ANAK SUSAH

Desa Pakong terletak di bawah kaki gunung Embilleh. Gunung kapur yang terlihat berada di sebelah kanan dari kapal ferry ketika menyeberang dari Surabaya ke Pulau Madura.  Dari Gunung itu ada sungai kecil mengalir melalui tepian Desa Pakong. Suara gemelicik air yang mengalir di antara bebatuan kali bagaikan suara musik alam sepanjang hari. Suara belalang dan jangkrik yang bersahutan di malam hari semakin menambah ramainya alunan musik merdu dari alam di Desa itu. Tetapi, itu tidak menggambarkan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Alam memang ramah, orang-orangnya pun juga ramah, namun di sana-sini banyak anak-anak yang beranjak remaja tidak memakai baju. Itu bukan karena mereka tidak suka memakai baju, akan tetapi karena baju yang akan dipakai tidak ada. Ada bajupun bukan untuk dipakai bermain, tetapi untuk kegiatan tertentu, misalnya menghadiri undangan dengan orang tua mereka atau pergi ke mana saja bersama orang tua mereka atau juga untuk memasuki langgar belajar ngaji ataupun melakukan sholat atau ibadah lainnya. Kebanyakan dari mereka kemanapun pergi bermain hanya mengenakan celana model boxer yang sudah kusam, bahkan banyak tambalnya. Atau, memakai sarung kusam yang mungkin bertambal juga.

Itulah gambaran daerah minus entah sejak kapan. Yang pasti, tanahnya berkerikil, kalau hujan datang akan menjadi licin, dan yang bisa di tanam untuk bercocok tanam ketika musim hujan datang adalah jagung yang dapat dipastikan akan tumbuh kerdil. Buah jagungnya pun tidak lebih besar daripada pegangan setir sepeda mini milik anak umur tujuh tahunan. Sepanjang tahun paling banyak dua kali tanam jagung, selebihnya menanam ubi kayu.

Untuk itu hampir dipastikan bahwa penduduk yang sudah berusia remaja lebih suka untuk merantau ke luar dari desa Pakong. Merantau utamanya ke Surabaya atau ke Jakarta. Bahkan merantau ke Kalimantan yang masih belantara.

Membaca huruf Latin merupakan milik orang-orang istimewa, karena tak satupun dari penduduknya yang bisa membaca huruf Latin, karena tak satupun dari mereka yang bersekolah di sekolah formal. Sekolah formal dapat dikatakan tidak ada di seluruh desa. Ada dari mereka yang hanya mampu belajar membaca huruf Arab yang mereka dapaati dari belajar membaca Alqur'an di langgar-langgar.

Marsali mempersunting Minah, acara perkawinan mereka dilaksanakan dengan sangat sederhana, tanpa pesta meriah, tanpa iringan sound system apalagi hiburan, tanpa guyuran hujan kado layaknya perkawinan, bahkan tanpa adanya ucapan selamat dari kawan-kawannya, yang ada hanyalah, kehadiran para sesepuh antara kedua belah pihak.

Itulah keadaan yang mencerminkan keadaan sesungguhnya dari lingkungan kedua keluarga mereka, suatu perkawinan yang hanya cukup dengan perayaan akad nikah tanpa adanya suatu pesta resepsi.  Dengan mengundang tetangga dekat dan kerabat dari kedua mempelai ketika akad nikah merupakan pernikahan yang sudah dibilang lebih dari cukup saat itu. Mas kawin bukanlah hal yang sangat penting melebihi saling menerima keadaan keduanya. Itu bukanlah karena mereka terpaksa atau dipaksa kawin melainkan memang keadaan dibawah kemiskinan dari keduanya yang membuat perkawinan pun diselenggarakan seadanya.

Selang seminggu kemudian Marsali harus meninggalkan Minah di desa dengan orang tuanya menuju ke Surabaya demi untuk menyambung hidup mereka. Setiap bulan Marsali pulang ke desa untuk bertemu dengan istri yang ia tinggal. Pulang ke desa bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena letaknya jauh dari jalan raya, juga sangat jarang angkutan umum dapat ditemui melalui jalan raya kecuali ketika adanya hari Pasar Kamis atau Sabtu. Berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer merupakan hal biasa dilakukan oleh banyak orang saat itu bahkan sambil membawa beban di atas pundak atau kepala mereka, tentu perjalanan banyak terhenti untuk istirahat karena kelelahan. Pulang ke desa setiap bulan tidak akan dilakukan kecuali ada keperluan sangat penting. Alasan inilah yang membuat Marsali agar segera dapat menyewa sendiri kamar di Surabaya, sehingga dapat membawa Minah istrinya tinggal serumah bersamanya di Surabaya.

Upaya kerja kerasnya dapat merealisasikan impiannya, Marsali pun kini mampu menyewa kamar sendiri di suatu kampung yang kini dikenal dengan alamat Sawah Pulo SR Gang 3, Nomor 17, sehingga ia dan istrinya dapat segera memulai untuk  tinggal bersama di kamar ukuran 4x3 meter persegi itu. Kamar yang terbuat dari anyaman bambu (ghedek) dan tempat tidur 'lincak' beralaskan tikar. Keadaan ini merupakan keadaan umum di calon kampung kumuh Sawah Pulo SR ini. Jika hujan akan datang keadaan tidak ubahnya seperti keadaan desa yang mereka tinggalkan, terdengar irama suara kodok-kodok yang saling bersahutan. Di sana-sini masih banyak sawah dan talun yang ditanami oleh pemiliknya. Walaupun demikian tidak mengurangi kebahagiaan Marsali dan Minah untuk tetap hidup di perantauan. Apalagi ketika pasangan dua insan ini mulai membuahkan hasil, Minah hamil untuk pertamakalinya. Kehamilannya bukan tanpa masalah, selain harus berjuang dengan kondisi nafsu makan karena karena mual juga harus melawan kondisi perut dan janin di dalamnya, sebagai pasangan dari desa tanpa pendidikan formal mereka tidak tahu harus berbuat apa,  mereka sama-sama belum memiliki pengalaman dengan perawatan janin yang sedang berada di dalam perut ibunya. 

Rupanya mereka tidak beruntung, kali ini anak pertama yang mereka harapkan harus lahir premature sebelum tujuh bulan usia kehamilannya datang. Tanpa pertolongan tenaga medis yang memadai anah laki-laki pertamanya meninggal dunia sebelum dilahirkan. Anak sebesar lengan orang dewasa itu mereka beri nama Ahmad. Demikian pula untuk kehamilan yang ke dua, keadaannya lebih parah dari anak pertamanya. Anak kedua juga lahir premature lebih awal, ia meninggal dunia sejak dari dalam perut ibunya juga, anak yang masih berupa janin itu keluar rahim sebesar kepalan ibunya, dan kemudian anak berjenis kelamin laki ini diberi nama Abdullah lalu di kubur di sebelah rumah kontrakan mereka atas permintaan kerabatnya, bukan dikubur di tempat pemakaman umun seperti anak-anak terlahir dalam keadaan normal. Untuk kehamilan yang ketiga demikian pula, anak ke tiga berjenis kelamin laki meninggal dari dalam kandungan, dan ketika di kubur mereka beri nama Muhammad. Untuk kehamilan yang keempat berbeda, ketika hamil muda janin di dalam perut Minah hilang dengan sendirinya. Ini terjadi secara berulang-ulang sampai akhirnya mereka meutuskan untuk meminta bantuan pengawasan Dokter, dan seterusnya mereka  memakai jasa konsultasi Dokter. 

Selang enam tahun dari kelahiran anak meninggal yang ketiga Minah mulai hamil lagi, Marsali dan Minah tidak ingin kehilangan kesempatan kali ini. Selama kehamilan Minah selalu dalam pengawasan Dokter. Dokter selalu mengawasi dan menjaga kandungan Minah agar janin yang ia kandung dapat selamat hidup sampai dilahirkan. Ketika usia kehamilan sudah memasuki bulan ke 11, tepat pada tanggal 9 Desember 1961 lahirlah anak berkelamin laki-laki.  Setelahnya mereka tidak dapat dikaruniai anak lagi, sehingga anak laki-laki yang kemudian menjadi anak satu-satunya yang dapat menemani mereka sampai akhir hayat, itulah aku.

Comments

Popular posts from this blog

SETIAP ORANG AKAN MELALUI MASA KANAK-KANAK

KE EMIRATES DAPAT KERJA BARU

AKU INGIN...