AKU INGIN...


Prakata…

Sekitar empatbelas tahun lalu, tepatnya pada awal-awal tahun 2005 tiba-tiba saja perasaan menjadi goyah.. Rasanya aneh saja, ini mengenai aku dan kantorku. Bukan ada apa, tetapi aku sendiri merasa khawatir apabila tiba-tiba aku dikeluarkan, padahal posisiku aku rasa cukup kuat. Penyebabnya adalah, acara lokalisasi ketenagakerjaan terutama di institusi yang berhubungan dengan sektor Pemerintah di UAE membuat aku harus mempersiapkan diri terhadap hal paling buruk, diberhentikan dari pekerjaanku. Lalu aku jadi teringat pada salah seorang rekan kerjaku di kantor yang sama yang sudah sekitar lima tahun lalu bermigrasi ke Kanada, tepatnya di Halifax, Nova Scotia. Dan aku juga jadi ingin mencobanya, bermigrasi ke Kanada...

Itu setelah hampir 11 tahun merantau di UAE, negara Petro Dollar dengan kehidupan yang teratur dan nyaman. Pada awal-awal memulai kehidupan baruku di Negara ini aku hampir tidak mempercayainya, semua jenis makanan mentah hasil bumi tropis yang biasa aku lihat di kotaku, Surabaya, ada. Demikian pula masakan yang dijual, bahkan nampak lebih bersih dan sehat dibanding masakan di warung-warung pinggir jalan daerah Sasak (sebutan Jl. K.H Mas Mansyur, Surabaya) tempat biasa aku makan, terutama makan pagi. Semua jenis mobil ada, dan di sini lebih bervariasi dan ukurannya lebih besar-besar untuk ukuran mobil pribadi, kecuali becak dan kereta (orang Surabaya menyebunya, sepoor) tidak ada. Yang paling membahagiakan aku adalah, aku sekelurga mendapatkan fasilitas akomodasi berupa apartemen dua kamar (karena waktu itu anakku masih satu, putriku), biasa lihat rumah BTN tipe 36 (aku sudah memiliki rumah tipe 36 melalui BTN walaupun belum pernah ditempati). Aslinya aku dari perkampungan kumuh Surabaya Utara, mendapatkan apartemen relatip baru.., heemm.., sungguh menakjubkan. Bukan itu saja, yang tidak kalah menariknya adalah biaya sekolah anakkupun ditanggung walau ada batas maksimumnya...., mengingat biaya sekolah di sini menurut aku dibandingkan dengan sekolah di tempat asalku, mahal sekali.

Rupanya keadaan telah membuat seseorang kehilangan nyalinya, setelah merasa dibuai oleh kenikmatan membuat seseorang bagaikan kacang lupa kulitnya, tapi bukan itu maksudku. Aku tidak lupa kalau dulu pernah hidup di kampung, motor saja harus dituntun sepanjang tidak kurang dari 100 meter dari muka gang jalan utama untuk sampai ke rumah. Makan di warung kaki lima sudah langganan, yang penting makanannya dalam keadaan panas aku merasa aman, pikirku kuman akan mati sebelum masuk mulutku. Terkecuali ketika aku ingin nasi pecel, ini yang perlu aku lirik, apakah sayur dan bumbu-bumbunya ditutup secara rapat dari serbuan lalat yang kekeh ingin ikut menikmati, kalau aku merasa ragu, aku tidak akan minat untuk membelinya. Bahkan aku sudah biasa jalan kaki menuju rumah dari halte mikrolet kampung sebelah ketika pulang kuliah.

Aku jadi teringat pada masa lalu yang tidak akan pernah hilang dari ingatanku adalah, ketika aku baru masuk Sekolah Menengah Atas, SMA Hang Tuah Surabaya, suatu SMA yang terletak di Jalan Belakang Penjara daerah Kali Sosok sana. Karena belum punya motor aku harus jalan kaki setiap hari dari rumah ke sekolah dengan menyusuri kampung Kalimas Hilir lalu menyeberang sungai Kali Mas dengan perahu tambang, suatu perahu terbuat dari kayu yang diikatkan pada tali tambang baja berdiameter kira-kira 25 mm yang membentang melintang sungai dari satu tepi sungai ke satu tepi sungai lainnya,  perahu digerakkan dengan tenaga orang dengan tongkat panjang yang didorong melawan dasar sungai, atau dengan menarik tali tambang apabila gerakan yang di inginkan pelan-pelan saja ketika meninggalkan atau sampai di tepian sungai. Jarak rumah ke sekolah mungkin sekitar 5 kilometer, dari rumah di Sawah Pulo SR rumahku ke Jl.  Belakang Penjara daerah Kali Sosok sana.

Mungkin yang jadi masalah adalah anak-anakku, Mereka sudah tidak mengenal dari kampung mana orang tua mereka pernah hidup. Mereka sudah biasa hidup dilingkungan semua serba teratur serta dengan barang-barang berkwalitas dunia. Mereka sudah tidak  perlu membuat mobil mainan bila menginginkan mobil-mobilan untuk mainan, di toko-toko mainan atau toko serba ada tinggal pilih, lebih simpel. Yang terpenting bagi mereka saat ini berada ditingkatan kehidupan seperti ini... Inilah beban orang tua sebenarnya.., takut kehilangan apa yang sedang diperoleh, dan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga, terutama untuk anak-anak mereka.  Kalaupu masih dapat mencari tempat lain untuk mengadu nasib, pindah negarapun tidak masalah. Bahkan pindah kewarganegaraan sekalipun akan dihadapi.

Migrasi…

Aku waktu itu berpandangan bahwa, apabila harus keluar dari pekerjaanku sekarang, dan mencari kerja dengan cara bermigrasi ke Kanada merupakan alternatip pilihan yang lebih baik daripada pulang ke Tanah Air di mana nanti untuk mencari kerja masih harus membawa surat lamaran ke sana ke mari. Dan juga dari segi pendapatan akan lebih terjamin di Kanada daripada di Tanah Air, juga untuk lingkungan anak-anakku yang tidak biasa hidup di Tanah Air. Istilahnya nanggung untuk pulang, sudah terlanjur basah demi kehidupan anak dan keluarga, maka sekalian nanti saja pulang ke Tanah Air apabila anak-anak sudah bisa hidup bebas dari dukungan orang tua. 

Ada juga alasan lain mengapa memilih ke Kanada; menurut informasi dari konsultan khusus yang melayani migrasi (konsultan Primers) bahwa, Kanada memiliki data statistik di setiap bagian wilayahnya mengenai kebutuhan tenaga kerja mereka baik jenis dan tingkatannya. Ini sebagai dasar untuk menerima imigran-imigran baru sesuai dengan bidang dan tempat yang akan dituju. Caranya sederhana..; yang berminat mengajukan lamaran atau applikasi sendiri atau melalui konsultan (cara yang terakhir yang aku pilih). Persyaratan-persyaratan tentang diterima atau tidaknya akan ditentukan dengan sistem kredit poin. Penilaian utamanya berdasarkan tingkat pendidikan, jenis dan lama pengalaman kerja, bahasa yang dikuasai (Bahasa Ingris dan/atau Perancis yang diutamakan), itu termasuk juga apabila ada, dari pihak pasangan dan/atau orang yang ditanggung oleh apllikan yang nantinya akan ikut bermigrasi pula. Jumlah kekayaan yang dimiliki (waktu itu minimum 50.000 CAD (Canadian Dollar) berupa uang dengan statemen dari bank) Waktu itu jumlah minimum poin yang harus dikumpulkan adalah 70.., dan aku sekeluarga menurut konsultan yang membantu dapat mengumpulkan sekitar 71...

Entah apa yang menyebabkan nilai dapat aku lampaui, yang pasti data yang aku masukkan adalah seperti berikut ini:
  • Pendidikan terakhirku dan istriku adalah sama-sama sarjana, aku dari teknik dan istriku dari keguruan, termasuk juga anak-anakku saat itu sedang sekolah apa dan di mana,
  • Pengalaman kerja di bidang keilmuanku adalah 21 tahun, sedangkan istriku tidak pernah bekerja secara formal kecuali beberapa pengalaman kerja sebagai tenaga-kerja sukarela,
  • Kemampuan bahasa selain bahasa ibu adalah Bahasa Arab dan Ingris, demikian pula istriku walaupun kemampuannya tidak sebaik aku,
  • Harta yang aku miliki aku tunjukkan semuanya, itu termasuk jumlah uang di dalam akunku dan istriku baik di Indonesia ataupun di luar, juga properti yang aku miliki, dan
  • Dokumen-dokumen ijazah dari SD sampai pendidikan terakhir, sertifikat-sertifikat kursus dan pelatiahan bahkan piagam yang dianggap menununjang untuk mendapatkan nilai diterjemahkan ke dalam Bahsa Ingris,itu semu aku lakukan di KBRI Abu Dhabi.

Lagi-lagi menurut konsultan itu, nantinya apabila diterima sebagai imigran di Kanada, untuk pertamakalinya ketika sampai di sana akan langsung mendapatkan tunjangan sosial berupa biaya makan setiap hari selama tiga bulan. Tetapi biaya akomodasi ditanggung sendiri, itulah gunanya tentang jaminan bahwa si apllikan harus memiliki uang minimum 50.000 CAD. Dijamin bahwa dalam tiga bulan akan mendapatkan pekerjaan, yang penting kerja walaupun bukan profesi utamanya. Syukur-syukur apabila dapat pekerjaan sesuai bidang profesinya. Ini yang tidak sejalan dengan keinginanku, mendapatkan bantuan padahal masih sehat untuk bekerja, dan juga ada harta pendukung untuk hidup sementara. Tetapi aturan adalah aturan, maka harus menerimanya apabila menginginkannya.

Biasanya setelah persyaratan lolos, lalu membayar biaya administrasi ke pihak imigrasi Kanada, besarnya sekitar 2000 CAD, waktu itu setara dengan 2000 USD. Lalu kira-kira setelah 22 s/d 24 bulan akan datang surat panggilan dari pihak Imigrasi Kanada bahwa yang bersangkutan telah memenuhi syarat. Dan langkah terakhir adalah menyerahkan hasil test provisiensi Bahasa Ingris dari ILTS ataupun TOEFEL. dengan nilai rata-rata diatas 60% termasuk writing, reading dan listening. Dan dari keti katagori itu tidak boleh ada nilai kurang dari 60%. Bahasa Ingris ini karena waktu itu aku ingin ke Vancouver di mana Bahasa sehari-harinya juga Bahasa Ingris. Entah bagi negara bagian yang Bahasa sehari-harinya Bahasa Perancis..

Aku telah memilih Kota Vancouver, British Columbia, daerah Pantai Barat Kanada dengan cuaca paling baik dibandingkan dengan daerah lain di Negri Kanada. Ternyata surat konfirmasi aku terima hanya dalam 18 bulan setelah applikasi lamaranku, tepatnya pada Awal Bulan Desember 2007. Menurut konsultan yang mengurusinya ini sesuatu yang luar biasa cepat, hanya 18 bulan. Ini adalah suatu keberuntungan bagi aku sekeluarga.

Aku coba urus sertifikat profisiensi Bahasa Ingris di Dubai, tepatnya daerah Karamah, di kantor Primers, konsultan migrasi dalam bentuk latihan dua kali dalam seminggu. Setiap minggu akan ada evaluasi latihan, caranya hampir sama seperti ujian sesungguhnya. Dalam tiga minggu hasilku selalu pas-pasan, bahkan terkadang minggu ini yang kurang di listening, minggu berikutnya writing. Tapi hasilnya mesti pas-pasan. Bila ada yang 6,5 dipstikan ada yang 5,5. Apabila tidak ada nilai 5,5nya dipastikan semuanya bernilai rata-rata 6.

Setelah sekitar tiga minggu berjalan baru aku menyadari bahwa sekitar tiga bulan yang lalu aku baru saja pindah kerja dari Angkatan Laut UAE ke suatu galangan kapal, namanya Abu Dhabi Shipbuilding (ADSB), suatu perusahaan galangan kapal di Abu Dhabi berbentuk Public Joint Share Exchange, dengan gaji yang diterima sekitar satu setengah dari gajiku sebelumnya. Lalu aku berdiskusi dengan istriku. Aku berpendapat bahwa, sekarang pekerjaan baru sudah di tangan, di Kanada nanti masih harus mencari kerja juga. Ibaratnya, di sini burung sudah di tangan, di Kanada masih harus berburu. Setelah dia mengerti lalu diputuskan untuk tidak meneruskan migrasi ke Vancouver, Kanada walaupun dalam hitungan biaya telah dikeluarkan kira-kira sebesar 2000 USD untuk kantor Imigrasi Kanada, dan biaya konsultan sebesar 1000 USD. Setelahnya berarti, khususnya aku akan kehilangan kesempatan bermigrasi ke Kanada serta hilang pula 3000 USD karena tidak akan dikembalikan. Bye-bye Kanada..

Putriku sudah berumur 14 tahun dan putraku 11 tahun, aku pikir masih terlalu kecil untuk mengerti tentang semua ini. Lain halnya ketika mereka pada kuliah, justru mereka merasa menyesalinya mengapa tidak diteruskan saja untuk bermigrasi ke Kanada. Kesempatan itu ternyata mereka mengimpikannya. Itu mungkin karena mereka kuliah di Amerika dan Kanada, putriku di Seattle, Amerika Serikan dan putraku di Vancouver, Kanada. Dua kota itu berdekatan, sekitar dua jam melalui jalan darat dengan mobil.

Ke Kanada…

Putra dan istriku sudah pernah ke Kanada, sedangkan aku belum samasekali. Putraku kuliahnya di Kota Vancouver, sedangkan istriku pernah berkunjung ke sana ketika putriku masih kuliah di Amerika Serikat untuk mengungi bekas teman SMA putriku di Abu Dhabi dulu. Dan juga istrikulah yang mengantarkan putraku untuk pertama kalinya dalam memulai kuliahnya. Walaupun begitu, aku memiliki Visa Kanada, untuk berjaga-jaga karena putraku sedang kuliah di sana.

Sampai putraku lulus kuliah aku juga belum pernah berkunjung ke sana. Sampai Akhir Mei 2019 kemarin aku baru berkunjung ke Vancouver dikarenaakan putraku mengikuti wisuda kelulusan dari Univercity of British Columbia, UBC Vancouver, dan aku menghadiri wisuda putraku. Sebetulnya pada tahun 2010 dan 2014 lalu aku pernah ke Seattle, Amerika Serikat untuk urusan kuliah putriku, ngantar dan wisuda. Seattle katanya suhunya hampir sama dengan di Vancouver, tetapi aku tidak lagi memperdulikan tentang berkunjung ke Kanada, walaupun letak Kota Seattle dekat perbatasan Kanada terutama Kota Vancouver, tidak seperti istri dan putriku yang sudah pernah singgah di Kanada ketika berkunjung ke Seattle (Aku dan istriku diusahakan sendiri-sendiri ketika berkunjung ke Seattle, alasannya pengiritan dana).

Khabar baik dari putraku datang di pertengahan bulan April ini, kelulusan dari kuliahnya sudah mendapatkan kepastia. Aku dan istri sebenarnya sudah mengantisipasi dengan mempersiapkan diri untuk berkunjung ke Kanada pada acara wisudanya nanti, tepatnya pada akhir bulan Mei 2019 ini. Tanpa membuang waktu aku langsung mengajukan permohonan cuti kerja, dan istriku mulai mencari tiket dan tempat penginapan. Seperti yang istriku duga, harga tiket tidak juga murah dan penginapan menjadi lebih mahal. Tiket termurah ada pada KLM, dan penginapan termurah, bekas dormatori mahasiswa yang dirubah menjadi penginapan tamu ketika masa libur musim panas di mulai. Dan itu yang dipesan oleh istriku.

Akhir Mei sudah mulai dikatakan musim panas di Kanada, karena para mahasiswa sudah mulai menikmati liburan musim panas sampai dengan akhir Agustus atau awal September nanti. Serta yang mengambil kelas musim panas, ini aku lihat di UBC, mereka sudah masuk kuliah sekitar semingguan yang lalu. Di tempat penginapan yang biasanya dipakai sebagai dormatori para mahasiswa pada masa kuliah non-musim panas, heaternya sudah dimatikan dan ketika malam suhu udara di dalam kamar masih terasa dingin sekali, tidur bagiku harus memakai selimut dan kaos kaki harus juga dipakai. Siang hari suhu udara masih sekitar 15 derajat Celsius, inipun apabila keluar jalan-jalan harus tetap memakai atau membawa jaket. Salju masih terlihat, tetapi di puncak-puncak bukit pegunungan sekitar Vancouver.

Nampaknya Vancouver adalah daerah datar di tepian pantai yang dikelilingi oleh perbukitan. Kota ini untuk berkembang harus memapras bukit, menggunduli perpohonan sekitar perbukitan. Menurut putraku, justru rumah-rumah di lereng-lereng bukit itu yang berharga mahal. Akibat dari keterbatasan lahan, harga property di Vancouver mahal sekali, kisaran harganya rata-rata untuk apartemen per kaki perseginya antara 800 sampai dengan 1000 Dollar Kanada. Tetapi kalau punya uang banyak lebih baik membeli rumah, karena harga per kaki perseginya bisa lebih murah, namum ukurannya lebih besar. Karena ini daerah sekitar Vancouver sebagai alternatip tempat tinggal seperti Surrey cepat sekali berkembang. Bahkan harga property di Surrey dalam 10 tahun bisa naik dua kali lipat, itu menurut orang Indonesia yang menetap di sana.

Tiba-tiba aku berpikir ke belakang.., inilah tanah yang pernah aku inginkan untuk bermigrasi lebih dari sepuluh tahun lalu. Suasana kehidupan tidak bagus-bagus amat, dan juga tidak ada yang salah, biasa saja menurut aku. Namun yang jadi momok bagi aku adalah, aku masih harus memakai selimut karena dinginnya suhu kamar ketika tidur di malam awal musim panas. Lalu ketika musim dingin bagimana keadaannya.? Aku tanyakan putraku tentang kehidupan di sini, dia senang hidup di Vancouver ini, bahkan ia ingin menetap di sini apabila memungkinkan. Batinku, semua bisa saja…, dan semoga kamu dapatkan apa yang kamu inginkan yang penting itu baik untuk kamu dan keturunanmu nanti..

Vancouver....!, ongkos karcis bis kota sebesar $3 (maksudnya Dollar Kanada) selama satu jam. Dikatakan murah apabila menggunakannya secara maksimum, pergi keliling sampai kembali lagi semuanya dilakukan satu jam. Tetapi akan terasa mahal apabila bepergian lebih dari satu jam. Sepotong pizza termurah 2 Dollars (biasanya pizza ukuran diameter sekitar 40 cm dibagi 8 potong). Sewa satu kamar di dalam apartemen sekitar $1500 per bulan, tapi sewa kamar dalam rumah sekitar 900san sudah murah, tetapi harus menyewa dalam satu tahun dengan dibayar setiap bulan. Makan menu utama yang paling murah sekitar 10 Dollars, kecuali Mc Donald bisa $8 bahkan 4 Dollars saja untuk burger sederhana. Kopi Horton gelas terkecil $1,45, tapi jangan harap rasanya seperti yang biasa aku buat di kantor atau rumah, yang dijual encer sekali yang penting namanya terasa kopi, dan donat termurah di tempat yang sama $0,99. Itu semua nanti masih akan ditambah sekitar 12% biaya pajak. Aku berpikir, biaya di Vancouver murahnya tidak mengalahkan biaya-biaya di mana aku tinggal sekarang. Ini mungkin karena standar gaji di Vancouver tinggi. Gaji untuk penjaga restoran atau toko per jam sesuai tawaran di dalam iklan adalah 12 Dillars, bahkan tidak jarang yang menawari 18 Dollars per jamnya. Di tempat lain..? Mungkin jarang ada tempat lain yang dapat mengalahkannya…

Akhirnya aku merasa lebih menjadi yakin bahwa, aku tepat dulu tidak bermigrasi ke Vancouver, ini terutama bila dilihat dari keadaan suhu udaranya. Ternyata aku lebih suka hidup di tempatku sekarang ini.. Entah ini mungkin karena aku belum biasa berada di dalam rungan dengan pemanas atau heater. Mungkin masih belum tentu juga aku dapat menanggung kuliah anak di Vancouver atau di Seattle bila aku bermigrasi, karena bagi siswa-siswa lokal untuk masuk di universitas-universitas ternama di Kanada dituntut untuk memiliki nilai rata-rata di atas 90%, ini karena jatah untuk mahasiswa lokal terbatas, diutamakan mahasiswa internasional karena akan meningkatkan pendapatan universitas. Demikian pula bagi warga Kanada yang menguliahkan anak mereka di Amerika, akan diperlakukan sebagai mahasiswa internasional, biayanya mahal sekali. Aku bukannya pesimis tentang penghasilan, namun aku sampai saat ini masih mampu membiayai anak-anakku sebagai mahasiswa internasional baik di Amerika ataupun Kanada.

Keinginan Anak-anak…

Lain orang tua lain anak. Pada umumnya anak akan mengikuti keinginan orang tua. Ini terutama bagi orang-orang yang hidu belahan bumi sebelah timur. Kilas balik anak-anakku hamper tidak pernah tinggal lama di Indonesia. Putriku saja sejak umur dua tahun sudah meninggalkan Indonesia ke Persatuan Arab Emirates, dipastikan memorinya tidak banyak yang dia kenal kecuali wajah kakek dan neneknya (semoga mereka selalu mendapatkan rahmat dari-Nya). Putraku lahir di Abu Dhabi, kondisinya sama saja dengan putriku. Mereka ke Indonesia ketika libur sekolah saja, maksimum dua bulan dalam setahun berkunjung ke Surabaya dan Nganjuk.

Setelah mereka besar dan memiliki akal bebas berpikir mereka baru sadar, bahwa mereka adalah orang Indonesia yang tidak pernah hidup di kampung halamannya. Yang mereka kenal adalah ayah ibu mereka saja yang membiarkan mereka hidup sebagaimana kehidupan di tempatnya sekarang, di mana ketika pulang ke Kampung Halamannya sono oraang-orangnya bersikap berbeda. Anak-anak terkadang merasa risih apabila ditanya yang menyangkut pribadinya, misalnya tentang keadaan badan, pacar dan semacamnya. Bahkan terkadang aku dan istriku harus intervensi memberikan pengertian bahwa, di kampung kita yang begitu itu biasa, mereka menganggap itu sebagai sapaan dan perhatian mereka kepada yang lain yang dianggap dekat. Dan kita sebagai manusia harus lentur atau fleksibel, jangan kaku, yang penting tidak mengganggu atau melukai badan kita.., di manapun kita berada kita harus cepat untuk menyesuaikan dengan kebiasaan lokal tempat kita berada.

Tentu masih banyak hal-hal yang mereka rasa masih asing tentang kampung halaman mereka sesungguhnya. Untuk yang lebih besar lagi adalah tatacara di jalan raya, serta variasi jenis angkutan yang ada. Meraka sudah biasa dengan keselamatan publik merupakan hal utama, dan pengguna akan sadar tentang itu. Sementara di kampung halaman mereka hal itu pada umumnya tidak praktis. Pergi atau pulang ke rumah bisa kapan saja tanpa ada rasa kekhawatiran tentang keselamatan mereka, sementara di kampung halaman mereka pergi atau pulang malam merupakan hal yang menakutkan dari gangguan keamanan mereka. Makanan yang dijual selalu akan mendapatkan pengawasan dari pihak Kotapraja atau badan yang bertanggung jawab, di kampung halaman mereka siapa saja bebas menjual makanan baik mentah tau sudah diolah.

Itu semua mungkin yang menjadikan anak-anakku sebagai orang Indonesia namun tidak tau tentanng Indonesia (baca kebiasaan) atau tidak terbiasa dengan kebiasaan Indonesia, istilah bekennya, ”the lost child”. Entah ada berapa lost child di sekitar kita, bahkan untuk ukuran kecil saja semisal anak yang biasa hidup di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan yang lainnya sudah tidak mengenal atau memakai lagi budaya asli orang tua mereka berasal. Mengingat besarnya wilayah Indonesia, banyak anak keturunan etnis tertentu dari tempat yang jauh dari dia hidup sekarang tidak lagi mempraktekkan kebiasaan asli asal nenek moyang mereka berasal. Banyak orang tua yang sengaja meninggalkan kebiasaan dari daerah asal mereka karena harus hidup di tempat yang baru, sehingga kebiasaan itu tidak dipraktekkan kepada anak-anak mereka. Tentu ada banyak alasan, apakah karena sudah tidak relevan lagi karena jaman, karena tempat dan sebagainya. Tetapi anak-anak keturunan mereka harus tetap bertahan. Untuk itu banyak dari anak-anak setelahnya yang enggan kembali ke kehidupan dari mana orang tua mereka berasal.  Bahkan setelah orang tua mereka tiada, warisan-warisan mereka yang ditinggal di kampung halaman mereka bila ada, dijual bahkan tidak diurus.  Hal ini juga akan berlaku bagi mereka yang hidup di luar negeri, seperti anak-anakku. Tentu mereka akan mencari opsi yang sama apabila memungkinkan, tidak ingin kembali ke kampung halaman orang tua mereka. Mereka akan mencari tempat baru yang kebiasaannya paling tidak mendekati dengan kebiasaan kehidupan mereka saat ini. Seperti anak yang harus memiliki KTP tempat mereka merasa nyaman hidup, anak-anak yang hidup di luar negeripun akan berbuat sama, menggati paspor mereka sesuai tempat di mana mereka merasa hidup nyaman.  Bahkan hal ini bukan untuk anak-anak saja, para orang tua banyak yang melakukan pengambilan paspor negara lain karena mengaambil kesempatan demi kehidupan mereka yang lebih terjamin.

Aku dan istriku sejak awal sudah mempersiapkan diri apabila masih ada umur yang tersisa untuk kembali ke kampung halaman. Bagi aku dan istriku, di mana saja hidu sama saja yang penting memiliki kegiatan sehari-hari. Bahkan di kampung halaman lebih baik lingkungannya untuk menghabiskan masa tua. Tetangga terasa lebih perduli dengan yang lain. Yang terpenting kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi. Menurut aku, bagi orang tua yang sudah pensiun dari pekerjaan utama harus tetap memiliki sumber penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari, juga harus memiliki kegiatan rutin walaupun tidak sekeras pekerjaan sebelumnya, syukur-syukur masih bisa melanjutkan pekerjaan yang mirip dengan pekerjaan sebelumnya. Lalu kesehatan tetap terjaga. Lalu bagaimana dengan anak-anakku..? masa depan mereka ada di tangan mereka, merekalah yang harus memutuskannya, aku sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya saja, yang penting untuk kebaikan mereka…

END.

Medio: Abu Dhabi, 5/7/2019.

Comments

Popular posts from this blog

SETIAP ORANG AKAN MELALUI MASA KANAK-KANAK

KE EMIRATES DAPAT KERJA BARU