SURABAYA
UMUM
Surabaya merupakan kota Maritim, status itu lekat karena letaknya secara geografis berada di tepi pantai, mempunyai pelabuhan besar dan ditunjang oleh industri maritim besar seperti PT. Pal dan PT. Dok dan Perkapalan Surabaya, dan industri maritim menengah serta kecil lainnya. Karena letaknya hampir sejajar dengan permukaan laut, maka Surabaya relatif panas, dengan suhu udara panas apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Ketika musim panas, di siang hari suhunya dapat mencapai 34 derajat Celsius dan malam hari suhunya sekitar 27 derajat Ceilsius, dan di waktu musim hujan, suhu siang hari sekitar 27 derajat Celsius dan malam hari sekitar 25 derajat Celsius.
Sejak tahun 1916 Kota yang dibelah oleh Sungai Emas (orang Surabaya menyebutnya Kali Mas) ini, telah disibukkan dengan kegiatan pelabuhan, ini dikarenakan Surabaya merupakan kota pelabuhan yang sangat sibuk seperti kota-kota pelabuhan lainnya di dunia antara lain New York Amerika Serikat, ia memiliki pelabuhan yang baik dan pusat perdagangan yang aktif. Daerah pusat industri dengan pertukaran yang cepat seperti gula, kopi, teh dan tembakau. ia memiliki semacam kompetisi dalam perdagangan dari China.
Di kota inilah Nasionalisme di Indonesia mulai tumbuh di mana untuk pertamakali dilembagakan Partai Nasional pada bulan Mei tahun 1908 bernama Budi Utomo. Kemudian pada tahun 1912 pada Partai Islam bernama Sarikat Islam dengan anggota 2,5 juta orang yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto. Serta dari kota inilah Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno lahir.
KOTA PAHLAWAN
Surabaya terkenal juga dengan sebutan sebagai Kota Pahlawan. Hal ini disebabkan oleh suatu peristiwa pertempuran bersejarah masyarakat Surabaya dalam melawan sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia pada tanggal 10 Nopember 1945. Dimana hal ini untuk melawan menghadapi ancaman Major General Howthorn, Komandan Divisi ke 23 Pasukan Sekutu melalui pamphlet yang disebarkan pada tanggal 27 Oktober 1945 melaui pesawat Dakota yang terbang langsung dari Jakarta agar masyarakat Surabaya menyerahkan senjata hasil rampasan dari tangan tentara Jepang dalam waktu 2x24 jam dan membiarakan Pasukan Sekutu (Ingrris) menetap di Surabaya. Akan tetapi pada tanggal 28 Oktober 1945 Komandan TRI Surabaya Mayor Gendral Yonoseweyo meninstruksikan untuk melakukan perlawanan dengan semboyan penjajah harus angkat kaki dari Bumi Indonesia.
Pasukan sekutu (Inggris) merupakan salah satu pemenang pada Perang Dunia ke-2, mereka datang dengan bangganya Brigade ke-49 bagian dari Divisi ke-23 yang juga dengan berbekal pengalaman perang melawan tentara Jepang di hutan-hutan Birma dengan sandi 'The Fighting Cocks'.
Perlawanan masyarakat Surabaya pada tanggal 28 dan 29 Oktober 1945 memaksa pasukan sekutu untuk mengangkat bendera putih kemudian meminta untuk bernegosiasi, hal ini menyebabkan pamor tentara Inggris jatuh, adanya perlawanan penduduk Surabaya menyebabkan banyaknya korban jatuh di pihak Inggris.
Selama Perang Dunia ke-2 selama lima tahun, tentara Inggris belum pernah kehilangan serang Jendralnya, tetapi di Surabaya yang hanya lima hari bertempur harus kehilangan Brigadir General Mallaby, lebih-lebih pada pertempuran 10 Nopember 1945, dua pesawat tempur mereka yang melakukan bombardemen berhasil ditembak jatuh oleh pejuang-pejuang Surabaya, selain pilot pesawat, Osborne, korban yang tewas sehari kemudian karena luka parah adalah Brigadir General Robert Guy Loder-Symonds, Komandan Brigade Infantry Inggris.
Akhir dari pertempuran frontal itu sampai tanggal 30 Nopember 1945 rakyat Surabaya gugur diperkirakan 30,000-an, dan dipihak sekutu jatuh korban sekitar 1500-san. Di Kota Pahlawan inilah aku memulai hidupku.
SURABAYA KINI
Kondisi masyarakat Jawa Timur yang terbuka membuat masyarakat Surabaya sebagai msyarakat Ibu Kota Propensinya akan ikut terbuka juga. Hal ini akan mengakibatkan bagi siapa saja baik untuk berkunjung ataupun bermukim akan menjadi betah berada di Surabaya, apalagi masyarakatnya juga humoris, sehingga tidak heran apabila pelopor pelawak di Indonesia banyak yang berasal utamanya dari Kota Pahlawan ini.
Untuk memasuki Kota Surabaya dapat ditempuh paling tidak dari tiga jalur; yang pertama melalui Jalur Selatan, yang kedua dari Jalur Barat dan yang ketiga melalui Jalur Utara. Jalur Selatan biasanya dilalui oleh pendatang dengan jalan darat dari arah bagian timur dan selatan Jawa Timur, misalnya; Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Mojokerto, Blitar dll., dan dengan jalan udara melalui Pelabuhan Udara Juanda, sedangkan Jalur Barat biasanya dilalui oleh orang yang menggunakan jalan darat dari daerah Pantura, dan jalur utara dilalui oleh orang yang datang melalui laut dari Pelabuhan Tanjung Perak, atau melalui Jembatan Suramadu.
Surabaya mempunyai beragam transportasi umum layaknya kota besar lainnya di Indonesia, ada Bis Kota, Mikrolet, dan Becak, dan sebelum tahun 1980-an pernah beroperasi transpotasi massal berupa Trem yang melayani jalur dari Wonokromo sampai ke Pelabuhan Ujung, sedangkan untuk transportasi pribadi ada mobil, dan sepeda. Bahkan kini sedang gencar-gencarnya direncanakan transportasi massal lainnya berupa KRL atau kereta rel listrik yang akan menghubungkan berbagai sudut kota ke sudut-sudut dalam kota lainnya. Adanya ring road baik yang sudah dipakai atau yang masih dalam tahap pembangunan menjadikan Surabaya semakin memberi kemudahan warganya di dalam melakukan pergerakan dengan berkendaraan. Dan dengan ditunjang oleh adanya taman-taman kota, serta pepohonan yang tumbuh di tengah dan tepian jalan raya semakin membuat warganya nyaman di dalam mengendarai kendaraannya.
Hidup di Kota ini sungguh sangat menyenangkan bagiku, masyarakatnya mempunyai karakter terbuka dan suka bergurau, itu kemungkinan disebabkan banyaknya masyarakat dari pulau Madura yang terkenal polos dan kocak untuk mewarnai kehidupan Kota Pahlawan ini. Suatu komunitas yang merupakan bagian penting dari populasi Surabaya karena hampir seluruh pedagang di pasar-pasar tradisional, pedagang barang bekas, dan pekerja harian lepas kebanyakan dari komunitas Suku ini.
Kota ini merupakan bagian terpenting dari hidupku, ia bukan saja tempat aku dimana hidup sampai gelar sarjana aku dapatkan. Yang lebih penting lagi, di Surabaya pada tanggal 9 Desember 1961 aku dilahirkan dari pasangan yang berasal dari suku Madura.
Ayah ketika masih lajang pada awalnya mencoba merantau di kota ini sejak sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Tetapi akhirnya ia menjadi betah untuk tetap hidup sampai akhir hayatnya. Kemudian setelah merdeka menikah dengan gadis tetangga desanya, gadis dusun Secang desa Pakong, kecamatan Modung, Bangkalan. Tidak lama setelah menikmati bulan madu di Desa, kedua orang yang akhirnya menjadi orang tuaku merantau ke Surabaya untuk tinggal di daerah persawahan yang kini dikenal dengan nama Sawah Pulo SR.
Sejak awal ayahku bekerja sebagai buruh harian lepas di sekitar pelabuhan Tanjung Perak. Ini karena modal diri yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal apapun sebelumnya. Namun karena perkerjaan yang berat lalu mencari kerja yang lebih ringan walaupun dengan upah yang lebih rendah. Di Marina, tempat pangkalan Angkatan Laut Belanda sejak sebelum Indonesia merdeka akhirnya ayahku bekerja. Setelah kemerdekaan tempat itu berubah nama menjadi PAL (Penataran Angkatan Laut), ayahku tercatat sebagai pegawai negeri sipil sampai pensiun di tahun 1977. Sedangkan ibuku berjualan ikan segar di Pasar Ngaglek sampai ayah pensiun. Lalu kemudian mereka berdua membuka toko kelontong di rumah. Ini baik bagi ayahku dalam mengisi masa pensiunnya, serta baik pula bagi ibuku selalu di sekitar rumah manakala mereka berdua sudah mulai berusia tua walaupun aku masih duduk di bangku SMP. Aku sangat menyukai hidup di Kota ini. Dan di Kota ini pula ibuku tinggal sampai akhir hidupnya.
Untung bagiku terlahir di Kota Besar dengan fasilitas yang lengkap ini, sehingga aku dapat menyelesaikan pendidikan sarjanaku tanpa harus pindah ke kota lain. Apalagi aku selanjutnya memulai bekerja di Kota ini. Di Kota ini pula aku bertemu dengan istriku, dan di Kota ini pula anakku yang pertama dilahirkan, dialah putriku.
Pengalaman kerja dari Kota Surabaya yang menjadikan aku mendapatkan kerja baru di Abu Dhabi. Lalu kemudian aku dan sekeluarga hijrah dan hidup lama di Abu Dhabi, tepatnya sejak akhir September tahun 1994 aku keluar dari Surabaya menuju Abu Dhabi, merupakan tempat hidup baruku yang dikelilingi oleh padang pasir, Kota yang terkenal kaya karena hasil minyaknya. Di Abu Dhabi inilah putraku dilahirkan, dan nampaknya aku akan hidup di Abu Dhabi sampai masa pensiun tiba nanti. Tujuanku hanya satu, waktu itu, yaitu untuk membangun keluargaku dalam mengarungi kehiduoan selanjutnya terutama bagi anak-anakku.
Kehidupan sungguh terasa singkat, kini kedua anak-anakku sudah menyelesaikan pendidikan mereka selama 12 tahun di Kota yang gemerlap ini sebelum mereka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi mereka di luar negara yang aku tinggali ini. Kini aku dan istriku sudah dipenuhi rambut putih di kepala tidak seperti ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini, mendapatkan rambut putih di kepala harus dicari.
Kini, Surabaya adalah bagian dari suatu nostalgia hidupku dan istriku. Tempat yang tidak akan pernah aku lupakan di dalam hidupku. Tempat yang masih aku harapkan jika kelak aku pensiun aku akan kembali untuk melanjutkan hidup berdua bersama istriku. Untuk itu aku akan tetap merasa bangga sebagai orang dari Surabaya. Kota terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta. Kota dengan fasilitas yang lengkap tetapi tidak se-hiruk-pikuk Ibu Kota Jakarta. Kota besar yang masih memberi toleransi becak tetap melayani penumpang sampai ke tengah kota. Kota yang warganya dikenal dengan istilah Arek Suroboyo.
Surabaya merupakan kota Maritim, status itu lekat karena letaknya secara geografis berada di tepi pantai, mempunyai pelabuhan besar dan ditunjang oleh industri maritim besar seperti PT. Pal dan PT. Dok dan Perkapalan Surabaya, dan industri maritim menengah serta kecil lainnya. Karena letaknya hampir sejajar dengan permukaan laut, maka Surabaya relatif panas, dengan suhu udara panas apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Ketika musim panas, di siang hari suhunya dapat mencapai 34 derajat Celsius dan malam hari suhunya sekitar 27 derajat Ceilsius, dan di waktu musim hujan, suhu siang hari sekitar 27 derajat Celsius dan malam hari sekitar 25 derajat Celsius.
Sejak tahun 1916 Kota yang dibelah oleh Sungai Emas (orang Surabaya menyebutnya Kali Mas) ini, telah disibukkan dengan kegiatan pelabuhan, ini dikarenakan Surabaya merupakan kota pelabuhan yang sangat sibuk seperti kota-kota pelabuhan lainnya di dunia antara lain New York Amerika Serikat, ia memiliki pelabuhan yang baik dan pusat perdagangan yang aktif. Daerah pusat industri dengan pertukaran yang cepat seperti gula, kopi, teh dan tembakau. ia memiliki semacam kompetisi dalam perdagangan dari China.
Di kota inilah Nasionalisme di Indonesia mulai tumbuh di mana untuk pertamakali dilembagakan Partai Nasional pada bulan Mei tahun 1908 bernama Budi Utomo. Kemudian pada tahun 1912 pada Partai Islam bernama Sarikat Islam dengan anggota 2,5 juta orang yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto. Serta dari kota inilah Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno lahir.
KOTA PAHLAWAN
Surabaya terkenal juga dengan sebutan sebagai Kota Pahlawan. Hal ini disebabkan oleh suatu peristiwa pertempuran bersejarah masyarakat Surabaya dalam melawan sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia pada tanggal 10 Nopember 1945. Dimana hal ini untuk melawan menghadapi ancaman Major General Howthorn, Komandan Divisi ke 23 Pasukan Sekutu melalui pamphlet yang disebarkan pada tanggal 27 Oktober 1945 melaui pesawat Dakota yang terbang langsung dari Jakarta agar masyarakat Surabaya menyerahkan senjata hasil rampasan dari tangan tentara Jepang dalam waktu 2x24 jam dan membiarakan Pasukan Sekutu (Ingrris) menetap di Surabaya. Akan tetapi pada tanggal 28 Oktober 1945 Komandan TRI Surabaya Mayor Gendral Yonoseweyo meninstruksikan untuk melakukan perlawanan dengan semboyan penjajah harus angkat kaki dari Bumi Indonesia.
Pasukan sekutu (Inggris) merupakan salah satu pemenang pada Perang Dunia ke-2, mereka datang dengan bangganya Brigade ke-49 bagian dari Divisi ke-23 yang juga dengan berbekal pengalaman perang melawan tentara Jepang di hutan-hutan Birma dengan sandi 'The Fighting Cocks'.
Perlawanan masyarakat Surabaya pada tanggal 28 dan 29 Oktober 1945 memaksa pasukan sekutu untuk mengangkat bendera putih kemudian meminta untuk bernegosiasi, hal ini menyebabkan pamor tentara Inggris jatuh, adanya perlawanan penduduk Surabaya menyebabkan banyaknya korban jatuh di pihak Inggris.
Selama Perang Dunia ke-2 selama lima tahun, tentara Inggris belum pernah kehilangan serang Jendralnya, tetapi di Surabaya yang hanya lima hari bertempur harus kehilangan Brigadir General Mallaby, lebih-lebih pada pertempuran 10 Nopember 1945, dua pesawat tempur mereka yang melakukan bombardemen berhasil ditembak jatuh oleh pejuang-pejuang Surabaya, selain pilot pesawat, Osborne, korban yang tewas sehari kemudian karena luka parah adalah Brigadir General Robert Guy Loder-Symonds, Komandan Brigade Infantry Inggris.
Akhir dari pertempuran frontal itu sampai tanggal 30 Nopember 1945 rakyat Surabaya gugur diperkirakan 30,000-an, dan dipihak sekutu jatuh korban sekitar 1500-san. Di Kota Pahlawan inilah aku memulai hidupku.
SURABAYA KINI
Kondisi masyarakat Jawa Timur yang terbuka membuat masyarakat Surabaya sebagai msyarakat Ibu Kota Propensinya akan ikut terbuka juga. Hal ini akan mengakibatkan bagi siapa saja baik untuk berkunjung ataupun bermukim akan menjadi betah berada di Surabaya, apalagi masyarakatnya juga humoris, sehingga tidak heran apabila pelopor pelawak di Indonesia banyak yang berasal utamanya dari Kota Pahlawan ini.
Untuk memasuki Kota Surabaya dapat ditempuh paling tidak dari tiga jalur; yang pertama melalui Jalur Selatan, yang kedua dari Jalur Barat dan yang ketiga melalui Jalur Utara. Jalur Selatan biasanya dilalui oleh pendatang dengan jalan darat dari arah bagian timur dan selatan Jawa Timur, misalnya; Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Mojokerto, Blitar dll., dan dengan jalan udara melalui Pelabuhan Udara Juanda, sedangkan Jalur Barat biasanya dilalui oleh orang yang menggunakan jalan darat dari daerah Pantura, dan jalur utara dilalui oleh orang yang datang melalui laut dari Pelabuhan Tanjung Perak, atau melalui Jembatan Suramadu.
Surabaya mempunyai beragam transportasi umum layaknya kota besar lainnya di Indonesia, ada Bis Kota, Mikrolet, dan Becak, dan sebelum tahun 1980-an pernah beroperasi transpotasi massal berupa Trem yang melayani jalur dari Wonokromo sampai ke Pelabuhan Ujung, sedangkan untuk transportasi pribadi ada mobil, dan sepeda. Bahkan kini sedang gencar-gencarnya direncanakan transportasi massal lainnya berupa KRL atau kereta rel listrik yang akan menghubungkan berbagai sudut kota ke sudut-sudut dalam kota lainnya. Adanya ring road baik yang sudah dipakai atau yang masih dalam tahap pembangunan menjadikan Surabaya semakin memberi kemudahan warganya di dalam melakukan pergerakan dengan berkendaraan. Dan dengan ditunjang oleh adanya taman-taman kota, serta pepohonan yang tumbuh di tengah dan tepian jalan raya semakin membuat warganya nyaman di dalam mengendarai kendaraannya.
Hidup di Kota ini sungguh sangat menyenangkan bagiku, masyarakatnya mempunyai karakter terbuka dan suka bergurau, itu kemungkinan disebabkan banyaknya masyarakat dari pulau Madura yang terkenal polos dan kocak untuk mewarnai kehidupan Kota Pahlawan ini. Suatu komunitas yang merupakan bagian penting dari populasi Surabaya karena hampir seluruh pedagang di pasar-pasar tradisional, pedagang barang bekas, dan pekerja harian lepas kebanyakan dari komunitas Suku ini.
Kota ini merupakan bagian terpenting dari hidupku, ia bukan saja tempat aku dimana hidup sampai gelar sarjana aku dapatkan. Yang lebih penting lagi, di Surabaya pada tanggal 9 Desember 1961 aku dilahirkan dari pasangan yang berasal dari suku Madura.
Ayah ketika masih lajang pada awalnya mencoba merantau di kota ini sejak sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Tetapi akhirnya ia menjadi betah untuk tetap hidup sampai akhir hayatnya. Kemudian setelah merdeka menikah dengan gadis tetangga desanya, gadis dusun Secang desa Pakong, kecamatan Modung, Bangkalan. Tidak lama setelah menikmati bulan madu di Desa, kedua orang yang akhirnya menjadi orang tuaku merantau ke Surabaya untuk tinggal di daerah persawahan yang kini dikenal dengan nama Sawah Pulo SR.
Sejak awal ayahku bekerja sebagai buruh harian lepas di sekitar pelabuhan Tanjung Perak. Ini karena modal diri yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal apapun sebelumnya. Namun karena perkerjaan yang berat lalu mencari kerja yang lebih ringan walaupun dengan upah yang lebih rendah. Di Marina, tempat pangkalan Angkatan Laut Belanda sejak sebelum Indonesia merdeka akhirnya ayahku bekerja. Setelah kemerdekaan tempat itu berubah nama menjadi PAL (Penataran Angkatan Laut), ayahku tercatat sebagai pegawai negeri sipil sampai pensiun di tahun 1977. Sedangkan ibuku berjualan ikan segar di Pasar Ngaglek sampai ayah pensiun. Lalu kemudian mereka berdua membuka toko kelontong di rumah. Ini baik bagi ayahku dalam mengisi masa pensiunnya, serta baik pula bagi ibuku selalu di sekitar rumah manakala mereka berdua sudah mulai berusia tua walaupun aku masih duduk di bangku SMP. Aku sangat menyukai hidup di Kota ini. Dan di Kota ini pula ibuku tinggal sampai akhir hidupnya.
Untung bagiku terlahir di Kota Besar dengan fasilitas yang lengkap ini, sehingga aku dapat menyelesaikan pendidikan sarjanaku tanpa harus pindah ke kota lain. Apalagi aku selanjutnya memulai bekerja di Kota ini. Di Kota ini pula aku bertemu dengan istriku, dan di Kota ini pula anakku yang pertama dilahirkan, dialah putriku.
Pengalaman kerja dari Kota Surabaya yang menjadikan aku mendapatkan kerja baru di Abu Dhabi. Lalu kemudian aku dan sekeluarga hijrah dan hidup lama di Abu Dhabi, tepatnya sejak akhir September tahun 1994 aku keluar dari Surabaya menuju Abu Dhabi, merupakan tempat hidup baruku yang dikelilingi oleh padang pasir, Kota yang terkenal kaya karena hasil minyaknya. Di Abu Dhabi inilah putraku dilahirkan, dan nampaknya aku akan hidup di Abu Dhabi sampai masa pensiun tiba nanti. Tujuanku hanya satu, waktu itu, yaitu untuk membangun keluargaku dalam mengarungi kehiduoan selanjutnya terutama bagi anak-anakku.
Kehidupan sungguh terasa singkat, kini kedua anak-anakku sudah menyelesaikan pendidikan mereka selama 12 tahun di Kota yang gemerlap ini sebelum mereka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi mereka di luar negara yang aku tinggali ini. Kini aku dan istriku sudah dipenuhi rambut putih di kepala tidak seperti ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini, mendapatkan rambut putih di kepala harus dicari.
Kini, Surabaya adalah bagian dari suatu nostalgia hidupku dan istriku. Tempat yang tidak akan pernah aku lupakan di dalam hidupku. Tempat yang masih aku harapkan jika kelak aku pensiun aku akan kembali untuk melanjutkan hidup berdua bersama istriku. Untuk itu aku akan tetap merasa bangga sebagai orang dari Surabaya. Kota terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta. Kota dengan fasilitas yang lengkap tetapi tidak se-hiruk-pikuk Ibu Kota Jakarta. Kota besar yang masih memberi toleransi becak tetap melayani penumpang sampai ke tengah kota. Kota yang warganya dikenal dengan istilah Arek Suroboyo.
Comments
Post a Comment