing aku masih merasakan sakit terutama di bagian bawah tempat air kencingku mengalir. Rasa itu akan datang walaupun aku tidak sedang buang air apabila aku terlalu banyak berlari. Mungkin karena hentakan akibat aku berlari ada organ yang belum juga mapan menyebabkan guncangan dan akhirnya aku merasa sakit.

Lambat-laun kehidupanku seperti anak-anak sebayaku lainnya walaupun badanku kelihatan lebih kurus dari kebyakan teman lainnya. Sejak saat itu aku dapat bermain dengan teman-teman sebaya seceriah seperti anak lainnya di sekitar rumah kampungku di Surabaya. Aku memang susah makan nasi, sehari-hari aku kebanyakan dipenuhi oleh makan makanan jajan yang dibeli dari warung ataupun orang lewat memjajakan makanan jajan. Aku selalu minum susu, merupakan miniman suplemen istimewa bagi anak yang hidup di kampungku saat itu. Seiring berjalannya waktu lambat-laun aku akhirnya menyukai juga makan nasi dengan lauk dari daging, akan tetapi akibatnya lambat laun aku  berhenti minum susu juga.

Ketika ayah bekerja di tempat kerjaya dan ibu berjualan di Pasar, aku selalu dijaga oleh nenek dari ibu. Aku merasa sebagai anak mandiri sejak kecil karena sudah biasa ditinggal oleh kedua orang tua sejak pagi hingga siang hari. Nenek selalu menuruti permintaanku tentang makanan yang aku minta, utamanya makanan dari warung sebelah ataupun penjaja yang lewat depan rumah, maka perutku kebanyakan selalu terisi oleh jajan.

Kerena kesikbukan ayah dan ibu dalam mencari nafkah sebagai penunjang hidup keluarga, maka aku dan nenek dikirim ke Madura, karena nenek juga harus menjaga ternaknya dan rumah, bertani  serta melakukan kegiatannya hidup di desa. Sejak saat itu akupun hidup di desa terpencil bernama dusun Secang, desa Pakong, klebun Pakaan, kecamatan Modung, kabupaten Bangkalan, Madura. Sebuah desa berada di tepi barat bukit (gunung) kapur yang berbatuan, Embilleh, desa yang dialiri air gemericik sepanjang tahun dari sumber air sekitar gunung. Gunung yang tidak pernah berkabut. Gunung yang lerengnya ditempati oleh orang bercocok tanam. Gunung yang mempunyai buah pohon-pohon liar yang bebas dipetik dan dimakan; jambu biji, srikaya, rambosa, keres dan banyak lainnya menyebabkan aku selalu berkunjung setiap pagi. Gunung yang akhirnya banyak menyimpan kenangan di masa kecilku.

Akupun memulai hidup di lingkungan yang tidak seperti biasanya, rumah tinggal tidak seperti rumah orang tuaku di Surabaya, dimana setiap rumah dihuni oleh satu keluarga, bahkan terkadang satu kamar dihuni oleh satu keluarga termasuk anak-anak mereka yang masih kecil tumplek blek. Di Desaku yang disebut keluarga merupakan keluarga besar. Di rumah nenek ada nenek (nenek bilang; kakek sudah lama meninggal), bibi Lina dan keluarganya(Teh Mayan, suaminya dan 5 anaknya), bibi Sinten yang tidak pernah berkeluarga. Di desaku yang disebut rumah adalah sekelompok bangunan terpisah yang berderet membentuk persegi menghadap tanah kosong bagian tengahnya, kelompok bangunan itu terdiri dari Rumah Utama di bagian selatan, lalu Balai di bagian utara, Langgar di bagian barat, Kandang (sapi, kambinh dan ungas) di bagian timur, Kamar Kecil untuk buang air kecil dan wudhu (disebut padasan) di sebelah selatan atau utara kandang, serta Dapur di sebelah barat rumah dan selatan langgar.

Rumah Utama terdiri dari beberapa ruang tidur dan ruang tamu yang ditempati oleh kepala keluarga atau oleh keluarga yang dituakan, dalam keluarga ini adalah bibi Lina dan keluarganya.

Balai terdiri dari beberapa kamar tidur dan ruang tamu sama seperti Rumah Utama ditempati orang nomor dua dikeluarga besar itu, dalam hal ini nenek dan bibi Sinten.

Langgar dibangun dari kayu seperti rumah-rumah diatas sungai yang diberi kaki-kaki setinggi kira-kira 75 centimeter di atas tanah, sehingga kelihaatan kosong agar nyaman untuk dibuat duduk-duduk. Lantai langgar yang terbuat dari potongan bambu lebar 2 centimeteran dan sepanjang lebar Langgar digelar di atas tulang-tulang kayu, agar lebih nyaman sebagai tempat duduk, maka digelar tikar dari anyaman daun aren, akibatnya ketika berjalan di atas lantai langgar akan keluar suara kuat-kuak. Selain dipakai untuk tempat beribadah terutama shalat untuk seluruh keluarga langgar juga dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu laki-laki, sedangkan untuk tamu perempuan diterima di ruang tamu Rumah Utama atau Balai tergantung tamu yang datang tujuan utamanya untuk siapa.

Dapur dibuat terpisah dari seluruh bangunan lainnya agar asap dari dapur tidak mengganggu ruangan di sebelahnya karena masih mengandalkan sumber api dari kayu bakar yang mana kayu-kayu bakar umumnya menghasilkan asap yang lebih banyak dibanding dengan memakai gas atau minyak tanah.

Kandang dibuat sebagai tempat penyimpanan hewan ternak (biri-biri dan unngas) dan pakan. Kandang bagian bawah dipakai sebagai tempat memelihara hewan ternak seperti sapi, kambing, bebek, itik, dan ayam sedangkan di bagian atas kandang dibuatkan semancam lantai dari anyaman bambu untuk dipakai sebagai tempat penyimpanan rumpur kering, dan atau kulit jagung.

Kamar kecil (padasan) hanya dipakai sebagai tempat berwudu, juga untuk buang air kecil dalam keadaan petang atau darurat, ini semacam bangunan darurat berdinding anyaman bambu disebut 'sesek' dan lantainya hanya batu yang ditata sejajar lebih tinggi dari tanah dan aliran air buang diarahkan ke belakang padasan atau kandang. Mengingat untuk berwudu atau buang air kecil dengan harus pergi ke sungai tanpa penerangan keadaan sekitar cukup gelap dan khawatir adanya ular di jalan. Air di bak air dalam padasan harus diambil dari sungai atau sumur yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah nenek, untuk itu pemakaian air benar-benar harus dijaga agar tidak boros.

Ayah biasanya setiap dua minggu sekali datang berkunjung untuk menemuiku di desa, hari-hari penantian aku lalui dengan bermain ke kali, ke pematang ladang/talun, bergumul dengan alam, baik tumbuhan ataupun hewan piaraan seperti bebek, burung, dan hewan liar seperti belalang, kupu, jangkrik, kuterik, terkadang memancing ikan ke sungai dekat rumah besama teman sebayaku. Ketika tiba hari di mana jadwal ayah berkunjung, sepanjang siang sampai sore aku menunggu ayah datang dengan cara duduk menghadapkan wajah ke arah jalan dimana ayah biasa muncul dari Surabaya.

Rasa sedihpun datang keesokan hari ketika ayah harus kembali lagi ke Surabaya. Aku akan merasa sunyi lagi, akan merindukannya lagi. Ayah tidak lupa untuk mencium keningku beberapa kali sebelum meninggalkan aku yang akan dijaga oleh nenek di Desa, ayah selalu membasahi jarinya dengan ludahnya untuk kemudian ditempelkan di ubun-ubun kepalaku. Sekali aku pernah bertanya kenapa ayah selalu memberi ludah di  kepalaku, ayah menjawab; agar aku tidak merindukannya, sehingga betah tinggal bersama nenek di Desa. Ayah memang benar-benar menangkap sinyal kerinduan anak semata wayangnya, akupun sedikit lega dengan jawabannya itu.

Sungguh, betapa indah suasana saat itu ketika aku ingat kembali rekaman itu didalam pikiranku, antara ayah dan anak harus berpisah karena sesuatu yang lebih penting, yaitu perjuangan demi kehidupan.

Kehidupan di desa sungguh mengasikkan juga, aku dapat bermain dengan suasana alamiah, tetapi aku melihat semua orang bekerja keras demi menghalau kehidupan yang susah, bahkan terkadang mereka saling tolong-menolong, bergotong-royong didalam pekerjaan yang cukup dianggap besar atau berat tanpa harus diberi upah, sebagai penggantinya apabila pekerjaannya sampai datang waktu makan cukup memberi makan apabila waktu makan sudah tiba.

Kegiatan hidup dimulai sejak pagi buta, Teh Mayan/Pak Bei (suami Bibi Lina, adik dari ibu) bangun sekitar pukul 5 pagi, pagi yang cukup gelap karena tidak ada lampu penerangan di sekelilingnya, jangan tanya mengenai listrik masuk desa, waktu itu tiang listriknyapun belumlah ada. Sebelum menuju ke sungai kecil yang disebut 'leke' untuk mandi, Pak Bei mampir di kandang bebek piaraannya yang berada di sebelah paling luar setelah kandang sapinya sekedar membukakan pintu pagar agar bebek piaraannya keluar memulai aktifitasnya juga, lalu di leke  bebek-bebeknya diberi sarapan daging bekicot yang diperoleh dari pematang dan talun sehari sebelumnya. Bekicot-bekicot berwarna cokelat itu kulitnya dibuang dengan cara ditumbuk secukupnya dengan batu yang ada di leke, sambil bebek-bebeknya berebutan mengitari daging bekicot yang sudah terkupas dari  kulitnya. Ketika kembali dari leke setelah salat di wakaf (sebutan langgar kecil di tepi kali di Madura), Pak Bei mampir kembali ke kandang bebek yang sudah kosong untuk memungut telor-telor bebek yang dikeluarkan semalaman.

Aku biasanya makan pagi di warung rujak Bok Bet sebelah rumah nenek. Rujak lontong khas bumbu kacang ala rujak Madura. Dengan sedikit petis yang gurih, rujak disuguhkan memakai bungkus daun jati. Makan potongan lontong tidak memakai sendok atau garpu melainkan dipungut dengan biting (potongan lidi kecil). Terkadang tidak jarang aku harus menjilati sisa bumbu rujak yang masih menempel di daun jati merasa sayang karena rasa enak bumbu rujak tetangga itu. Namun nenek memarahi aku setelah putri bibiku mengadukan apa yang aku lakukan pada daun jati tadi kepada nenek. Setelah makan pagi selesai, semua orang menuju kepada pekerjaan mereka masing-masing. Akupun siap untuk memulai main dengan kawan-kawanku. Semua kawanku tidak ada yang bersekolah. Selain karena tempatnya cukup jauh, para orang tua waktu itu tidak perduli dengan pendidikan sekolah formal anak-anak mereka, yang penting pada petang hari anak-anak belajar membaca Alqur'an dan belajar syariat Agama Islam, itu saja sudah cukup. Adapun belajar yang semiformal adalah di Desa Bharung, desa sebelah yang dipimpin oleh Ustad Samhaji, beliau pendatang dari Jawa, hampir seluruh anak laki usia sekolah tumplek blek belajar pada Ustad Samhaji dengan pengantar huruf Arab.

Terkadang aku juga ikut berkebun di atas Bukit Embilleh, bukit penuh berbatuan berkapur, masih menyisakan tanah di sela-sela pecahan batu berkaporit itu. Ukuran ladang (talun) sangat kecil kira-kira 3x20 meter persegi. Umumnya ladang-ladang itu di awal musim hujan ditanami jagung dengan buahnya rata-rata panjang 15 centimeter dan diameter 4 centimter. Kemudian ditanami ketela pohong atau ketela rambat atau kacang tanah atau kedelai. Ladang pertanian di desaku tidak pernah ditanami padi, karena pengairan yang tidak memungkinkan. Air hujan yang membasahi bumi di sana langsung turun ke kali tidak bisa terhenti ditampung untuk kebutuhan pengairan sawah. Petani hanya mengandalkan air waktu hujan saja. Apabila salah perhitungan tentang waktu tanam dan datangnya hujan, maka panen hanya akan menjadi impian. Jadi begitu hujan pertama kali datang, petani harus betul-betul jeli dalam memperkirakan datang hujan berikutnya. Katakanlah keesokan harinya langsung meladang lalu biji jagung ditebar, kemudian hujan berikutnya tidak datang-datang dalam waktu yang cukup lama, maka biji jagung akan tumbuh kemudian mati karena tidak ada air hujan yang datang. Demikian juga ketika biji sudah ditebar lalu sebelum jagung tumbuh datang hujan lebat, maka biji-biji jagung yang sudah ditebar akan hanyut ikut arus air kuat karena hujan lebat.

Aku ikut ke ladang karena ingin membantu mencari rumput untuk sapi-sapi di rumah nenek, mencari buah-buahan liar barangkali sudah ada yang matang layak untuk dimakan, itupun jikalau tidak didahului oleh burung-burung podang, kutilang, cerocok, dan masih banyak lainnya yang berterbangan di atas bukit itu. Terkadang juga aku dan kawanku sambil mencari anak burung untuk dipelihara di rumah nenek.

Ketika musim panas mulai datang, ada sebagian orang yang mempersiapkan untuk membuat batu gamping, yaitu batu setelah dibakar dan siap untuk dijadikan kapur. Kayu-kayu untuk bahan bakar batu gamping mulai dipersiapkan dengan memotong ranting-ranting pohon yang terlalu rindang, dan memotong pohon-pohon besar tak bernilai apabila dipakai sebagai kayu bahan bangunan. Setelah kayu-kayu, dan ranting-ranting sudah dipotong dengan ukuran kayu bakar, maka dibiarkan di tempat-tempat terbuka langsung terkena sinar matahari agar menjadi kering ketika waktu pembakaran tiba.

Galian tungku pembakaran mulai digali dengan kedalaman kira-kira 1,5 sampai 2 meter dan diameter kira-kira 1 sampai 1,2 meter, dibagian samping dibuat lubang berdiameter secukupnya kira-kira 30 s/d 35 centimeter sebagai jalan untuk memasukkan kayu bakar tempatnya ditengah-tengah dari kedalaman galian tungku. Batu mentah berkaporit tinggi yang berwarna agak kekuningan sampai kehitaman mulai dikumpulkan dari bukit/gunung Embilleh, kemudian disusun di bagian atas tungku membentuk kubah dan diusahakan kuat dan terjamin tidak akan ambruk sampai selesai pembakaran nantinya.

Pembakaran batu mentah dilakukan di malam hari setelah selesai waktu salat Isyak sampai pagi waktu Subuh. Batu-batu kelihatan membara merah setelah tengah malam tiba karena api bakar yang terus-menerus dijaga, batu-batu bakar itu dianggap matang jikalau diketok mengeluarkan nada tinggi 'ting'. Batu-batu gamping siap untuk menjadi kapur itu biasanya disimpan terhindar dari air (biasanya air hujan) menunggu untuk dipakai, biasanya disimpan dibawah kolong langgar, atau dijual dengan memakai takaran kotak seng bekas tempat minyak goreng berukuran 50 liter.

Masa tinggalku bersama nenek di Madura berahir setelah aku terjatuh pada batu gamping yang baru dikeluarkan dari tempat pembakaran karena kecerobohanku ketika bermain, dan menyebabkan paha kanan belakang bagian atas tersengat panas dan membuat luka bakar yang cukup mengkawatirkan nenek, sehingga aku harus dibawa ke klinik dekat Pasar Tanah Merah jaraknya mungkin lebih dari 25 Kilometer dan ditempuh dengan jalan kaki digendong dibelakang badan Pak Be'i. Terimakasih Pak Be'i, semoga kebaikanmu mendapatkan kebaikan pula dari Than Yang Maha Esa.

Setelah aku sembuh dari luka bakar, aku dibawa ke Surabaya, aku kemudian tinggal bersama kedua orang tuaku. Awalnya nenek ikut juga menjagaku ketika ayah bekerja dan ibu berjualan di pasar sampai aku dianggap mampu kemudian aku dititipkan kepada tetangga sebelah karena nenek kembali ke Madura.
Teman-teman mainku tidak seperti di Desa dulu, mereka suka menangis meminta jajan yang sedang dijajakan oleh penjual jajan melewati depan rumah, tidak ada lagi buah tanaman liar yang siap dipetik, jajan-jajan tidak sebebas buah-buahan di gunung Embilleh, aku selalu memegang uang yang sengaja ditinggal diatas meja untukku ketika aku terjaga dari tidur, jajan kesukaanku beralih dari rujak Madura ke kucur bergula merah (aren) atau lontong mie (semacam lontong balap ditambah sedikit gorengan mie) atau lontong manggul (potongan lontong dibubuhi bubur tepung beras rasa gurih).
Sebagian teman main seusiaku dibawah 5 tahun ketika bermain di luar rumah dengan tidak memakai baju merupakan hal yang biasa, seorang anak membuang hajat di luar rumah merupakan pemandangan yang tidak aneh, dan mandi rame-rame merupakn hal yang mengasikkan.

Di Sekolah

'Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, menciptakan manusia dari Alaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang Akram, Akramal manusia maalam yak lam, .....'

Taman kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Pertama

Kedua orang tua dan saya bertempat tinggal di salah satu kampung di Surabaya, Sawah Pulo SR, Gang 1, tepatnya di rumah nomer 36, salah satu perkampungan kumuh di Surabaya Utara, penduduknya mayoritas berasal dari keturunan suku Madura dengan masyarakatnya kebanyakan berkerja sebagai pedagang, pegawai harian lepas, tukang becak dan pekerja kasar. Disitu banyak sekolah formal bertempat tinggal, dua Sekolah dasar Negeri, satu Sekolah Menegah Pertama Negeri, satu Sekolah Tehnik Negeri, dan Yayasan Al-Irsyad yang menyediakan sekolah TK, SD, SMP dan SMA, serta Yayasan Al-Khairiyah yang menyediakan pendidikan TK (dulu), SD, SMP dan SMA, namun demikian anak di sawah Pulo SR waktu itu kebanyakan tidak memperoleh pendidikan formal yang seharusnya, mereka lebih suka dimasukkan ke Pondok Pesantren daripada ke Sekolah Umum lainnya.
Di ujung kampung sebelah barat-laut terletak sekolah yang dimiliki oleh Yayasan Al-Khairiyah, disanalah aku memulai pendidikan formal, dekat dengan rumah, dan cukup ditempuh dengan berjalan kaki karena jaraknya hanya sekitar 40 meter saja dari rumah, entah sejak dari usia berapa saya memulai Sekolah Taman Kanak Kanak Yayasan Al-Khairiyah itu, yang pasti saat itu saya merupakan anak pemalu.
Sekolah ini cukup besar ukurannya, sebanding dengan ukuran lapangan sepak bola, penataan gedung-gedunganya waktu itu berbentuk persegi empat dengan halaman tengah dikelilingi oleh gedung-gedungnya, semua kelas menghadap halaman dalam sekolah, halaman terbuka sejajar dengan permukaan tanah luar sekolah dan kira-kira 50 cm dibawah dasar ruang kelas, biasanya dipakai sebagai arena bermain ketika waktu istirahat tiba. Gedung-gedung bagian timur, selatan dan barat merupakan ruang kelas untuk kegiatan mengajar, dan bagian utara dipakai sebagai musholla, tempat kegiatan praktikum IPA, sebagai tempat untuk bermain tennis meja, dan sebagai tempat tinggal penjaga sekolah bersama keluarganya, kemudian sebelah selatan gedung sekolah yaitu antara pagar depan bagian depan dan gedung sekolah terdapat lapangan terbuka biasa dipakai sebagai fasilitas olahraga lapangan seperti sepak bola atau bola volley atau kegian upacara bendera.

Karena sifatku yang pemalu itu, maka ketika berhasrat ingin membuang air kecil, aku takut untuk meminta ijin kepada guru kelas, sehingga hanya dengan berjongkok dibawah meja tulis aku membuang hajatku dan kencing di bagian ubin yang rusak tembus sampai ke tanah. Karena ulah saya itu, maka teman sebangku mengadukan kepada guru kelas TK sambil berteriak; 'Bu!, Nasuki kencing dibawah meja', dan ibu guru yang bernama Hayati itu menghampiri ku yang sedang bersembunyi malu dibawah meja kelas, lalu kemudian beliau berkata; 'Kalau mau kencing harus ke kamar kecil di belakang, dan kamu hanya bilang pada saya; "Bu, saya mau kencing"'. Saya masih ingat teman yang mengadu pada ibu guru itu bernama Abdillah, ia mempunyai mata lebih besar dari mataku, matanya berkelopak lebar dan kelihatan lebih besar selagi ia sedang mengadukan peristiawa itu, itulah yang masih dapat saya ingat sampai sekarang. Ternyata mata macam yang demikian (berkelopak) merupakan mata yang indah, begitulah ketika istriku memujiku karena aku memiliki mata berkelopak seperti temanku Abdillah itu.
Peristiwa itu sungguh mempermalukan diriku, dimana aku sendiri merupakan seorang anak pemalu, kemudian ditambah peristiwa yang memalukan karena malu telah terjadi, bagaikan jatu tertimpa tangga pula. Sejak saat itu saya tidak mau lagi bersekolah, saya mengutarakan keinginanku pada ayah, beliaupun menyerah dan meluluskan permintaanku untuk berhenti bersekolah termasuk juga ibuku, karena mereka sayang sekali pada diriku, mereka tidak ingin melukai perasaanku, seolah apapun akan mereka laksanakan untuk memenuhi permintaanku yang penting saya senang dan jangan meminta bulan atau bintang.

Sejak saat setelah peristiwa itu akupun tidak lagi bersekolah, aku bebas, aku mengisi kegiatanku hanya dengan bermain saja, walaupun pada petang setelah Maghrib belajar pengetahuan Agama Islam dan membaca Alqu'an yang diajari oleh ayahku, hal ini berjalan cukup lama, sampai akhirnya tetanggaku yang biasa dipanggil 'Habib', nama sebenarnya Idrus Ahabsi ( sekarang almarhum, semoga ia selalu mendapatkan rahmat di sisi Nya), beliau merupakan ayah dari Ibu Guru TK-ku dulu, menanyai ku karena melihat sedang bermain di depan rumahnya pada saat jam sekolah, kemudian beliau beratanya; 'Hai, Dul?, kamu nggak sekolah?', kemudian; ' Nggak', begitu jawabku, 'Kamu keluar dari sekolah?', lamjutnya, 'Iya..sudah lama!', jawabku lagi, 'Ayo, nantik bilang ayahmu untuk mintak sekolah lagi', demikian pinta Habib dengan bahasa Indonesian berlogat Arab, yang kemudian saya amini juga.
Ketika ayah pulang dari bekerja, saya memberitahukan apa yang telah diminta oleh Habib tadi pagi, dan ayah langsung menyetujuinya, mungkin ayah juga sangat mengharapkan saya untuk bersekolah, tetapi beliau tidak ingin melukai perasaan saya dengan memaksakan kehendaknya sampai saya mengutarakan apa yang diminta oleh Habib tetanggaku itu.

Aku didaftarkan lagi di Sekolah Dasar Bersubsidi Yayasan Al-Khairiyah, usiaku saat itu sudah menginjak sembilan tahun, jadi aku memulai kelas satuku dari usia 9 tahun. aku yakin bahwa aku merupakan murid yang tertua di kelasku walaupun badanku lebih kurus dari kebanyakan teman kelasku. Hari-hariku dilalui penuh percaya diri, inilah mungkin salah satu keuntungan memasuki kelas dengan usian diatas rata-rata dan tanpa dibebani oleh perasaan kelebihan usia.
Aku sering mendapatkan nilai 100 dari setiap mata pelajaran yang dikerjakan, baik itu dari pekerjaan rumah ataupun pekerjaan kelas, sejak kelas satu sampai kelas lima, mata pelajaran terasa begitu mudah, apakah itu pelajaran Berhitung (sebelum digantikan oleh pelajaran metematika, awalnya bernama pelajaran berhitung), Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah Jawa, Agama, Civic, Pendidikan Jasmani (Olah Raga), dan lain sebagainya.
Murid Sekolah Al-Khairiyah terdiri dari orang sekitar yang kebanyakan keturunan Arab, Banjar, Madura, dan Jawa. Teman-teman kelas yang masih saya ingat, Abdillah, Ferdi, Taufik, Rifai, Hamid, Sumar, Fauzi, Kadir, Haidar, Supaad, Hasim, Sulkan, Mubasyir, Maryam, Rufaidah, Luluk, Rini, dan Jamilah.
Aku dapat menyelesaikan Sekolah Dasarku dengan predikat cukup baik, aku menduduki peringkat ketiga dari seluruh murid di kelasku, walaupun aku bukanlah anak yang menonjol dari segi penampilan, aku pernah merasa menjadi pahlawan manakala guru kelas enamku menunjuk satu persatu secara bergiliran untuk menyelesaikan persoalan berhitung di papan tulis, teman-teman satu demi satu tidak berkutik dengan persoalan ini, karena soal dalam pelajaran berhitung kebanyakan sebuah cerita kemudian dirumuskan kedalam bentuk perhitungan untuk diselesaikan, maka sulitnya minta ampun, dan mereka tidak dapat menyelesaikannya, sehingga mereka tidak diijinkan kembali duduk di kursi masing-masing dan sebagai ganjarannya tetap berdiri di depan dekat papan tulis menunggu sampai akhirnya tiba giliranku untuk maju dan mengerjakan soal berhitung itu di papan tulis, ketika soal itu selesai saya kerjakan dan guru kelas menyatakan benar, baru kemudian semua teman yang berdiri karenanya diperintah untuk duduk kembali semuanya, wow..!, aku bak seorang pahlawan saat itu.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, aku ingin melanjutkan sekolah saja di Surabaya, begitu kata di benakku, tidak seperti kebanyakan teman kampung yang hampir keseluruhan mereka memilih ke Podok Pesantren atau berhenti tidak melanjutkan sekolah setelah lulus Sekolah Dasar. Saya ingin mendaftarkan diri di Sekolah Menengah Negeri 11 (SMP-11), sekolah yang berada di ujung timur kampung kira-kira 500 meter dari rumah, namun kehendak mentakdirkan lain, sebelum pendaftaran dimulai, ayah sakit dan harus masuk Rumah Sakit, kemudian keluar setelah pendaftaran di SMP-11 tutup, maka aku memilih mendaftarkan diri di Sekolah Tehnik Negeri 2 (STN-2, kini sudah tidak ada lagi, gedungnya ditempati SMUN-8, Surabaya), itu disebabkan karena lokasinya tidak jauh dari rumah, yaitu berada di ujung barat kampung kira-kira 70 meter ke arah belakang rumah.
Saya tidak lulus test masuk STN-2, saya telah melakukan kesalahan fatal ketika itu, jurusan yang dipilih adalah Jurusan Teknik Mesin, kemudian test gambar yang saya buat adalah menggambar sebuah rumah yang berarti untuk Jurusan Teknik Bangunan (Sipil), akhirnya saya harus mendaftarkan diri di SMP Al-Khairiyah dan kembali ke sekolah lama dengan kebanyakan teman-teman lama Sekolah Dasar dulu.

Di Luar Sekolah

Teman-teman seusiaku senang keluyuran menyusuri gang-gang kecil kampung, orang menyebutnya 'gang tikus' karena liku-liku jalan sempit dan bisa tembus ke arah mana saja, artinya masuk melalui samping rumah si A keluar sampai depan rumah B, semuanya pasti ada jalan-jalan pintasnya. Walaupun usia sudah menginjak 7 tahunan, main di luar rumah terkadang tidak memakai baju, walaupun begitu uang jajan selalu di tangan, artinya tanpa baju mah biasa tetapi tanpa uang jajan bisa menangis merengek sepanjang pagi hari.
Apabila sore hari tiba kebanyakan anak bersiap-siap menunggu waktu Asyar tiba, badan sudah bersih, baju sholat termasuk sarung dan kopiyah sudah terpakai. Seperti biasa semua anak laki shalat Asyar dilakukannya di mushalla dekat rumah, setelah itu dilanjutkan dengan belajar membaca Alqur'an (kami sebut 'ngaji') di Rumah dan sebagai pengajarnya ayah saya sendiri, kira-kira tujuh anak membaca secara bergiliran, bagi pemula memulai belajar membaca dengan kitab Juz Amma (kami sebut 'Torrotan'), dan yang sudah mampu membaca huruf arab dengan agak lancar memakai kitab Alqur'an. Teman-teman seperti Mat Rinda, Dul Hadi, Kuddus yang masih dapat saya ingat, mereka lancar membaca Alqur'an seperti diriku saat itu.
Akupun tumbuh seperti yang selayaknya, sampai aku merasa tertarik pada tetangga belakang dekat dengan langgar, sungguh ia gadis kecil yang sempurna, begitu benakku memujinya, sampai-sampai aku selalu merasa malu apabila berada dihadapannya, terkadang aku hanya bisa tersenyum saja ketika salah satu dari temanku menggodanya jugam setiap kali rasanya selalu ingin melewati dpan rumahnya, setiap kali rasanya ingin bermain di tempat yang perjalanannya melalui depan rumahnya, saya tidak yakin sudah bisa mengenal cinta pada lain jenis seusia 9 tahunan, tetapi yang jelas, aku senang apabila bertemu apalagi saling berucap kata, rambutnya yang bergelombang dan segelintir bagian depannya yang agak keriting membuat wajahnya yang kuning semakin mempesona, apalagi kalau sedang berlari badan yang terbungkus dengan jarit dan T shirt serta anting-anting panjang yang terkait di telinganya semakin keras bergoyang.
Banyak orang berkata, bahwa rasa cinta itu kebanyakan berbanding lurus dengan rasa cemburu, kalu tidak, maka itu diluar cinta. Ketika temanku juga sering menggogai gadis idolaku itu aku hanya tersenyum saja, apa yang temanku lalkukan terhadapnya dalam gelak-tawa mereka aku hanya iri, kenapa aku tidak dapat melakukannya?, saya tidak tahu apakah perasaan demikian itu yang disebut cemburu, aku tidak merasa keberatan tentang polah temaku terhadap gadis itu, tetapi tingkah-laku keterlaluan temanku terkadang membuat gadis itu tersenyum dan tertawa dan diriku hanya iri kepada kemampuan temanku itu, kok aku tidak selihai dia?. Tetapi rasa cemburu merupakan perasaan tidak rela terhadap sesuatu (orang lain) apabila sesuatu yang dimiliki atau disukai atau dihasrati juga dihasrati oleh yang lain.

Kesenangan atau Hobi
Memelihara hewan piaraan merupakan kesukaan anak-anak, karena hewan merupakan mahluk hidup dengan kepolosan. Aku suka memelihara ikan, itik dari bebek dan burung. itulah salahsatu hobiku. Selain itu aku suka mencari logam tua seperti besi, kuningan, tembaga, aluminium, minyak kelapa bekas dan lainnya.




Mencari Ikan


Ketika musim hujan tiba, air selokan peninggalan jaman Belanda depan rumah mulai naik, airnya jernih dan banyak ikannya, mulai dari ikan betik, ikan sepat, dan ikan warna-warni sebesar jerami 2 centimeteran panjangnya (nama dikalangan anak-anak adalah ikan emas, walaupun warnanya kebanyakan lebih mendekati kehitam-hitaman, disebut demikian karena ikan jantannya dari bagian tengah tubuhnya ke belakang mempunyai warna-warni hijau, biru, putih, kuning dan oranye yang mengkilat).
Ketika jam sekolah sudah usai, aku percepat jalanku agar lebih cepat sampai di rumah, setelah berganti pakaian untuk bermain, mulailah memburu ikan. Ikan yang paling mudah ditangkap adalah ikan warna-warni, berbekal saringan kecil rakitan sendiri, ataupun dengan tumbu bekas, adalah semacam paket terbuat dari anyaman daun nyiur berukuran kebanyakan lebar 20 centimeter, panjang 20 centimeter, dan kedalaman sekitar 10 centimeter yang saat tu mudah didapat karena biasa dipakai sebagai tempat makanan sebelum bahan plastik menggantikannya, maka cukuplah hasil tangkapan dijadikan sebagai mainan piaraan. Sedangkan untuk menangkap ikan dengan ukuran yang lebih besar seperti ikan betik atau ikan sepat, sungguh sangat susah, selain gerakannya cukup cepat, mreka lebih liar, begitu seseorang mendekat, maka merekapun lari secepat kilat menjauhi yang sedang mendekat, cara yang biasa anak-anak pakai adalah dengan mengepungnya sambil menjalankan jaring kecil walaupun kebanyakan hasil tangkapannya adalah nihil, maka sebagian teman-temanku yang lebih besar dari aku akan menggunakan kail pancing walaupun sepanjang pagi hanya berhasil menangkap seekor ikan sepat saja.

Ketika saya melihat kembali selokan itu sekarang, saya merasa jijik sekali, baunya sudah bercampur dengan bau busuk menyengat hidung di kejauhan tidak seperti ketika aku kecil dulu, warna airnya kehitam-hitaman tidak sejernih ketika aku kecil dulu, kalau malam tikusnya minta ampun berkeliaran tanpa harus malu pada orang-orang yang sedang hadir disekitarnya. Dulu anak-anak biasa menceburkan kakinya demi memburu ikan, bahkan seandainya ada kelereng yang jatuh, anak-anak tidak segan untuk meraihnya kembali dengan tangan mereka, karena kelerengnya tampak jelas berada di dasar beton selokan itu, sekarang selokan setinggi kira-kira 1,5 meter itu airnya hampir meluber karena tanah yang tertimbun bertahun-tahun tanpa adanya pengerukan, dan menurut orang sekitarnya apabila musim hujan tiba, banjir merupakan seatu kelaziman.

Memancing Ikan

Menurut sebagian orang, bahwa memancing ikan merupakan hobi untuk membunuh waktu senggang saja, lain halnya dengan apa yang aku temui dengan yang satu ini, memancing ikan sesungguhnya seseorang sedang bermain game/permainan dengan ikan. ikan merupakan hewan air yang mempunyai naluri dengan kepekaan tertentu terhadap bunyi ataupun gerakan yang ada didalam air, ikan mudah merasa jera dan berubah mejadi takut terhadap sesuatu yang pernah membahayakan atau melukainya. Jadi jangan harap ikan yang pernah terluka karena kait kail akan memakan umpan kembali apapun umpan yang disuguhkan, mereka akan jera dan memakan waktu lama sampai ia terlupa pada peristiwa penyebab ia luka untuk dapat mendekat pada kail kembali, itulah pengalaman yang saya dapatkan dari memancing ikan sampai sekarang. Nah, karena memancing itu seperti bermain game dengan ikan, maka pemancing harus mempunyai suatu cara (baca trik) untuk membuat ikan paling tidak mendekati umpan yang dilemparkan, setelah ikan mendekat lalu barusaha agar ikan tertarik untuk mengejar dan tanpa banyak pikir langsung memakan umpan yang dikejarnya. Kemudian setelah ikan memakan kail permainan berikutnya adalah menntukan waktu yang tepat untuk menyentak kail agar ikan terkait dan tertangkap.

Aku berpendapat bahwa pengalamanku memancing ikan sudah tidak bisa diragukan lagi, ini bukan berarti aku harus puas dengan kemampuanku ini, aku masih perlu untuk belajar banyak tentang mancing memancing ini, terlebih ada bukti ketika KBRI Abu Dhabi menyelenggarakan perlombaan memancing di daerah pantai Albatin tidak jauh dari KBRI, aku berhasil menjadi juaranya, dalam waktu 29dua) jam yang dialokasikan oleh panitia lomba, aku berhasil menagkap ikan sebanyak 2000 gram dibanding juara ke-2 seberat 200 gram yaitu sepersepuluh dari hasil tangkapan ku. Aku teringat ketika kawan yang berlomba melawanku menyindir sambil bergurau dengan berkata, "Barangkali Pak Nasuki semalam ke sini memberitahu ikan-ikan disini agar memakan kailnya dia saja", bahkan ada juga yang penasaran sehingga meminta agar tempat aku meletakkan kail ditukar dengan tempatnya, demikianpun tetap saja aku masih dapat menangkap ikan dengan mudah dibandingkan dengan dia dimana ikan-ikanpun bisa dikatakan tidak menyentuhnya, sampai akhirnya ia meminta bahan umpan yang aku pakai untuk kailnya, tetapi hasilnya sama saja, ikan-ikan tidak ada yang memperdulikannya.

Cara Memancing Ikan

Dari pengalamanku itu, maka saya akan mencoba menjelaskan bagaimana caranya memancing ikan di kolam, laut ataupun di sungai. Seperti yang saya jelaskan di atas, bahwa memancing sebenarnya bukanlah untuk membunuh waktu senggang, tetapi sebenarnya merupakan suatu permainan game dengan objek barang hidup, yaitu ikan. Hewan termasuk ikan sangat tertarik pada makanan yang disukai, biasanya bergerak, mempunyai rasa yang sesuai selera ikan, dan mudah ditelan atau sekali gigit langsung dapat ditelan. Jadi, sebelum memancing usahakan tentukan dulu kira-kira ikan apa yang akan dipancing?, kemudian dapat ditentukan jenis umpan yang harus diberikan. Sebelum melemparkan umpan, tentukan dahulu bagaimana ikan-ikan yang akan dipancing itu berada di air?, apakah berenang di permukaan, di tengah antara permukaan, atau di dasar air?, apakah termasuk ikan pasip menunggu ketenangan sebelum umpan diterkam ataukah ikan aktip mengejar umpan yang bergerak cepat?, hal ini selain untuk menentukan jenis umpan yang dipersiapkan juga nantinya untuk menentukan letak posisi kail sesuai kedalaman tempat ikan-ikan bergerak. Pilih tali kail dengan ukuran sekecil mungkin disesuaikan besar atau berat ikan yang akan ditangkap, kemudian pilih talilikail dengan warna sama atau mendekati warna air tempat ikan berada.
Untuk ikan ikan yang bergerak bukan di dasar air, maka sebaiknya menggunakan pelampung, tetapi untuk memancing ikan yang bergerak di dasar air, maka sebaiknya memakai pemberat.
Memancing ikan yang bergerak dipermukaan air, maka jarak antara pelampung dan kail dibuat secukupnya kira-kira 50 cm, biasanya umpan pada kail di dalam air akan kelihatan dan polah gerak ikan ketika memakan umpan akan kelihatan juga, jika ikan tidak tertarik pada umpan yang sedang dilempar, maka usahakan tali kail ditarik secara perlahan untuk mencari perhatian ikan, dan apabila ikan merasa tertarik dengan membelokkan arah pandangan pada umpan, maka hentikan sejenak tarikan itu, untuk menarik kail ketika umpan sedang dimakan ikan, maka pastikan bahwa umpan sudah tidak tampak kelihatan lagi, artinya umpan benar-benar masuk secara keseluruhan ke dalam mulut ikan, ikan yang bergerak di permukaan biasanya begitu umpan dimakan, maka ikan akan langsung bergerak secepatnya sambil membawa makanan yang sedang digigit untuk kemudian dipotong sekecil mungkin sebelum kemudian ditelan, untuk itulah usahakan memberikan umpan sedemikian kecil agar umpan yang disuguhkan bisa langsung masuk ke dalam mulut ikan permukaan ini.

Untuk ikan yang bergerak di tengah-tengah antara permukaan dan dasar air, maka jarak antara kail dan pelampung sedemikian rupa, sehingga kail dan umpan berada pada daerah pergerakan ikan yang akan dipancing. Usahakan melempar kail sejauh mungkin untuk kemudian menariknya secara perlahan-lahan untuk menarik perhatian ikan, dan apabila umpan sudah mulai dimakan, maka hentikan tarikan tali kail, dan ketika pelampung bergerak dengan kejutan, itu berarti umpan dimakan oleh ikan kecil, atau umpan belum benar-benar masuk ke dalam mulut ikan, maka jangan disentak atau ditarik, tunggu sampai pelampung dibawa tenggelam atau berjalan secara konstan, itulah saatnya umpan sudah benar-benar masuk di dalam mulut ikan, dan itu pulalah saatnya tali pancing ditarik kembali dengan catatan, menariknya tidak disertai dengan sentakan yang terlalu keras yang menyebabkan mulut ikan menjadi rusak, jika demikian, maka hilanglah kesempatan untuk mendapatkan ikan yang sedang dipancing, apabila ukuran ikan terlalu besar, sehingga beratnya diperkirakan berlebihan dibanding dengan ukuran tali kail, maka cara tarik-ulur harus dilakukan, yaitu jangan memaksa ikan besar dengan tali/kail kecil, lakukanlah cara tarik-ulur sampai ikan merasa capek dan menyerah, kemudian angkat perlaha-lahan sampai dipermukaan air, dan ketika keluar air pengangkatan dilakukan lebih cepat, karena biasanya ketika ikan keluar dari permukaan air secara sepontan melakukan gerakan perlawanan, dengan beratnya dibantu oleh gerakan akan menyebabkan mulut ikan rusak karena kail kecil bahkan akan menyebabkan tali kail menjadi putus.
Lain halnya apabila memancing ikan yang bergerak di dasar air, pemberat merupakan hal yang menentukan selain ukuran kail itu sendiri. Pilihlah pemberat (sebaiknya sediakan berbagai ukuran pemberat) sedemikian rupa, sehingga tidak terlalu berat, yang penting perkirakan bahwa berat pemberat dapat dengan mudah digerakkan dengan tarikan dan dapat menahan tali kail untuk tidak melengkung karena arus atupun jarak kail dengan tangan anda terhadap berat tali, kalau tali kail melengkung akibat derasnya arus atau berat dari tali karena jauhnya jarak lempar, ini dapat mengakibatkan kesulitan ketika melakukan sentakan pertama agar kail menyangkut pada mulut ikan, karena lengkungan tali tadi ketika tali disentak sebenarnya tidak menyebabkan tarikan/gerakan berarti pada titi kail yang berada di dasar air, sehingga hanya gerakan kecil yang menyebabkan ikan terkejut dan melepaskan umpan yang sudah berada didalam mulutnya, tetapi kalau tali kail dalam keadaan lurus, maka sentakan/gerakan tangan atau gala pancing akan menyebabkan gerakan yang sama pula pada titik kail di dasar air dan kemungkinan besar kail akan mengait pada mulut ikan yang sedang memakan umpan di dasar air.

Memelihara Itik (Anak Bebek)

Tidak jauh dari rumah, di luar sana tepi jalan Danakarya dekat sekolah dimana aku belajar, berjajar gerobag penjual jenis hewan burung-burung, sebelum musim hujan tiba para pedagang burung sudah mulai menawarkan itik-itik dari berbagai ukuran. Aku dan teman-temanku menyukai ukuran yang paling kecil, selain harganya yang paling murah juga lebih mudah untuk dipelihara. Ayahku mempunyai beberapa ayam peliharaan, selain telur-telurnya yang biasa untuk dimakan atau dijual, juga sebagai ternak, setelah anak ayam cukup besar kemudian ayah menjualnya, saat itu ayah mempunyai dua induk ayam, sedangkan kandangnya ada 4 buah. Ayah memakai kandangnya hanya 2 saja dan yang lain aku pakai sebagai tempat itik-itik peliharaan dan mainanku. Ada itik yang tidak mau makan nasi, biasanya nasi selalu dicampur dengan air, jika demikian, maka aku akan mengembalakan mereka di sekolah ST (Sekolah Teknik) Negeri-2 belakang rumah, disana banyak tanahnya yang gembur, sehingga banyak mengandung cacing tanah kesukaan para itik peliharaanku. Aku dan teman-temanku membawa itik-itk itu dengan melepasnya bebas, hanya bermodal tongkat sambi membunyikan suara panggil 'ri-ri-ri...' saja, itik-itik sudah pada berlarian mengikuti jalannya tongkat yang diseret diatas tanah. Tanah gembur aku gali menggunakan tongkat pemanggil itik-itik, merekapun dengan lahapnya menyantap setiap cacing yang terlihat, terkadang itik-itik kecil merasa kesulitan menelan cacing tanah yang berukuran besar berdiameter sampai 5 milimeter, setelah lambungnya terlihat sudah membesar karena banyak makan, maka aku bawa mereka ke selokan air bening karena hujan yang baru lalu.

Ketika pagi tiba, sebelum berangkat sekolah aku harus menengok itik-itikku didalam kandang mereka, bau menyengat dari dalam kandang itik tidak aku perdulikan, memang itik mempunyai bau yang cukup menyengat sama seperti bebek induk-induk mereka, untuk itu bebek tidak populer untuk dikonsumsi sebagai lauk-pauk saat itu, kecuali oleh orang-orang Madura, mereka paham bagaimana agar daging bebek tidak berbau setelah dimasak, sehingga enak untuk dimakan, dimana pada kenyataannya memang daging bebek rasanya lezat, untuk itu saat ini daging bebek merupakan makanan favorit yang awalnya diawali oleh orang-orang dari Madura. Setiap pagi aku harus memberi itik-itik peliharaanku makan, nasi sisa kemaren aku tempatkan didalam mangkuk kecil dicampur dengan air, begitu disodorkan mereka langsung melahapnya, tempat makan aku tinggal sampai siang ketika aku pulang dari sekolah, itik-itik tampak gembira ketika siang aku mulai membukakan pintu kandangnya untuk diajak bermain aku gembalakan di STN-2 sana, mereka seolah-olah berkata, "Hore...!, tuanku datang...!, saatnya datang kini untuk menikmati cacing tanah kesukaanku".
Seingatku, aku tidak pernah dapat memelihara itik-itikku sampai mereka menjadi bebek, kecuali sekali saja, itupun akhirnya mereka (2 bebek) harus mati tragis karena dipukul tetangga karena menurut si pemukul bebek-bebekku pada nakal, mereka makan makanan tetanggaku yang menyebabkan tetanggaku memukulnya dan berakibat bebekku meninggal. Yang lainnya meninggal sebelum mereka menjadi bebek, banyak hal penyebabnya, karena penyakit, karena terbunuh akibat serangan tikus-tikus besar ataupun meninggal karena lemah kurang aku perhatikan mutu dan jumlah makanan mereka. Sungguh, aku merasa berdosa jikalau aku mengenang mereka tentang semua itu.

Memelihara Burung

Ayah dan ibuku berasal dari satu desa yang sama, yaitu dusun Pakong, desa Pakaan kecamatan Modung, kota Bangkalan, Madura. Sebuah desa yang terletak dilembah gunung Embilleh, tempat yang damai jauh dari hiruk-pikuk kebisingan suara kendaraan seperti di kota. Hampir setiap rumah di desa orang tuaku dengan anggota keluarga laki dipastikan akan mempunyai burung peliharaan, baik itu perkutut, kutilang, podang ataupun yang lainnya, tetapi yang paling banyak dipelihara dari semua itu adalah burung kutilang, selain suaranya cukup disukai juga makannya cukup mudah, yaitu buah pisang atau buah pepaya matang. Burung-burung itu mereka dapatkan dari menangkap ketika anak-anak burung masih didalam lindungan induknya dalam sarangnya, atau mereka tangkap dengan memburunya ketika burung mandi pada saat untuk pertamakali turun hujan, kebanyakan burung-burung akan mandi menikmati air hujan setelah musim kemarau. Tetapi tidak untuk burung perkutut, selain diambil dari sarangnya biasanya dibeli dari pasar. Kebiasaan memelihara burung ini aku nikmati sampai aku sekolah SMP.

Kawan-kawan sebayaku banyak yang menyenangi burung yang disebut 'peking', dipanggil demikian karena bunyinya kalau disuarakan yang mirip dengan sebutan 'peking', burung kecil tidak lebih besar dari buah kedondong, burung ini pemakan bijih padi dan hidup berkelompok, burung -burung ini ditangkap dengan cara menjaring, yaitu penangkap menggelar jaring-jaring dipetang hari dan diletakkan dekat dengan tempat dimana burung 'peking' ini tidur, jala/jaring dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terlihat ketika hari agak gelap, dan ukurannya dibuat sedikit lebih besar dari ukuran rata-rata kepala burung 'peking' dan tidak lebuh besar dari ukurang badannya, setelah semuanya siap, kemudian burung-burung 'peking' diganggu dengan menggoyang-goyang pohon dimana mereka hinggap untuk tidur, dengan demikian burung-burung tersebut merasa ketakutan dan berhamburan terbang, karena suasana gelap, maka banyak dari mereka yang menyangkut pada jaring/jala yang sudah digelar dan penangkappun memungut burung-burung yang tersangkut tersebut satu persatu.
Burung 'peking' merupakan burung yang cepat dijinakkan, yang paling penting didalam sangkar harus ada lebih dari satu burung, kemudian untuk menjinakkannya biasanya bulu sayap dicabuti sehingga tertinggal hanya antara lima sampai sepuluh helai saja pada setiap sisi sayapnya, bulu-bulu yang dicabut dimulai dari yang pali bawah, sehingga yang tertinggal bulu pada bagian atasnya saja. Setelah bulu sayap burung tinggal sedikit, maka ia bisa terbang dengan kecepatan dan jarak terbatas saja.

Burung dikatakan jinak apabila ia dapat terbang dan kembali pada sangkarnya. Pada awal penjunakan, salah satu kaki burung diikat dengan benang jahit kecil sepanjang kira-kira 3 meteran, kemudian ia dilatih agar terbang menuju sangkar yang didalamnya ada burung lain sebagai penarik perhatian agar burung yang sedang dilatih berkeinginan masuk kedalam sangkar untuk bergabung dengan burung lainnya didalam. Pelatihan dibuat sedemikian rupa dan dilakukan secara bertahap mulai dari jarak dekat sangkar sampai sejauh mungkin secara berangsur-angsur, burung digenggam kemudian genggaman dilonggarkan sambil ibu jari mengelus-elus bagian punggung burung sampai dia terbang, hindari pelepasan secara mendadak agar burung tidak merasa takut kecuali apabila burung sudah benar-benar jinak. Benang yang diikatkan pada salah satu kaki burung bisa dilepas apabila dirasa burung sudah cukup jinak pada setiap latihan selalu terbang mengarah pada sangkarnya. Sangkar-sangkar burung antara milik teman yang lain ditata berjajar agar burung dapat melihatnya walaupun dari kejauhan (sampai dengan 40 meter jauhnya). Didepan rumah ada pohon disebut pohon 'waru', pohon yang sudah cukup besar dengan diameter batang rata-rata kira-kira 50an centimeter, sangkar burungku aku gantung diatas pohon itu, karena pohonnya cukup rindang, maka terkadang ada burung 'peking' nyasar yang datang, sesungguhnya burung 'peking' nyasar itu merupakan burung yang sudah dijinakkan oleh yang punya, kemudian lari karena kehilangan arah ketika dilakukan latihan, sehingga terbang bebas tidak kembali kepada pemiliknya, dan akhirnya hinggap dimanapun terutama pohon-pohon agak besar. Burung nyasar itu begitu melihat sangkar yang berisi burung 'peking' didalamnya kemudian ingin masuk kedalamnya untuk bergabung, namun jika didekati untuk ditangkap, ia akan lari karena takut yang disebabkan instingnya sudah terbiasa beberapa hari terbang bebas tetapi masih ingin bergabung dengan sesamanya. Burung-burung nyasar ini biasanya sudah diwarnai bulunya dengan pewarna yang disebut 'kesumba'. Aku berhasrat untuk menangkap burung-burung liar itu, akhirnya ada temanku yang menyarankan agar membeli satu buah sangkar lagi sebagai perangkap dan dibiarkan kosong dan dilengkapi pula dengan tempat air dan tempat makan sekalian juga isinya yaitu air dan beras, kemudian digandeng dengan sangkar yang berisi burung, lalu sangkar kosong tadi diberi jalan masuk (salah satu jerujinya dilepas) dibagian atasnya dengan ukuran sedemikian rupa yang penting burung bisa masuk. Sangkar baru aku beli, pekerjaan dilakukan sesuai rencana, dan kemudian ditaruklah (dipanggung) dua buah sangkar yang digandeng menjadi satu, ternyata memang betul-betul manjur apa yang dinasehatkan oleh temanku itu, aku bisa menangkap beberapa burung 'peking' nyasar, walaupun terkadang harus aku kembalikan kepada yang punya jika pemiliknya menuntut atau saya ketahui. Malah ada teman yang memasang perangkap tanpa sangkar kosong, yaitu sangkar diisi dengan burung-burung 'peking' yang bulu sayapnya dicabuti semuanya, sehingga tidak bisa lagi ternag kecuali meloncat-loncat saja didalam sangkarnya, kemudian sangkarnya dilubangi dibagian atasnya sama seperti jika memakai sangkar kosong seperti diatas, burung nyasar akan masuk juga bergabung dengan yang ada didalam sangkar jebakan yang dipasang.

Dengan demikian aku mempunyai ide melatih burung-burung milikku agar terbang ke arah pohon 'waru' depan rumahku dimana ada sangkarnya yang digantung diatasnya, sampai akhirnya aku mempunyai burung 'peking' yang dapat pulang kembali kedalam sangkar diatas pohon 'waru' depan rumahku walaupun aku lepas ia dari kampung sebelah, artinya ia bisa pulang walaupun dilepas dari jauh , sungguh menakjubkan !.
Hobi memelihara burung ini kugeluti sampai waktu cukup lama, aku baru melupakannya ketika aku harus masuk sekolah SMA. Bahkan ketika aku duduk dibangku SMP, aku mulai membuat sangkar burung sendiri, sampai-sampai tetangga dari desa ayah dan ibu berminat membelinya kalau aku ingin menjualnya, karena sangkarnya bagus dan ukuranyya sukup besar, yaitu LebarxDalamxTinggi adalah 60x50x100 (centimeter kubik).

Cara Membuat Sangkar Burung

Membikin sendiri barang kebutuhan mainnan pada masa kecil merupakan salah satu penggalian bakat yang terpendam secara tidak sengaja dari seorang anak, dan merupakan pelatihan keahlian yang gratis untuk modal keahlian kelak ketika dibutuhkan, apakah itu mainan sederhana berupa perahu dari secarik kertas misalnya, sampai membuat game rumit didalam komputer.

Ayahku mempunyai cukup lengkap peralatan pertukangan kayu mulai dari gergaji tangan, palu-palu, tatah banyak ukuran, pasah/pasrah penghalus permukaan kayu, bor tangan dan alat asah pisau. Awalnya aku mencoba memperbaiki sangkar burung yang rusak karena salah satu kayu rusuk pelintangnya patah, aku buatkan rusuk baru seperti rusuk lama, kemudian jeruji patah yang terbuat dari bambu yang diraut sekecil lidi daun nyiur aku ganti, karena asyik dengan itu lambat laun aku memberanikan diri membangun sebuah sangkar kecil ukuran kira-kira 25x25x30 (centimeter kubik). Hal ini aku lakukan sepulang dari sekolah. Bahan-bahan kayu dan bambu aku dapatkan dari mencari dari bekas kayu dan bambu yang sudah tidak dipakai lagi, terkadang bambu aku membelinya dari toko yang menjual potongan bambu tidak jauh dari rumah.

Awalnya meneliti sangkar yang sudah ada tentang bagaimna cara menyambung antara kayu-kayu antara yang tegak keatas dengan yang melintang, baik pelintang yang ada pada sisi-sisi ujung atas atau bawah maupung yang di tengahnya, selain itu paku-paku yang dipakai baik dari segi ukuran paku maupun jenis pakunya. Setelah semuanya cukup dipahami kemudian mulailah menentukan ukuran sangkar yang akan dibangun, biasanya ukuran dalam atau lebarnya merupakan kelipatan dari jarak jeruji-jerujinya, kemudian sangkar harus dibuat seringan mungkin karena biasanya sangkar burung digantung baik diatas pohon atau tempat gantung lainnya. Jarak antara pelintang-pelintangnya kearah atas jangan lebih dari 40 centimeter agar jeruji-jerujinya tetap kuat menahan burung yang berusaha keluar melaui celah-celahnya. Jikalau sangkar akan segera dipakai agar jangan diwarnai dengan cat minyak karena cat baru masih mempunyai bau cat yang masih kuat dan bertahan lama, ini dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan pada burung yang akan menempatinya, sebaiknya gunakanlah sumba/kesumba.

Lambat laun aku mulai memberi variasi dari segi bentuk, awalnya aku hanya membuat sangkar berbentuk kotak saja, lambat laun aku kembangkan bagan atasnya berbentuk seperti atap rumah. Awalnya aku hanya membuat sangkar termasuk ukuran kecil akhirnya aku bisa membangun sangkar ukuran besar dan dapat dipakai untuk burung kutilang, podang dan burung ukuran sejenisnya. Sampai ada teman dan orang lain yang ungi membeli sankar yang aku buat bahkan kalau aku mau ada yang berhasrat memesan utuk dibuatkan sangkar sesuai ukuran yang ia minta, tetapi semua itu aku tolak karena membuat sangkar hanya hobi saja bukan untuk diperdagangkan.

Pemulung Logam Tua

Disekitar dekat rumahku banyak pedagang logam tua terutama besi yang cukup besar, mereka saat itu bisa dikatagorikan sebagai saudagar. Kala mereka mendapatkan barang dagangan baru mereka membongkarnya diluar halaman tempat menibun/gudang mereka, setelah semua logam tua dimasukkan ada yang tersisa ukuran kecil-kecil yang ditinggal seperti baut-baut, mur-mur ukuran kecil, potongan-potongan besi lain yang ukurannya dikatakan kecil. Setelah pintu pagar gudang penyimpanan sudah ditutup, maka sisa-sisa logam tua yang tertinggal boleh diambil. Aku dan teman-temanku (Werdi, Mat Rinda, Saruji, dan lainnya) memungut sisa-sisa logam tua yang ditinggal kemudian dikumpulkan oleh masing-masing dan apabila sudah terkumpul sampai 5 kiligram kemudian dijual kepada tukang timbang yang ada diujung depan gang. Walaupun orang tuaku terkadang menegurnya karena ulahku itu, akupun kemudian melakukan secara sembunyi-sembunyi.
Aku membuat pikulan didalam mencari logam tua itu, pikulan dibuat sedemikian rupa sehingga ketika dipakai saat berjalan akan menimbulkan bunyi, caranya adalah;

  • Pikulan dubuat dari 2 irisan bambu sepanjang 175 centimeter dan 150 centimeter, dengan lebar kira-kira 2 sampai 3 centimeter bagian tengahnya dan mengecil berukuran 1 sampai 1.5 centimeter kearah ujung-ujungnya.
  • Kedua bambu diikat menjadi satu agar dapat menahan beban lebih berat, dimana bagian dalam bambu saling berhadapan antara yang satu dan lainnya, sehingga membentuk semacam rongga kecil.
  • Diantara kedua bambu yang diikat dijadikan satu itu diselipkan beberapa biji asam, karena gerakan naik-turun ketika berjalan dan beban pada pikulan akan menimbulkan gesekan pada biji asam, gerakan bambu bawah lebih kecil daripada bambu sebelah atas karena letak titik imbangnya (neutral axisnya).

Akibat bunyi itu aku menyukai mainan mencari logam tua ini, selain itu aku juga bisa mendapatkan uang walaupun uang jajanku sebenarnya bisa dikatakan banyak apabila dibandingkan dengan teman-teman sebayaku.

Pemulung Sisa Minyak Kelapa

Sadik, salah satu teman mainku terkadang sejak pagi sudah berangkat mencari minyak kelapa sisa dalam drum-drum didekat gudang bernama Cilok, drum-drum yang baru datang dari mengirim minyak kelapa kemudian drum-drumnya disinmpan kembali didalam gudang, sementara drm-drum itu masih didalam truk sebelum dimasukkan kedalam gudang, Sadik dan anak-anak lainnya saling berebutan memasukkan tangkai yang salah satu ujungnya diikati spon kedalam drum melalui lubang bukaan kecil yang tidak tertutup, kemudian dikeluarkan dengan menyerap minyak sisa dari dalam drum, lalu diperas kedalam kaleng besar berukuran 5 sampai 10 liter. Demikian dilakukan berulang-ulang sampai sepon tidak lagi mendapatkan serapan tandanya drum sedah benar-benar kosong. Sebaliknya apabila yang datang adalah drum isi, ketika drum-drum isi diturunkan dari atas truk dengan cara dijatukan ketanah melalui ban-ban bekas salah satunya akan dapat megakibatkan kebocoran, saat itulah cepat-cepat dibuatkan galian kecil agar minyak yang keluar kemudian tertampung untuk disendok kedalam kaleng yang sudah disediakan.

Demikian juga temanku yang tiga tahun lebih besar dari aku Mat Seli, Hori dan Mustamin, mereka juga mencari minyak kelapa sesa untuk mendapatkan tambahan uang jajan atau untuk yang lainnya. Terkadang mereka mencari ditempat-tempat lain seperti Tanjung Perak bahkan sampai ke Kerian sana.

Awalnya aku hanya ikut-ikutan memanjat/'menggandol' truk bersama mereka, lambat-laun ahirnya aku mencoba juga mencari minyak kelapa bekas. Karena aku takut diketahui oleh orang tuaku, maka aku tidak berani mencari minyak dekat dengan rumahku, aku langsung mencarinya di daerah Tanjung Perak kira-kira 5 kilometer dari rumahku. Aku teringat ketika aku hampir saja mendapatkan musibah karena ini, aku berniat pulang dengan hasil minyak didalam kaleng 5 liter yang setengah penuh, aku memanjat truk terbuka dibagian belakangnya, sebelum aku naik keatas truk sambil berlari secepat lajunya truk aku letakkan minyak didalam kaleng tepat didepan mukaku sambil kedua tanganku memegang celah-celah alas/dasar bak bagian belakang truk, ketika aku memanjat tetapi masih belum sepenuhnya nai kedalam truck (bagian badan atas sudah menkait ke dasar bak dan kaki masih mergantungan siap untuk naik kearah dasar truk) bersamaan dengan itu truk melintasi rel kereta api dan sedikit terpental mengakibatkan minyak yang ada dalam kalengku muncrat keatas dan sebagian mengenai mata dan wajahku, aku kaget bukan main, sehingga aku merasa tidak mampu untuk naik keatas truk, aku terdiam sejenak dengan posisi badan sebagian nyangkut diatas dasar bak truk dan kaki bergelantungan dibawah bak truk, aku sudah memikirkan bahwa aku akhirnya akan jatuh jikalau truk tidak berhenti, bahkan perasaan sempat putus asa, tetapi, alhamdulillah sebentar setelah itu truk berhenti di pom bensin karena harus mengisi bahan bakannya. Sungguh sejak saat itu aku merasa tidak mau lagi mencari minyak sisa, walaupun memanjat truk tetap aku lakukan dengan Sadik sampai ke Kerian juga.

Memanjat Truk/Bukan Bajing Loncat

Kesukaanku untuk memanjat truk ataupunkendaraan lainnya tetap saja aku lakukan, misalnya aku ingin pergi ke suatu tempat agak jauh, maka aku pergi ke perempatan jalan mencari truk tanpa tutup belakang yang searah dengan tujuanku untuk aku panjat. Ketika diperempatan semua kendaraan akan perlahan-lahan, ketika itu aku mempunyai kesempatan untuk memanjatnya, lalu aku turun dimana aku suka denga meloncat ke jalan ketika truk dengan kecepatan bahkan aku bisa tetap dalam keadaan jatuh tegak dari truk dengan kecepatan 60 Km/jam, sungguh luar biasa!. Caranya adalah; pertama-tama berjalan menuju ujung belakang truk, setelah siap untuk meloncat turn dari truk posisikan badan membungkuk ke depan, sehingga titik berat badan terasa ke bagian depan dengan kaki kiri dibagian depan dan kai kanan sedikit kebelakang dan kedua tangan seakan-akan menempel diatas kedua lutut. Lakukan loncatan dengan kaki kanan menyentuh tanah/jalan lebih awal daripada kaki kiri dengan menjaga agar posisi badan tetap membungkuk ke depan, kaki kanan berfungsi sebagai penahan berat badan ketika menyentuh tanah/jalan, sedangkan kaki kiri berfungsi menahak gerakan kebelakang akibat terjatuh dari kendaraan dengan kecepatan, posisi badan ketika meloncat selalu membelakangi kendaraan. Ketika meloncat dari atas kendaraan fungsi tangan sebagai penyeimbang badan, ketika badan masih diudara yaitu kakibelum menyentuh tanah, kedua tangan bebes bergerak, tetapi ketika kaki kanan sudah menyentuh tanah/jalan posisi tangan usahakan kedepan lalu scepatnya kearah bawah sampai menyentuh bagian atas lutut sambil membungkukkan badan.

Kebiasaanku memanjat kendaraan ini harus aku akhiri setelah aku terjatuh karena salah loncat dari atas kendaraan box. Ceritanya begini; Aku dari Wonosari, suatu kampung berada dibelakang kampung rumahku, jaraknya kira-kira empat kilometer, seperti biasa aku selalu memanjat kendaraan jikalau ingin pergi dari tempat yang agak berjauhan, siang itu agak mendung, karena jalannya agak sempit, kebanyakan kendaraan kecil saja melaluinya, bersama Sadik, aku sedang menunggu kendaraan yang lewat, akhirnya diputuskan untuk memanjat mobil box yang sedang akan lewat saat itu, tangga kecil bagian belakang mobil box aku tempati berdua dengan Sadik, walaupun sedikit sempit tetapi terasa masih cukup untuk menampung kami berdua. Didalam mobil box ada banyak garam kotak yang terbungkus dalam plastik, setiap plastik berisi sepuluh garam kotak, Sadik akhirnya mengambil dua bungkus garam kemudian mengajakku turun di perempatan Pegirian, aku putuskan tetap melanjutkan perjalananku sampai tempat yang aku tuju perempatan Benteng dekat rumahku, ketika mobil sudah dekat dengan perempatan Benteng, maka aku besiap-siap untuk meloncat turun, badanku tetap searah laju mobil, pikirku, "aku akan turun ketika mobil berjalan perlahan saja", Ketika jalan kendaraan sudah mulai perlahan, maa aku putuskan meloncat, tetapi karena jarak antara tangga belakang dan permukaan jalan sangat pendek dan aku tidak berpengalaman dengan yang demikian, maka ketika kakiku menyentuh jalan aku tidak dapa mengendalikan keseimbangan badanku, akhirnya badanku terpelanting searah lajunya mobil dan bagian kepala atas-belakang membentur permukaan jalan, ketika itu aku merasa pusing, permukaan tanah serasa bergoyang seakan badan berada diatas kapal yang sedang diterjang ombak, seketika itu pula aku berusaha bangkit dan berlari kedalam bundaran perempatan Benteng sambil menjatuhkan diri karena merasa berombak sambil memegang rerumputan yang ada didalam taman bundaran itu untuk membuat/menahan badan agar seimbang.

 Aku medengar Sadik tertawa sambil cekikikan, sebentar setelah aku merasa pulih kembali aku berjalan pulang, dan Sadik menjual garam dari mobil box tadi kepada pemilik warung di ujung gang rumahku sebelum masuk kampungku. Sejak saat itu aku tidak berhasrat lagi untuk memanjat dan meloncat dari kendaraan.

Belajar Ngaji

Ngaji atau belajar membaca Alqur'an merupakan suatu kewajiban yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh setiap anak di kampung dimana aku tinggal, bahkan tidak masuk sekolah taman kanak-kanak (TK) tidak menjadi masalah jika dibandingkan dengan belajar mengaji Alqur'an, sehingga setiap anak dari usia 5 tahunan setiap sore sehabis sholat Asyar atau sebelum sholat Maghrib sudah siap dengan atribut sarung, kemeja dan kopiyah untuk berangkat menuju tempat belajar membaca Alqur'an atu ngaji.

Ayah dipercaya oleh Pak Kamar dan para tetanggaku menjadi imam di musalla (langgar) kecil ukuran 4x8 meter persegi dekat rumahku, sebelumnya langgar itu diimami oleh Pak Kamar, pemilik langgar tersebut, ia berhenti sendiri menjadi imam karena sudah berusia lanjut. Tentu sudah menjadi kebiasaan bahwa secara otomatis si imam akan dinobatkan menjadi guru ngaji di langgar dimana ia menjadi imam. Aku merasa tinggi hati terhadap teman-teman sesama ngajiku karena posisi ayah sebagai guru ngaji, demikian perlakuan teman-temanku yang selalu menjadikan aku tinggi hati, mereka selalu memberi tahu aku apabila ada sesuatu yang tidak diinginkan diantara teman-temanku, entahlah..!, barangkali itu merupakan kondisi umum, yang merasa mempunyai biasanya merasa lebih tinggi derajatnya.

Ngaji awalnya dilakukan di ruang tamu rumahku, namun setelah muridnya bertambah banyak dan rumahku tidak muat lagi menampung mereka, maka selanjutnya dilakukan di langgar tempat ayah menjadi imam. Dilanggar tidak saja diajari untuk membaca Alqur'an, tetapi juga diajari tentang shalat dan persyaratannya, serta azan. Anak perempuan belajar mersama-sama anak lelaki, kami semua masih berusia dibawah sembilan tahunan, ttetapi manakala ada anak perempuan sudah menginjak usia lebih dari sembilan tahun akan disuruh berhenti mengaji bersama dilanggar itu kemudian disarankan untuk belajar mengaji di tempat lain khusus untuk perempuan.

Semua anak akan menjadi senang apabila ada yang tamat Alqur'an yang dikenal dengan istilah 'Tamatan', karena akan ada sukuran dan pasti akan ada acara selamatan dan makan-makan. Setiap anak disuruh membaca sendiri Alqur'an sepanjang waktu ngaji dari sehabis solat Asyar sampai dengan akan datang waktu azan Maghrib, atau setelah Maghrib sampai dengan menjelang waktu azan Isyak. Guru hanya memanggil satu-persatu kemudian diminta untuk membacanya sambil diperhatikan cara membacanya dan sesekali dibenarkan apabila ada bacaan yang tidak sesuai dengan kaedah cara membaca Alqur'a yang diajakan. Setiap murid hanya diminta untuk membaca didepan guru sebanyak satu 'klema', yaitu dari tanda 'Ain' ke tanda 'Ain' berikutnya, ini biasanya tidak lebih dari sepuluh menit saja membaca dihadapan guru ngaji, selebihnya membaca sendiri sampai batas waktu selesai sebelum azan datang. Kemudian dihari berikutnya akan dilanjutkan meneruskan lajutan membaca lanjutan dari hari sebelumnya, demikian seterusnya sampai seluruh isi Alqur'an selesai tamat dibaca dan diadakan acara tamatan.

Setiap anak tidak sama banyak perolehan membacanya dalam setiap hari, itu tergantung dari kecepatan ia membaca, bagi yang sudah lancar, maka ia akan cepat didalam menamatkan Alqur'an, bagi yang lambat akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menamatinya. Untuk itu aku terkadang berbuat curang dengan cara meloncat sampai satu lembar agar lebih cepat dapat menamatkan Alqur'an dengan demikian akan lebih cepat untuk melakukan syukuran. Selain itu dikalangan anak-anak di kampungku akan menjadi lebih terkenal apabila semakin banyak didalam menamatkan Alqur'an.

Ayah mungkin melihat aku sudah mampu membaca Alqur'a tanpa dipandu olehnya, terkadang aku disuruh membantunya untuk mengajari anak-anak yang baru belajar membaca menggunakan Juz Ammah, sampai suatu ketika aku dipindah untuk belajar ngaji ditempat lain yaitu di Masjid Khair, kampung sebelah bernama Danakarya. Disana aku bukan hanya belajar membaca Alqur'an saja, tetapi banyak pelajaran Agama Islam yang diajrkan termasuk pelajaran bahasa Arab. Pelajaran ada dua sesi, sesi pertama non-ngaji seperti pelajaran bahasa Arab, fikih, dan Akhlak dan sesi kedua khusus ngaji. Pelajaran sesi pertama dimulai setelah shalat Asyar dan selesai sebelum azan maghrib, sedangkan sesi kedua dimulai setelah shalat Maghrib sampai sebelum azan Isyak. Sesi kedua merupakan optional atau pilihan bagi setiap murid, boleh ikut atau boleh juga tidak, sehingga untuk sesi kedua hanya diikuti oleh murid yang bertempat tinggal tidak jauh dari masjid Khair.
Aku termasuk anak yang rajin dalam setiap mata pejaran, sehingga aku mempunyai nilai bagus dalam setiap mata pelajaran, sampai salah seorang temanku selalu minta bantuanku didalam mengerjaka pelajaran pekerjaan rumahnya dengan imbalan dibelikan jajan bahkan ditraktir nonton bioskop segala.

Didalam mengaji Alqur'an aku juga tidak mengalami kesulitan walaupun ada beberapa temanku yang lebih baik dari aku, guruku dipanggil Ustad Ro'uf merupakan orang yang tegas, ia jarang tersenyum, jangan mencoba berbuat kesalahan misalnya terlambat datang atau bergurau ketika melakukan aktivitas, maka ia tidak segan-segan akan menghukumnya dengan pecut rotan yang selalu ada di tangannya kala ia mengajar ngaji. Didalam menghukum muridnya, ia selalu memukulkan rotannya pada telapak tangan, jumlahnya tergantung kesalahannya, telapak tangan ia pilih kemungkinan karena tidak akan menimbulkan bahaya bagi murid yang menerima hukuman, tetapi rasanya sakit, bahkan aku selalu minta waktu setelah sekali pukul agar menunda pukulan berikutnya sampai beberapa detik lagi, kawan-kawanku pada tertawa cekikikan manakala aku meringis karena kesakitan, demikian juga Ustad Ro'uf, iapun bisa tersenyum ketika melihatku mengipas kebawah tanganku setelah dipukul rotannya.

Bagi yang ikut mengaji Alqur'an, maka diharuskan pula untuk sholat Subuh berjamaah di Masjid Khair, awalnya ibuku selalu mengantarku setiap pagi ke Masjid, maklum karena jalan ke Masjid Khair harus ditempuh melalui Jalan Raya Danakarya selain itu pagi sebelum azan subuh suasana masih gelap, karena ketika pulang sholat ketika pagi sudah terang, aku melakukannya sendiri. Aku merasa bangga ketika untuk pertama kalinya diuji untuk membaca azan dan Ustad Ro'uf memuji suaraku, apalagi setelah itu aku diperbolehkan untuk azan di Masjid Khair dengan pengeras suara, tentu orang-orang banyak yang mendengar suaraku termasuk kedua orang tuaku. Aku menutukan banggaku kepada ibuku bahwa tadi yang azan Isyak adalah aku, anakmu.

Bagi murid yang dinilai berkemampuan baik oleh Ustad Rouf dalam membaca Alqur'an, maka mereka dapat mengikuti kegiatan luar seperti mengikuti ceramah setiap hari Senin malam oleh Ustad Umar Baraja, dan kegiatan selamatan oleh orang-orang keturunan Arab yang mereka sebut 'Haul'. Kawanku yang pantas untuk mengikuti kegiatan luar itu adalah, aku sendiri, Mohammad Soleh, Abdul Aziz putera Ustad Ro'uf, Marwan, Sunarto, Mukhlis, dan Kodir. Kegiatan ceramah merupakan pendalaman tafsir Alqur'an yang ditunjang dengan hadist Rasul SAW juga, ruang ceramah dibagi menjadi dua bilik yaitu untuk kaum Hawa dan kaum Adam , bilik pembatas hanya tebuat dari kain semacam korden tinggi sehingga antara kedua bilik tidak bisa saling melihat siapa dan apa isinya, hanya suara dari kedua belah pihak yang bisa saling bersahutan antara pemberi ceramah dan penanya dari bilik sebelah. Laki-laki sebilik dengan penceramah sedangkan bilik yang lain tidak terlihat.

Acara 'haul' merupakan acara selamatan atau syukuran orang-orang keturunan Arab di daerah kampung Ampel dan sekitarnya, menu makanan yang disajika dipastikan masakan nasi kebuli, yaitu semacam nasi goreng dengan bumbu ala Timur Tengah dan menggunakan minyak hewan yang dikenal dengan nama minyak 'samin', dan dengan daging dengan tulang kambing yang dipotong sebesar setengah kepal orang dewasa kemudian diatasnya ditaburi bawang goreng. Penyajiannya ditempatkan didalam baki (talam), setiap baki diperuntukkan untuk empat sampai dengan enam orang, untuk anak-anak seusiaku sampai enam orang anak. Untuk orang dewasa mereka makan sajian nasi kebuli dengan tertib, tetapi untuk anak-anak yang terjadi adalah saling berebut. Pada awalnya aku tidak mengerti tentang tatacara mengikuti haul ini, anak-anak yang sudah mempunyai pengalaman sudah menyiapkan segalanya didalam menghadapi rebutan nasi kebuli ini, tetapi bagiyang baru seperti aku, tidak ada persiapan kecuali datang untuk membaca doa dan setelahnya akan makan hidangan, ternyata yang terjadi adalah tidak seperti aa yang aku perkirakan, naka-anak sudah mempersiapkan kantong plastik sehingga begitu dipersilahkan untuk memulai menikmati hidangan mereka bukan langsung makan nasi kebuli yang dihidangkan, akan tetapi mereka berebut memasukkannya kedalam kantong plasti yang sudah mereka sediakan sebelumnya, akupun kelabakan dan merasa takut tidak mendapatkan bagian, maka jalan pintas yang aku lakukan adalah mengambil kopiyah putihku sebagai tempat nasi kebuli sebelum sem semuanya habis disikat teman-teman. Ternyata aku melihat yang melakukan sepeti aku bukanlah aku saja, ada beberapa anak yang menggunakan kopiyahnya sebagai tempat (baca piring) nasi kebuli hidangan haul. Nasi kebuli rasanya memang lezat, untuk itu aku tidak akan pernah menghindari untuk tidak datang apabila ada khabar tentang haul dari orang-orang keturunan Arab daerah kampung Ampel sana.

Dua tahun aku belajar agama Islam di Masjid Khair, aku terpaksa berhenti seteah aku masuk sekolah menengah pertama (SMP) Alkhairiyah karena masuk siang, waktu sekolah selesai pada pukul 5 sore, maka aku tidak bisa mengikuti pelajaran agama Islam di Masjid Khair, oleh karenanya aku juga berhenti belajar mengaji di Masjid Khair itu. Ustad Ro'uf tetap meminta aku melalui ayahku ketika memintakan ijin aku keluar dari kegiatan Masjid Khair agar aku tetap melanjutkan belajar mengaji setelah sholat Maghrib, tetapi aku tidak mau. Sejak saat itu aku tidak lagi belajar mengaji lagi, dan aku lebih menfokuskan kepada sekolah formalku saja, tentang pelajaran agama Islam aku dapatkan dari kurikulum wajib dari SMP Alkhairiyah.

Comments

Popular posts from this blog

KE EMIRATES DAPAT KERJA BARU

AKU INGIN...